Pascasarjana UIN Saizu Perkuat Kepemimpinan Inovatif dan Literasi Multikultural lewat Kuliah Internasional
.webp)
PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Kepemimpinan pendidikan di era global menuntut lebih dari sekadar kemampuan mengelola administrasi. Pemimpin lembaga pendidikan dituntut inovatif, kreatif, adaptif terhadap perubahan, sekaligus mampu membangun lingkungan pendidikan yang inklusif dan menghargai keberagaman.
Perspektif tersebut menjadi pembahasan utama dalam International Public Lecture Series: Multicultural Lecture Series yang diselenggarakan Pascasarjana Universitas Islam Negeri Profesor K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto bekerja sama dengan Eurasia Foundation, 31 Oktober 2026.
Mengusung tema “Entrepreneurial Leadership in Educational Administration: Cultivating Multicultural Literacy and Teacher Creativity in Asia”, kegiatan ini menghadirkan Prof. Imam Machali, akademisi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sebagai pemateri.
Kuliah internasional tersebut mengangkat tiga isu strategis, yakni kepemimpinan kewirausahaan dalam administrasi pendidikan, penguatan literasi multikultural, dan pengembangan kreativitas guru. Ketiganya dinilai memiliki peran penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang responsif terhadap dinamika masyarakat Asia yang memiliki keragaman budaya, bahasa, tradisi, dan nilai sosial.
Direktur Pascasarjana UIN Saizu Purwokerto, Prof. Moh. Roqib, menyampaikan bahwa kepemimpinan kewirausahaan menjadi salah satu kunci dalam membangun lembaga pendidikan yang inovatif, mandiri, dan adaptif terhadap perubahan.
“Kepemimpinan kewirausahaan dalam pendidikan menjadi kunci untuk membangun lembaga yang inovatif, mandiri, dan adaptif terhadap perubahan. Melalui Multicultural Lecture Series ini, kami ingin mendorong penguatan literasi multikultural dan kreativitas guru dalam menghadapi dinamika pendidikan di Asia. Tema ini juga merupakan bagian dari upaya memperluas wawasan global sekaligus melahirkan gagasan baru bagi pengembangan pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Pascasarjana UIN Saizu dalam memperluas ruang dialog akademik internasional sekaligus memperkuat kolaborasi dengan berbagai institusi dan akademisi lintas negara.
Kerja sama dengan Eurasia Foundation menjadi salah satu ruang strategis untuk mempertemukan perspektif akademik, bertukar pengalaman, dan mendiskusikan berbagai pendekatan dalam menjawab tantangan pendidikan global.
Melalui kegiatan ini, Pascasarjana UIN Saizu berharap lahir gagasan dan perspektif baru yang dapat memperkaya pengembangan keilmuan, khususnya dalam bidang manajemen pendidikan, kepemimpinan, dan pendidikan multikultural.
Multicultural Lecture Series sekaligus mempertegas peran Pascasarjana UIN Saizu sebagai ruang pengembangan pemikiran akademik yang terbuka terhadap perkembangan global. Kepemimpinan inovatif, literasi multikultural, dan kreativitas pendidik diharapkan dapat menjadi kekuatan yang saling melengkapi dalam membangun pendidikan yang inklusif, mandiri, dan berdaya saing internasional.
Pada akhirnya, transformasi pendidikan membutuhkan pemimpin yang berani berinovasi, pendidik yang kreatif, serta lembaga yang mampu mengelola keberagaman sebagai kekuatan untuk menciptakan masa depan pendidikan yang lebih baik.
Dalam pemaparannya, Prof. Imam Machali menjelaskan bahwa entrepreneurial leadership merupakan paradigma kepemimpinan yang menekankan visi, inovasi, keberanian mengambil risiko secara terukur, kemampuan membaca peluang, serta kemandirian kelembagaan.
.webp)
Menurutnya, pemimpin pendidikan tidak cukup hanya menjalankan fungsi administratif dan memastikan seluruh kegiatan berjalan sesuai prosedur. Pemimpin harus mampu mengoptimalkan sumber daya, menciptakan nilai tambah, membangun jejaring kolaborasi, serta menghadirkan terobosan yang memberikan manfaat bagi pengembangan lembaga.
Transformasi tersebut menuntut perubahan orientasi pengelolaan pendidikan. Anggaran, sumber daya manusia, aset, dan potensi kelembagaan tidak semestinya hanya dipandang sebagai instrumen operasional, tetapi perlu dikembangkan menjadi kekuatan produktif untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
Pembahasan juga menyinggung perkembangan paradigma pembelajaran, mulai dari pedagogi, andragogi, hingga heutagogi. Perkembangan ini menunjukkan semakin pentingnya memberikan ruang kepada peserta didik untuk menjadi pembelajar mandiri, aktif, dan bertanggung jawab terhadap pengembangan kapasitas dirinya.
Dalam konteks tersebut, kompetensi abad ke-21 yang mencakup critical thinking, collaboration, communication, dan creativity menjadi bekal penting bagi pendidik maupun peserta didik. Kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, berkomunikasi, dan berkreasi diperlukan untuk menciptakan pembelajaran yang dinamis serta terbuka terhadap perubahan.
Aspek lain yang menjadi perhatian dalam Multicultural Lecture Series adalah penguatan literasi multikultural. Di tengah masyarakat Asia yang memiliki latar belakang sosial dan budaya yang beragam, pendidikan memiliki tanggung jawab untuk membangun generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memahami dan menghargai perbedaan.
Guru memiliki peran strategis dalam mewujudkan tujuan tersebut. Tidak hanya sebagai penyampai pengetahuan, guru juga harus mampu menjadi fasilitator pembelajaran yang inklusif, membangun dialog antarbudaya, serta mengembangkan metode pembelajaran kreatif sesuai karakteristik dan kebutuhan peserta didik.
Penguatan literasi multikultural juga membutuhkan growth mindset atau pola pikir bertumbuh. Melalui pola pikir tersebut, pengelola lembaga dan tenaga pendidik didorong untuk terus belajar, terbuka terhadap gagasan baru, serta menjadikan perubahan sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Dengan demikian, keberhasilan lembaga pendidikan tidak hanya diukur melalui capaian akademik, tetapi juga kualitas proses pembelajaran, budaya mutu, efektivitas tata kelola, serta kontribusinya dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.
Dalam kuliah internasional ini, Imam Machali juga mengangkat pentingnya wealth management atau pengelolaan kekayaan dan aset lembaga pendidikan sebagai bagian dari strategi membangun kemandirian finansial.
Dia memperkenalkan empat jalur pengembangan sumber pembiayaan pendidikan, meliputi kontribusi masyarakat dan alumni (student donation), pengembangan unit usaha lembaga (business), dukungan pemerintah (government donation), serta investasi (investment).
Selain itu, potensi filantropi Islam melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) juga dapat dikembangkan sebagai instrumen pendukung keberlanjutan pembiayaan pendidikan. Gagasan ini menegaskan bahwa kepemimpinan kewirausahaan bukan semata-mata berkaitan dengan upaya memperoleh tambahan pendapatan.
Lebih jauh, konsep tersebut menyangkut kemampuan pemimpin dalam mengelola aset, mengembangkan potensi kelembagaan, memperluas jejaring, dan menciptakan sumber daya yang produktif tanpa mengabaikan orientasi utama pendidikan. Kemandirian finansial menjadi salah satu fondasi penting agar lembaga pendidikan mampu menjaga mutu layanan, memperluas akses, serta menjalankan program pengembangan secara berkelanjutan. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!