Wakil Rektor III UIN Saizu Bagikan Strategi Pengelolaan Masjid Berbasis Kebutuhan Jamaah di Jepang

IBARAKI, JEPANG, UINSAIZU.AC.ID – Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Dr. H. Sunhaji, M.Ag., menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) Manajemen Masjid di Masjid NU At-Taqwa, Koga, Ibaraki, Jepang, Sabtu (31/10/2026). Dalam forum tersebut, ia memaparkan tiga strategi pengelolaan masjid agar berkembang sebagai pusat ibadah, pendidikan Islam, dan pemberdayaan masyarakat diaspora Indonesia.
FGD yang berlangsung selepas salat Isya berjamaah itu diselenggarakan oleh pengurus Masjid NU At-Taqwa di lantai dua gedung masjid yang juga difungsikan sebagai kantor Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) NU At-Taqwa, Eko, Direktur Nine Stars, Ismail, Wakil Ketua Muslimat NU Jepang, Bonita Hyang Paramita, serta sejumlah pengurus masjid. Forum ini menjadi ruang diskusi untuk membahas pengembangan tata kelola masjid agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat Muslim Indonesia yang tinggal di Jepang.
Dalam diskusi tersebut, Bonita Hyang Paramita menceritakan proses berdirinya Masjid NU At-Taqwa yang berawal dari inisiatif dan semangat gotong royong masyarakat diaspora Indonesia. Keinginan untuk memiliki tempat ibadah yang representatif mendorong masyarakat menggalang dukungan secara swadaya. Upaya tersebut kemudian mendapat dukungan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jepang sehingga proses pembebasan tanah dan pembangunan masjid dapat terlaksana.
Sementara itu, Ismail menjelaskan bahwa bangunan Masjid NU At-Taqwa sebelumnya merupakan sebuah pabrik yang kemudian direnovasi menjadi tempat ibadah. Proses renovasi melibatkan kontribusi masyarakat diaspora Indonesia, khususnya yang berada di wilayah Ibaraki.
Menariknya, dukungan terhadap pembangunan masjid datang dari masyarakat Indonesia lintas agama dan suku. Warga diaspora dari kalangan Islam, Nasrani, Hindu, dan Buddha turut berkontribusi dalam proses renovasi. Semangat persatuan sebagai sesama anak bangsa menjadi landasan gotong royong tersebut.
Kisah berdirinya Masjid NU At-Taqwa menunjukkan bahwa solidaritas kebangsaan dapat melampaui perbedaan latar belakang. Di tengah kehidupan masyarakat multikultural Jepang, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah umat Islam, tetapi juga merepresentasikan persaudaraan, toleransi, dan kebersamaan masyarakat Indonesia di perantauan.
Dalam pemaparannya, Prof. Sunhaji menegaskan bahwa pengelolaan masjid di luar negeri membutuhkan pendekatan manajemen yang adaptif, kontekstual, dan berorientasi pada kebutuhan jamaah. Menurutnya, masjid tidak cukup hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga perlu dikembangkan sebagai pusat pendidikan, pembinaan sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
"Pengelolaan masjid harus dimulai dengan memahami lingkungan tempat masjid itu berada, mengenali kebutuhan jamaah, kemudian merumuskan strategi pengembangan yang sesuai. Dengan begitu, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat," jelas Prof. Sunhaji.
Ia mengemukakan tiga aspek strategis yang perlu diperhatikan pengurus dalam mengembangkan manajemen Masjid NU At-Taqwa.
Pertama, memahami sistem pengelolaan rumah ibadah di Jepang. Pengurus masjid perlu mengidentifikasi regulasi, tata kelola, dan ketentuan yang berlaku dalam penyelenggaraan kegiatan keagamaan. Pemahaman tersebut penting agar seluruh aktivitas masjid, termasuk pengajian dan pendidikan Islam, dapat berjalan tertib serta sesuai dengan ketentuan setempat.
Kedua, menganalisis kebutuhan jamaah. Prof. Sunhaji menekankan bahwa program kerja masjid harus disusun berdasarkan kondisi dan kebutuhan nyata masyarakat yang dilayani. Pengurus perlu memahami karakteristik jamaah, mulai dari usia, latar belakang pendidikan, kondisi sosial, hingga kebutuhan spiritual.
"Program masjid tidak boleh hanya disusun berdasarkan keinginan pengurus. Pengurus harus mengetahui siapa jamaah yang dilayani dan apa yang mereka butuhkan. Dengan demikian, setiap program yang dirancang benar-benar tepat sasaran dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," tambahnya.
Ketiga, merumuskan strategi pengembangan masjid. Masjid perlu memiliki visi jangka panjang agar mampu berkembang sebagai pusat ibadah sekaligus lembaga pendidikan Islam yang responsif terhadap perubahan zaman. Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, inovasi program, serta peningkatan kapasitas kelembagaan menjadi bagian penting dalam pengembangan tersebut.
Prof. Sunhaji juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara fungsi utama masjid sebagai tempat ibadah dan pengembangan peran sosial serta edukatifnya. Melalui tata kelola yang baik, masjid dapat menjadi ruang pembelajaran Islam yang inklusif, tempat pembinaan karakter, sekaligus pusat penguatan solidaritas masyarakat diaspora.
Gagasan tersebut diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi pengurus Masjid NU At-Taqwa dalam menyusun program dan arah pengembangan kelembagaan. Pengelolaan yang profesional, sesuai regulasi setempat, dan berorientasi pada kebutuhan jamaah menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan masjid di tengah masyarakat diaspora Indonesia.
Selain membahas penguatan manajemen masjid, FGD ini juga membuka peluang kerja sama internasional antara UIN Saizu, pengurus Masjid NU At-Taqwa, dan Nine Stars. Dr. Novan Ardy Wiyani, M.Pd.I., yang mendampingi Prof. Sunhaji dalam rangkaian kegiatan penelitian dan pengabdian di Jepang, menyampaikan rencana penjajakan kerja sama dalam penyelenggaraan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan magang bagi mahasiswa UIN Saizu.
Menurutnya, kolaborasi tersebut dapat memperluas kesempatan mahasiswa memperoleh pengalaman pembelajaran dan pengabdian masyarakat dalam lingkungan internasional. Melalui program KKN dan magang, mahasiswa berkesempatan mengimplementasikan kompetensi akademik, keagamaan, dan sosial secara langsung di tengah masyarakat diaspora Indonesia di Jepang.
Di sisi lain, keterlibatan mahasiswa juga diharapkan dapat mendukung program pendidikan dan pemberdayaan masyarakat yang diselenggarakan Masjid NU At-Taqwa. Kerja sama ini sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara perguruan tinggi dengan lembaga keagamaan di luar negeri.
Partisipasi Wakil Rektor III UIN Saizu dalam FGD Manajemen Masjid di Ibaraki menjadi bagian dari perluasan kontribusi akademik universitas dalam pengembangan lembaga keagamaan di tingkat internasional. Melalui penguatan jejaring dengan PCINU Jepang, Masjid NU At-Taqwa, dan Nine Stars, UIN Saizu terus membuka peluang kolaborasi dalam bidang pendidikan Islam, pengabdian masyarakat, dan pemberdayaan diaspora Indonesia, sejalan dengan semangat Kampus Desa Mendunia. (AL/SA)
Kampus Desa Mendunia !
#UINSaizu #PesantrenDiaspora #PCINUJepang #ModerasiBeragama #Kampusdesamendunia
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!