Berita

International Public Lecture Pascasarjana UIN Saizu Bahas Gender, Sinema, dan Islam dalam Masyarakat Asia

International Public Lecture Pascasarjana UIN Saizu Bahas Gender, Sinema, dan Islam dalam Masyarakat Asia

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Pascasarjana Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto kembali memperkuat ruang dialog akademik internasional melalui International Public Lecture Series bertajuk “Multiculturalism and Literacy in the Asian Community.”

Salah satu sesi dalam forum tersebut mengangkat tema “Gender, Cinema and Islam” dengan menghadirkan Haryadi, Ph.D. sebagai narasumber. Diskusi membahas hubungan antara gender, agama, budaya, dan media, khususnya bagaimana sinema merepresentasikan realitas masyarakat Asia.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Pascasarjana UIN Saizu memperluas wawasan mahasiswa melalui dialog lintas disiplin dan budaya. Tema tersebut dinilai relevan dengan dinamika masyarakat Asia yang memiliki keragaman agama, tradisi, budaya, serta pengalaman sosial.

Direktur Pascasarjana UIN Saizu Purwokerto, Prof. Moh. Roqib, mengatakan pembahasan mengenai Gender, Cinema and Islam menunjukkan luasnya cakupan multikulturalisme dan literasi dalam konteks masyarakat Asia. “Persoalan gender tidak hanya menjadi isu sosial, tetapi juga berkaitan dengan pendidikan, agama, budaya, media, dan perkembangan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, literasi tidak sebatas kemampuan membaca teks. Literasi juga mencakup kemampuan membaca realitas sosial dan budaya yang hadir melalui berbagai media, termasuk film.

Melalui International Public Lecture Series, Pascasarjana UIN Saizu terus membuka ruang akademik bagi mahasiswa dan sivitas akademika untuk mendiskusikan isu-isu kontemporer dari perspektif lintas disiplin dan budaya.

Forum tersebut sekaligus menjadi bagian dari penguatan internasionalisasi akademik Pascasarjana UIN Saizu serta pengembangan dialog mengenai pendidikan, agama, budaya, media, gender, dan dinamika masyarakat Asia.

Dalam pemaparannya, narasumber Haryadi menjelaskan bahwa sinema tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan. Film juga menjadi ruang produksi dan reproduksi makna sosial melalui karakter, dialog, alur cerita, simbol visual, serta berbagai bentuk representasi lainnya.

Menurutnya, film dapat memengaruhi cara masyarakat memahami identitas, relasi gender, agama, dan kehidupan sosial. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan literasi kritis ketika membaca pesan dan representasi yang hadir dalam sebuah film.

“Film memiliki kekuatan untuk merepresentasikan realitas sosial sekaligus membentuk cara pandang masyarakat terhadap realitas tersebut. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan literasi yang kritis ketika membaca representasi gender dan agama dalam sinema,” jelas Haryadi.

International Public Lecture Pascasarjana UIN Saizu Bahas Gender, Sinema, dan Islam dalam Masyarakat Asia

Dia menekankan bahwa kajian Gender, Cinema and Islam perlu ditempatkan dalam konteks masyarakat Asia yang memiliki keragaman budaya dan pengalaman sosial. Representasi laki-laki dan perempuan dalam film tidak terlepas dari konstruksi budaya dan nilai yang berkembang di masyarakat.

Salah satu pembahasan dalam forum tersebut adalah representasi perempuan Muslim dalam sinema. Haryadi mengajak peserta mencermati bagaimana perempuan Muslim ditampilkan melalui berbagai karakter dan peran, mulai dari ibu, istri, pelajar, pekerja, pemimpin, hingga individu yang memiliki pilihan dan agensi dalam kehidupannya.

Penggunaan simbol keislaman dalam film juga perlu dibaca secara kritis. Misalnya, kehadiran hijab tidak hanya dilihat sebagai simbol identitas keagamaan, tetapi juga dikaji berdasarkan posisi karakter perempuan dalam relasi sosial serta ruang yang diberikan kepadanya untuk mengambil keputusan.

Pembacaan tersebut dapat membantu mahasiswa membedakan nilai-nilai ajaran Islam dengan konstruksi budaya tertentu yang berkembang di masyarakat. Dengan demikian, kajian gender dan Islam tidak sekadar menilai karakter dalam film, tetapi juga memahami hubungan antara agama, budaya, media, dan kehidupan sosial.

Haryadi juga membahas kecenderungan narasi dalam sejumlah film Indonesia. Menurutnya, terdapat film yang mempertahankan konstruksi relasi gender yang telah berkembang di masyarakat, sementara film lainnya menghadirkan pendekatan kritis dengan mempertanyakan atau mendekonstruksi sejumlah konstruksi patriarkal.

Dalam konteks tersebut, film dapat menjadi media untuk membaca persoalan sosial sekaligus ruang kritik terhadap berbagai fenomena gender. Sementara pada film bergenre Islam, sinema juga dapat menjadi medium penyampaian pesan keagamaan melalui cerita, karakter, dan konflik yang dihadirkan.

Konteks masyarakat Asia yang beragam juga membuat representasi gender dan agama dalam sinema memiliki bentuk yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut menjadi bahan pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami pengaruh konteks sosial, budaya, agama, dan sejarah terhadap pengalaman perempuan dan laki-laki.

Haryadi mendorong mahasiswa agar tidak menjadi penonton pasif. Film, menurutnya, perlu dibaca melalui pendekatan literasi kritis dengan mempertanyakan bagaimana karakter dibentuk, siapa yang memiliki kuasa dalam cerita, nilai apa yang disampaikan, serta bagaimana representasi tersebut berpotensi memengaruhi persepsi masyarakat. (AR/SA)

Kampus Desa Mendunia!

#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *