Prestasi

Masjid Sebagai Pilar Peradaban untuk Kedamaian Dunia

Masjid Sebagai Pilar Peradaban untuk Kedamaian Dunia

Prof. Dr. H. Ridwan, M.Ag.
Rektor Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto

Masjid dalam sejarah Islam tidak pernah hadir hanya sebagai bangunan tempat manusia menunaikan ibadah ritual. Masjid adalah ruang tempat manusia menemukan kembali orientasi hidupnya: mengenal Tuhan, memuliakan sesama, membangun ilmu pengetahuan, meneguhkan solidaritas, dan merawat kehidupan. Karena itu, berbicara tentang masjid sesungguhnya adalah berbicara tentang manusia dan peradaban.

Di tengah dunia yang semakin terkoneksi tetapi sekaligus mudah terfragmentasi oleh konflik, kepentingan politik, ketimpangan, prasangka identitas, dan krisis kemanusiaan, fungsi peradaban masjid menemukan relevansinya kembali.

Dunia tidak hanya membutuhkan kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi. Dunia juga membutuhkan ruang spiritual yang mampu mengembalikan manusia kepada kesadaran bahwa kehidupan harus dibangun di atas martabat, kasih sayang, keadilan, dan perdamaian.

Momentum International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Masjid Istiqlal Jakarta dapat dibaca dalam perspektif tersebut. Pertemuan para imam besar dunia bukan semata perjumpaan para pemimpin agama. Lebih dari itu, ia merupakan ikhtiar menghadirkan spiritualitas ke dalam percakapan global mengenai masa depan kemanusiaan.

Diplomasi Spiritual dan Bahasa Kemanusiaan

Konflik dunia memperlihatkan sebuah paradoks peradaban. Manusia semakin maju dalam menciptakan teknologi, tetapi belum selalu semakin matang dalam mengelola perbedaan. Jarak geografis semakin pendek, tetapi jarak sosial, politik, budaya, bahkan keagamaan masih dapat melebar.

Pada titik inilah diplomasi spiritual menemukan maknanya. Diplomasi spiritual tidak dimaksudkan untuk menggantikan diplomasi politik dan hubungan antarnegara. Ia melengkapinya dengan sesuatu yang sering tidak dapat dijangkau oleh kalkulasi kepentingan: hati nurani manusia.

Politik berbicara tentang kepentingan, hukum berbicara tentang aturan, ekonomi berbicara tentang sumber daya, sedangkan spiritualitas mengingatkan tentang makna dan nilai. Ketika konflik telah membangun tembok kecurigaan, agama seharusnya hadir bukan untuk mempertinggi tembok itu, tetapi membuka pintu dialog.

Para imam dan pemimpin agama memiliki modal moral yang sangat penting. Mereka berbicara kepada komunitas bukan hanya melalui argumentasi, tetapi juga melalui kepercayaan. Karena itu, suara pemimpin agama dapat menjadi kekuatan untuk meredam kebencian, mengikis prasangka, mengembangkan sikap saling menghormati, dan membangun keberanian untuk hidup bersama dalam perbedaan.

Dalam kerangka inilah IGIC memperoleh signifikansi yang lebih luas. Pertemuan para imam besar dunia perlu bergerak melampaui seremoni menuju gerakan moral bersama. Dialog harus menghasilkan kesadaran, kesadaran harus melahirkan komitmen, dan komitmen harus diterjemahkan menjadi tindakan kemanusiaan.

Dari Perjumpaan Menuju Formula Peradaban

Perdamaian tidak cukup dibangun melalui deklarasi. Perdamaian membutuhkan ekosistem. Karena itu, IGIC dapat menjadi ruang baru untuk merumuskan formula strategis bagaimana agama dan para pemimpin agama mengambil bagian dalam membangun peradaban dunia yang lebih manusiawi.

Para imam besar dunia dapat menyatukan pandangan bahwa perbedaan agama, bangsa, etnis, bahasa, dan kebudayaan bukan alasan untuk saling meniadakan. Di sinilah spiritualitas harus bertransformasi menjadi energi sosial. Spiritualitas yang berhenti pada kesalehan individual belum cukup menjawab kompleksitas problem kemanusiaan.

Spiritualitas harus melahirkan kesalehan sosial: membela martabat manusia, menjaga kehidupan, merawat lingkungan, memperjuangkan keadilan, melindungi kelompok rentan, dan menciptakan perdamaian.

Dengan demikian, agama tidak hanya berbicara tentang bagaimana manusia membangun hubungan dengan Tuhan, tetapi juga bagaimana hubungan dengan Tuhan itu tercermin dalam cara memperlakukan manusia lainnya. Semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semestinya semakin besar pula penghormatannya terhadap kehidupan. Inilah fondasi peradaban yang memanusiakan.

Masjid sebagai Pilar Peradaban

Sejarah Islam memberikan pelajaran penting bahwa masjid sejak awal merupakan pusat pembentukan peradaban. Masjid Nabawi di Madinah, misalnya, bukan hanya tempat shalat. Ia menjadi ruang pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, penguatan solidaritas, dan pembentukan masyarakat.

Dari masjid lahir manusia-manusia yang membawa ilmu, etika, dan tanggung jawab sosial ke tengah kehidupan.
Karena itu, ukuran kemakmuran masjid seharusnya tidak berhenti pada kemegahan arsitektur atau banyaknya jamaah. Kemakmuran masjid juga harus dibaca dari seberapa jauh keberadaannya memberi manfaat bagi kehidupan manusia.

Masjid yang hidup adalah masjid yang mampu melahirkan ilmu di tengah kebodohan, persaudaraan di tengah perpecahan, kepedulian di tengah ketimpangan, kesejukan di tengah kebencian, dan perdamaian di tengah konflik.

Dengan perspektif demikian, masjid dapat menjadi salah satu pilar penting dalam membangun peradaban masa depan. Ia menjadi ruang perjumpaan antara iman dan kemanusiaan, spiritualitas dan intelektualitas, kesalehan individual dan tanggung jawab sosial, serta identitas keagamaan dan solidaritas universal.

Masjid tidak boleh menjadi ruang yang menjauhkan manusia dari realitas kehidupan. Sebaliknya, dari masjid manusia memperoleh kekuatan spiritual untuk kembali ke tengah kehidupan dan memperbaikinya.

Masjid Istiqlal sebagai Episentrum Diplomasi Spiritual Dunia

Nama Istiqlal mengandung makna kemerdekaan. Dalam konteks yang lebih luas, kemerdekaan bukan hanya terbebas dari kolonialisme, tetapi juga pembebasan manusia dari kebencian, kekerasan, ketidakadilan, diskriminasi, dan segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat manusia.

Karena itu, Masjid Istiqlal memiliki posisi simbolik yang sangat kuat.
Ketika para imam besar dari berbagai belahan dunia berkumpul di Masjid Istiqlal, yang dipertemukan bukan hanya tokoh-tokoh agama. Yang dipertemukan adalah pengalaman, tradisi, kebudayaan, persoalan kemanusiaan, dan harapan masyarakat dunia.

Dari Jakarta, sebuah pesan dapat dikirimkan kepada dunia bahwa agama memiliki kekuatan untuk menjadi jembatan, bukan tembok; energi perdamaian, bukan legitimasi konflik; dan sumber kasih sayang, bukan kebencian.

Dalam perspektif ini, Masjid Istiqlal dapat berkembang sebagai salah satu episentrum diplomasi spiritual para imam dunia. Bukan karena kemegahan fisiknya semata, tetapi karena gagasan kemanusiaan yang diproduksi dan gerakan perdamaian yang dilahirkan darinya.

Indonesia memiliki modal sosial dan kultural yang penting untuk mengambil peran tersebut. Kehidupan masyarakat yang plural memberikan pengalaman panjang tentang bagaimana agama, budaya, kebangsaan, dan keberagaman dinegosiasikan dalam ruang kehidupan bersama. Pengalaman itu dapat menjadi kontribusi Indonesia bagi percakapan global mengenai masa depan perdamaian.

Dari Masjid untuk Dunia

Pada akhirnya, tantangan terbesar agama bukan sekadar bagaimana membuat manusia semakin religius, tetapi bagaimana religiositas membuat kehidupan semakin manusiawi.

Dunia membutuhkan agama yang menghadirkan harapan ketika manusia diliputi kecemasan; menghadirkan dialog ketika masyarakat terpolarisasi; menghadirkan kasih sayang ketika kebencian berkembang; dan menghadirkan perdamaian ketika kekerasan dianggap sebagai jalan penyelesaian.

Di sinilah masjid menemukan kembali panggilan peradabannya. Masjid harus menjadi tempat manusia bersujud kepada Tuhan sekaligus belajar menghormati manusia. Dari sujud lahir kerendahan hati. Dari kerendahan hati lahir kesediaan mendengar. Dari kesediaan mendengar tumbuh dialog. Dari dialog tumbuh saling memahami. Dan dari saling memahami terbuka jalan menuju perdamaian.

Maka, International Grand Imams Conference 2026 semestinya tidak berhenti ketika para imam meninggalkan Masjid Istiqlal. Justru pada saat itulah pekerjaan besar dimulai: membawa semangat perjumpaan tersebut kembali ke negara, komunitas, masjid, lembaga pendidikan, dan masyarakat masing-masing.

Masjid Istiqlal dapat menjadi titik berangkat bagi lahirnya jejaring spiritual global yang menghubungkan para pemimpin agama dalam satu komitmen kemanusiaan: menjaga kehidupan, memuliakan manusia, merawat bumi, dan membangun perdamaian.

Jika dahulu masjid menjadi salah satu pusat lahirnya peradaban Islam, maka pada abad ke-21 masjid harus kembali mengambil peran strategisnya bukan untuk membangun peradaban yang eksklusif bagi satu kelompok, tetapi ikut membangun peradaban kemanusiaan yang damai bagi semua.

Sebab puncak keberagamaan bukanlah ketika manusia merasa paling dekat dengan Tuhan sambil menjauh dari sesamanya. Puncak keberagamaan adalah ketika kedekatan kepada Tuhan melahirkan keberanian untuk menjaga martabat setiap manusia. Dari masjid kita bersujud kepada Tuhan. Dari masjid pula kita berdiri untuk kemanusiaan. Dan dari masjid, kita merajut perdamaian untuk dunia. (AR)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *