Artikel

Menahan Napas Sebelum Kata; Jarak Antara Emosi dan Bahasa dalam Puisi

Menahan Napas Sebelum Kata; Jarak Antara Emosi dan Bahasa dalam Puisi

Oleh: Wahyu Abid Nur Royan
Mahasiswa Program Studi Bimbingan Konseling Islam, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Hawa panas Purbalingga, debu yang menempel di kerah jaket, dan letih fisik setelah mengantar pesanan ShopeeFood dengan Honda Beat Street merupakan realitas sehari-hari yang menguras tenaga.

Di kampus, tugas sebagai penanggung jawab (PJ) kelas 1 BKI A menuntut perhatian yang tak kalah besar. Kepala saya kerap dipenuhi dering notifikasi untuk memantau presensi, menyampaikan pengumuman dosen, hingga memastikan berbagai urusan kelas berjalan sebagaimana mestinya.

Ketika hiruk-pikuk aspal jalanan dan urusan manajerial kelas itu bertumpuk di penghujung hari, rasa sesak di dada seolah meronta, menuntut jalan keluar. Pada titik itulah saya sering berhadapan dengan satu pertanyaan: ke mana semua emosi yang menumpuk itu harus saya bawa?

Ketika Emosi Menulis Lebih Dulu

Dalam kondisi pikiran yang mendidih, dorongan untuk menumpahkan segala sesuatu biasanya datang lebih dahulu. Saya terbiasa menepi sejenak, mematikan mesin motor, lalu merogoh gawai. Luapan perasaan yang masih panas itu segera saya tuangkan ke dalam aplikasi catatan.

Draf awal beberapa puisi saya, termasuk Buronan Pondok dan Jeda di Atas Aspal, lahir dari ritme yang serba tergesa tersebut. Jari bergerak cepat di atas layar gawai, seolah menjadi katup penyelamat untuk mengeluarkan segala yang menyesakkan dada sebelum saya kembali menarik tuas gas dan melanjutkan perjalanan.

Pada saat itu, saya merasa bahwa menulis adalah cara paling cepat untuk menyelamatkan diri dari kepenuhan emosi. Apa pun yang muncul dalam pikiran saya tuliskan. Tidak banyak pertimbangan tentang bentuk, pilihan kata, ataupun bagaimana pembaca kelak memaknainya. Yang penting, perasaan itu keluar.

Ketika Kejujuran Belum Menjadi Puisi

Namun, ketika malam tiba dan saya membaca kembali catatan tersebut, selalu ada sesuatu yang terasa mengganjal. Tulisan itu memang merekam kejujuran, tetapi sekaligus terasa berantakan dan terlalu bising.

Membaca teks mentah itu seperti melihat pantulan wajah sendiri ketika sedang terlalu marah, terlalu lelah, atau terlalu bersemangat. Emosi yang begitu kuat justru membuat makna terkunci di dalam diri saya sendiri.

Ia belum mampu menyeberang menjadi perenungan yang dapat dirasakan oleh orang lain. Tulisan tersebut masih berhenti sebagai catatan harian pribadi, belum menjelma menjadi puisi yang mengundang pembaca untuk ikut mengalami dan merasakan.

Untuk mengurai keresahan tersebut, saya meminjam kacamata Prof. Abdul Wachid B.S. Melalui pemaparannya mengenai proses kreatif puisi dalam buku Creative Writing (Wachid B.S., 2020, hlm. 4, 6), beliau mengingatkan bahwa sebuah peristiwa perlu diendapkan sebelum diubah menjadi teks.

Pemikiran tersebut perlahan mengubah cara saya memahami pengalaman sendiri. Saya menyadari bahwa letupan perasaan di atas motor memang jujur dan berharga, tetapi ia masih merupakan bahan mentah. Ia belum selesai. Ia membutuhkan jarak agar dapat dipandang kembali dengan lebih jernih.

Dari sinilah saya mulai memahami makna pengendapan. Menciptakan jeda antara emosi dan bahasa bukan berarti melarikan diri dari pengalaman faktual. Sebaliknya, jeda justru memberi kesempatan kepada pengalaman itu untuk menemukan bentuk dan maknanya sendiri.

Memberi Jarak pada Pengalaman

Jarak, bagi saya, bukan sekadar soal waktu. Jarak adalah perubahan posisi batin: dari seseorang yang sedang dihimpit oleh sebuah peristiwa menjadi seorang pengamat yang mampu membaca kembali ceritanya sendiri.

Kini, catatan-catatan lepas yang saya tulis di pinggir jalan tidak lagi saya anggap sebagai puisi yang sudah selesai. Saya menjadikannya sekadar kerangka dasar. Setelah itu, saya membiarkannya mengendap.

Biasanya, ketika keletihan fisik mulai surut dan saya sudah duduk tenang di rumah, menemani kucing oren peliharaan saya makan daging rebus, catatan itu saya buka kembali. Pada saat itulah saya mulai membedahnya: mana yang sekadar luapan emosi, mana yang memiliki makna, dan mana yang layak dipertahankan sebagai bahasa puisi.

“Menunda ego pribadi demi menyusun pengumuman dengan kepala dingin ternyata sangat mirip dengan menunda luapan perasaan di atas gawai demi menemukan bahasa puisi yang utuh.”

Dari Luapan Menjadi Makna

Pada draf awal puisi Jeda di Atas Aspal, terdapat baris-baris panjang yang berisi rutukan tentang matahari terik dan persendian yang terasa hancur. Saat pertama kali menulisnya, kalimat-kalimat tersebut terasa tepat karena memang demikian yang saya rasakan.

Namun, ketika saya membacanya kembali dari posisi batin yang berbeda, kemarahan itu terasa berlebihan. Saya kemudian menggantinya dengan deskripsi visual yang lebih tenang: rintik keringat yang perlahan jatuh melintasi kaca spion motor.

Perubahan kecil itu justru membuat kepenatan terasa lebih kuat. Saya tidak lagi mengatakan bahwa tubuh saya lelah. Saya membiarkan pembaca melihat sendiri tanda-tanda kelelahan tersebut. Di situlah saya mulai memahami bahwa puisi tidak selalu membutuhkan teriakan untuk menyampaikan sesuatu yang keras.

Proses yang sama juga menyelamatkan puisi Buronan Pondok. Ketika nostalgia sedang meluap, pada awalnya saya hanya ingin menceritakan ketegangan aksi pelarian dan keberanian mendobrak aturan pondok. Namun, setelah pengalaman itu saya beri jeda, saya menyadari bahwa inti peristiwanya bukanlah kenakalan.

Yang sebenarnya ingin saya abadikan adalah ikatan persahabatan. Karena itu, saya memfokuskan lensa pada satu detail kecil: momen ketika kami membagi rata satu botol air di bawah lampu lalu lintas yang hampir mati. Detail sederhana tersebut justru membawa saya pada makna yang lebih dalam. Cerita tentang kenakalan remaja perlahan berubah menjadi cerita tentang persahabatan dan kenangan.

Semua itu kemudian menemukan bentuknya dalam dua larik penutup puisi saya: Hanya sebuah botol air, kita membeli kenangan yang tidak dijual di toko mana pun.

Dari sana saya belajar bahwa pengalaman tidak selalu menjadi bermakna karena peristiwa yang besar. Terkadang, makna justru bersembunyi dalam detail kecil yang baru terlihat setelah emosi mereda.

Prinsip menahan reaksi ini ternyata berlaku jauh di luar proses penulisan. Sebagai PJ kelas, saya kerap menghadapi perubahan jadwal kuliah secara mendadak. Jika saya meresponsnya dengan panik, kekacauan akan mudah merambat ke seluruh grup kelas. Karena itu, saya belajar mengambil jeda, memahami situasi, lalu menyusun pengumuman dengan kepala yang lebih dingin.

Menunda ego pribadi demi menyusun pengumuman dengan kepala dingin ternyata sangat mirip dengan menunda luapan perasaan di atas gawai demi menemukan bahasa puisi yang utuh. Keduanya membutuhkan jarak. Keduanya membutuhkan kemampuan untuk tidak langsung bereaksi.

Kini, daripada terburu-buru memuntahkan segala sesuatu seketika di atas jok motor, saya lebih memilih menyimpannya sebagai sketsa. Saya membiarkan kejadian itu mengendap. Saya memberi waktu bagi batin untuk mengambil jarak dari peristiwa yang baru saja terjadi.

Sebab, mungkin, kata-kata yang paling jujur bukanlah kata-kata yang paling cepat keluar. Ada sesuatu yang perlu ditahan sebelum ia menjadi bahasa. Ada emosi yang perlu diberi waktu sebelum ia berubah menjadi makna. Dan ada pengalaman yang harus dijauhkan sejenak agar dapat dilihat dengan lebih utuh.

Pada akhirnya, menulis bagi saya bukan sekadar tentang bagaimana mengeluarkan apa yang ada di dalam kepala dan dada. Menulis adalah tentang bagaimana memberi kesempatan kepada emosi untuk menemukan bentuk yang lebih jernih.

Karena itu, sebelum kata pertama dituliskan, saya belajar melakukan satu hal sederhana: menahan napas sebelum kata. (AR)

Tentang Penulis

Wahyu Abid Nur Royan adalah mahasiswa Program Studi Bimbingan Konseling Islam di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto. Tulisan ini merupakan salah satu bentuk refleksinya dalam memahami proses pengolahan emosi menjadi teks, yang berangkat dari pengalaman personal saat menyusun karya seperti Buronan Pondok dan Jeda di Atas Aspal.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *