Berita

Dari Kebun Cabai ke Jiwa Wirausaha, KKN Tematik UIN Saizu Dorong Kemandirian Santri di Darul Ulum Sirau

Dari Kebun Cabai ke Jiwa Wirausaha, KKN Tematik UIN Saizu Dorong Kemandirian Santri di Darul Ulum Sirau

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Tanaman cabai di lingkungan Pondok Pesantren Darul Ulum Sirau Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas bukan sekadar komoditas pertanian. Dari kebun tersebut, tumbuh peluang pembelajaran dan kewirausahaan yang terus dikembangkan untuk mendorong kemandirian santri.

Potensi inilah yang diperkuat melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) KKN Tematik UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, melalui Seminar Santripreneur bertema “Membangun Jiwa Entrepreneur Santri: Dari Peluang Menjadi Usaha.”

Dalam kesempatan itu, Tim KKN Tematik UIN Saizu memberikan penguatan pengetahuan mengenai budidaya cabai sekaligus membuka perspektif santri terhadap peluang usaha berbasis potensi lokal. Kegiatan berlangsung di Pondok Pesantren Darul Ulum Sirau, Minggu (20/9/2026).

Kegiatan PkM tersebut dilaksanakan oleh Saiful Arifin, Perencana Ahli Pertama UIN Saizu Purwokerto, bersama mahasiswa UIN Saizu, yakni Ghaitsa Siti Humaira Syihab dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Muhammad Helmi Raihan dari Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), serta Muhammad Khothibul Umam dari FTIK.

Seminar menghadirkan Dr. Purwanto, Ketua Program Studi S2 Agronomi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), sebagai narasumber. Budidaya cabai di Pondok Pesantren Darul Ulum Sirau bukan usaha yang baru dimulai. Pengelolaan tanaman tersebut telah berjalan dan menghasilkan produksi yang cukup potensial.

Dalam satu kali pemetikan, hasil panen cabai dapat mencapai sekitar 70–80 kilogram. Capaian tersebut menjadi modal konkret untuk mengembangkan kegiatan pertanian pesantren menjadi bagian dari pembelajaran kewirausahaan bagi para santri.

Karena itu, KKN Tematik UIN Saizu tidak datang untuk memulai usaha dari nol. Pendampingan diarahkan untuk memperkuat pengetahuan dan pengelolaan potensi yang sudah dimiliki pesantren agar dapat dikembangkan secara lebih baik dan berkelanjutan.

Dalam seminar, Dr. Purwanto membekali peserta dengan pengetahuan teknis budidaya cabai, mulai dari pemilihan benih, persemaian, persiapan lahan, penanaman, pemupukan, pemeliharaan, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), hingga panen.

Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai faktor lingkungan yang memengaruhi keberhasilan budidaya cabai. Tanaman cabai dapat dibudidayakan pada dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 0–1.000 meter di atas permukaan laut. Tanah yang ideal untuk budidaya cabai antara lain memiliki struktur gembur, subur, kaya bahan organik, serta tingkat keasaman atau pH sekitar 6–7.

Selain kondisi lahan, kualitas benih menjadi salah satu faktor penting dalam budidaya cabai. Peserta dikenalkan dengan karakteristik benih bermutu, antara lain memiliki daya kecambah di atas 80 persen, sehat, bersih, memiliki vigor yang baik, serta sesuai dengan kondisi iklim, musim tanam, dan kebutuhan pasar.

Pengetahuan tersebut penting karena keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan saat tanaman mulai ditanam. Pengelolaan persemaian, pemupukan, pemeliharaan, serta pengendalian hama dan penyakit turut menentukan produktivitas tanaman.

Dari Kebun Cabai ke Jiwa Wirausaha, KKN Tematik UIN Saizu Dorong Kemandirian Santri di Darul Ulum Sirau

Peserta juga mendapatkan pengetahuan mengenai sejumlah organisme pengganggu tanaman yang dapat menyerang cabai, seperti lalat buah, kutu kebul, thrips, kutu daun, dan ulat grayak. Sementara itu, beberapa penyakit yang perlu diwaspadai antara lain antraknosa atau patek, layu Fusarium dan bakteri, bercak daun, serta penyakit yang disebabkan virus.

Dari sisi produksi, tanaman cabai dapat mulai dipanen sekitar 60–75 hari setelah tanam dan selanjutnya dipanen secara bertahap dengan interval sekitar 3–7 hari, tergantung kondisi tanaman dan tingkat kematangan buah.

Bagi UIN Saizu, penguatan budidaya cabai tersebut tidak berhenti pada peningkatan produksi. Lebih jauh, kegiatan ini diarahkan untuk membangun cara berpikir kewirausahaan di kalangan santri. Hasil panen 70–80 kilogram dalam satu kali petik menjadi contoh nyata bahwa potensi di lingkungan pesantren dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif.

Dari hasil tersebut, santri dapat belajar mengenai kesinambungan produksi, kualitas hasil pertanian, pengelolaan usaha, hingga peluang pemasaran. Konsep santripreneur yang diperkenalkan melalui kegiatan tersebut mendorong santri agar tidak hanya memiliki bekal pengetahuan keagamaan, tetapi juga keterampilan produktif yang dapat dikembangkan setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren.

Pertanian menjadi salah satu ruang pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan, keterampilan, kerja sama, kedisiplinan, dan keberanian melihat peluang. Kegiatan PkM KKN Tematik UIN Saizu di Darul Ulum Sirau sekaligus menunjukkan pendekatan pengabdian yang berangkat dari potensi masyarakat.

Alih-alih menghadirkan program yang sepenuhnya baru, tim PkM mengidentifikasi potensi yang telah berjalan di pesantren kemudian memperkuatnya melalui transfer pengetahuan dan perspektif akademik.

Kolaborasi tersebut mempertemukan pengalaman praktis pengelola pesantren dengan pengetahuan akademik dari perguruan tinggi. Kehadiran Saiful Arifin bersama mahasiswa UIN Saizu juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan kontribusi perguruan tinggi secara langsung di tengah masyarakat.

Bagi UIN Saizu, kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Sementara bagi mahasiswa, keterlibatan dalam kegiatan PkM menjadi ruang untuk belajar mengidentifikasi persoalan, membangun komunikasi dengan masyarakat, serta menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama berada di lingkungan kampus.

Pada akhirnya, kebun cabai di Pondok Pesantren Darul Ulum Sirau tidak hanya berbicara tentang hasil panen. Di balik tanaman yang tumbuh dan berbuah, terdapat proses pembelajaran tentang kemandirian, pengelolaan potensi lokal, dan keberanian membangun usaha.

Melalui KKN Tematik, UIN Saizu mendorong agar potensi sederhana di lingkungan pesantren dapat berkembang menjadi sumber pembelajaran sekaligus membuka jalan bagi lahirnya santri yang memiliki jiwa kewirausahaan dan mampu mengembangkan potensi di lingkungannya secara berkelanjutan. (AR)

Kampus Desa Mendunia!

#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *