Melampaui Fakta Permukaan: Menimbang Teknik Reportase dalam Penulisan Kreatif

Oleh: Fahri Fardiansyah
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam
UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
Dari Fakta Menuju Pemahaman
Sebuah kegiatan dapat berlangsung selama berjam-jam, melibatkan banyak orang, dan menghasilkan banyak peristiwa. Namun, ketika kegiatan itu ditulis menjadi berita, hanya sebagian kecil yang akhirnya masuk ke dalam tulisan. Nama kegiatan, waktu, tempat, jumlah peserta, susunan acara, dan pernyataan penyelenggara biasanya menjadi informasi pertama yang dicatat. Semua itu penting, tetapi kemudian muncul satu pertanyaan: apakah banyaknya fakta sudah cukup membuat sebuah tulisan mampu menjelaskan suatu peristiwa?
Pertanyaan itu terasa dekat bagi saya karena pernah menulis berita kegiatan kepramukaan. Ketika menulis, perhatian saya lebih banyak tertuju pada kelengkapan informasi. Saya ingin memastikan siapa yang terlibat, apa kegiatannya, di mana kegiatan berlangsung, dan bagaimana rangkaiannya. Hasilnya memang informatif. Namun, ketika membaca kembali tulisan tersebut, saya mulai menyadari bahwa sebuah peristiwa dapat selesai dilaporkan tanpa benar-benar selesai dipahami. Pembaca mengetahui apa yang terjadi, tetapi belum tentu mengetahui mengapa peristiwa itu penting.
Persoalan tersebut menemukan pijakan ketika saya membaca buku Creative Writing: Menulis Kreatif Puisi, Prosa Fiksi, dan Prosa Non-Fiksi karya Abdul Wachid B.S. dan kawan-kawan, yang diterbitkan oleh Cinta Buku di Yogyakarta pada 2020. Di dalam buku itu terdapat bagian “Teknik Reportase” karya Teguh Trianton. Bagian ini menarik karena reportase tidak dijelaskan hanya sebagai kegiatan mencari informasi. Pada halaman 107, Trianton menerangkan bahwa reportase mencakup kegiatan meliput dan mengumpulkan fakta dari berbagai sumber, kemudian menuliskannya menjadi berita. Wawancara hanya menjadi salah satu teknik dalam proses tersebut (Trianton, 2020, hlm. 107). Penjelasan ini efektif bagi pembaca pemula karena sejak awal membedakan reportase sebagai proses yang luas dan wawancara sebagai salah satu cara memperoleh bahan.
Bagian yang paling membantu saya memahami reportase adalah penjelasan tentang tiga lapisan peliputan. Lapisan pertama berisi fakta permukaan yang dapat berasal dari siaran pers (press release), konferensi pers, rekaman pidato, dan sumber sejenis. Bahan tersebut berguna, tetapi masih banyak dikendalikan oleh sumber awal sehingga berpotensi menampilkan peristiwa hanya dari satu sisi. Pada lapisan kedua, reporter melakukan pelaporan sendiri melalui verifikasi, observasi langsung, pengecekan latar belakang, dan pencarian informasi di luar kendali sumber awal. Lapisan ketiga bergerak menuju interpretasi dan analisis terhadap arti penting, penyebab, dan akibat suatu peristiwa (Trianton, 2020, hlm. 110).
Pembagian menjadi tiga lapisan merupakan kekuatan utama uraian Trianton karena memperlihatkan pergerakan reporter dari bahan awal menuju pemeriksaan dan pemaknaan. Contoh pemeriksaan keterangan humas PT Lapindo Brantas melalui kunjungan ke lokasi dan wawancara dengan warga terdampak menunjukkan bagaimana observasi dan sumber lain digunakan untuk menguji informasi awal (Trianton, 2020, hlm. 110). Urutan ini lebih berguna bagi pembaca pemula daripada sekadar daftar teknik karena menjelaskan alasan reporter perlu menggali informasi lebih jauh.
Menguji Teori di Lapangan
Saya menguji gagasan tersebut pada tulisan saya berjudul “Jambore Ranting Kwarran Karanganyar Sukses Digelar, Usung Tema ‘Berbudaya, Berkarakter, Berkarya’”, yang terbit di Pramuka Jateng pada 19 Agustus 2024. Tulisan tersebut mencatat lokasi kegiatan di Lapangan Desa Ponjen, tanggal pelaksanaan pada 14–16 Agustus 2024, peserta dari SD/MI dan SMP/MTs, serta kegiatan seperti kreasi kepramukaan, napak tilas, pentas seni, Prolingsih, pembuatan eco enzyme, dan eco brick (Fardiansyah, 2024).
Dengan menggunakan kerangka tiga lapisan Trianton, saya menyadari bahwa tulisan tersebut masih didominasi fakta permukaan. Rangkaian kegiatan telah dicatat, tetapi pelaporan mandiri melalui pemeriksaan pengalaman peserta belum dikembangkan secara memadai. Makna dan hasil kegiatan pun belum didukung bukti yang cukup. Karena itu, hasil belajar belum dapat dinilai berdasarkan berita tersebut. Keterbatasan bukti ini tidak berarti bahwa kegiatan tersebut gagal memberikan pembelajaran.
Saya hadir langsung, tetapi susunan acara menjadi bahan utama penulisan. Kehadiran di lokasi membuka peluang untuk melakukan observasi, tetapi tidak dapat menggantikan pemeriksaan melalui sumber lain. Verifikasi diperlukan untuk menguji ketepatan rincian, sedangkan pendalaman makna dilakukan untuk menggali pengalaman peserta dan arti kegiatan. Kesan peserta pada saat kegiatan berlangsung belum cukup untuk menyimpulkan adanya perubahan kebiasaan setelah jambore. Hal itu memerlukan penelusuran lanjutan. Karena tujuan awal tulisan adalah memperkenalkan kegiatan di Karanganyar, ketiadaan analisis dampak tidak serta-merta menjadikan tulisan tersebut kurang baik.
Juditha (2013) menilai akurasi berita daring berdasarkan pemeriksaan dan pemeriksaan ulang (cek dan ricek), ketepatan data, relevansi sumber, kesesuaian judul dan isi, serta kecocokan foto. Kerangka tersebut membantu memeriksa ketepatan fakta, tetapi tidak dengan sendirinya menunjukkan kedalaman reportase atau pengalaman peserta.
Jika menulis kembali, saya akan mencocokkan susunan acara dengan catatan pengamatan dan mengonfirmasi rincian yang belum jelas. Untuk memahami arti kegiatan, saya akan menanyakan bagian yang paling dipahami peserta, pelajaran yang diperoleh dari pembuatan eco enzyme atau eco brick, serta hubungan tema “Berbudaya, Berkarakter, Berkarya” dengan pengalaman mereka. Jawaban tersebut akan dibandingkan dengan keterangan pembina atau penyelenggara. Temuan itu dapat memperkaya tulisan, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan adanya perubahan perilaku dalam jangka panjang.
Dari Teknik Reportase ke Verifikasi Digital
Pengujian terhadap tulisan sendiri membuat uraian Trianton terasa praktis. Dalam bagian “Membuat, Menggagas Berita”, ia mendorong reporter untuk berinisiatif melihat potensi berita di masyarakat dan memilih sudut pandang yang bernilai bagi pembaca (Trianton, 2020, hlm. 112–113). Bagi penulis pemula, gagasan ini menggeser posisi reporter dari pencatat pasif menjadi pencari persoalan.
Kekuatan praktis lainnya terlihat pada pembahasan wawancara dan penulisan hasil reportase. Pada bagian “Wawancara yang Baik”, Trianton mengarahkan reporter untuk menyiapkan materi, mengenali narasumber, menghindari pertanyaan yang terlalu umum, dan menyusun pertanyaan yang langsung mengarah pada pokok persoalan (Trianton, 2020, hlm. 115). Pada bagian berikutnya, proses reportase disusun mulai dari menggali informasi awal, melakukan konfirmasi, mendokumentasikan data, menentukan sudut pandang, menulis isi berita, hingga menyunting kembali tulisan (Trianton, 2020, hlm. 116–118). Rangkaian ini menunjukkan bahwa buku tersebut paling bermanfaat sebagai dasar bagi mahasiswa atau penulis pemula yang baru belajar jurnalistik.
Kristina dan Setiawan (2021) menemukan bahwa jurnalis Detik.com memeriksa silang data lapangan dengan keterangan narasumber tepercaya dan menerapkan penyuntingan skeptis. Temuan ini menguatkan pentingnya konfirmasi untuk menjaga ketepatan dan keberimbangan informasi.
Bagian “Teknik Reportase” masih dapat dikembangkan dengan contoh verifikasi digital yang lebih terperinci. Trianton telah menyebut internet sebagai sumber informasi awal (2020, hlm. 116), sehingga kritiknya bukan bahwa buku tersebut mengabaikan media digital. Namun, contoh pemeriksaan unggahan asli, identitas pembuat konten, dan konteks foto masih terbatas (Trianton, 2020, hlm. 116–118). Prinsip verifikasi dalam buku tersebut tetap relevan, sedangkan praktik digital dapat diperdalam melalui rujukan khusus.
Penelitian mengenai media sosial memberikan konteks bagi kebutuhan tersebut. Rosemarwati dan Lindawati (2019) menunjukkan bahwa jurnalis media daring di Indonesia memanfaatkan media sosial sebagai sumber berita, tetapi tidak sepenuhnya memercayai informasi yang diperoleh. Nurlatifah (2021) menggambarkan pemeriksaan fakta di Tirto.id dan Kompas.com yang memadukan perangkat digital dengan kerja jurnalis. Sementara itu, Brandtzaeg et al. (2016) mencatat strategi jurnalis Eropa dalam memeriksa konten dan sumber media sosial. Temuan-temuan ini melengkapi prinsip verifikasi Trianton tanpa menggeser pengalaman peliputan Jambore sebagai fokus esai.
Memperdalam Fakta, Menjaga Tanggung Jawab
Tiga esai Abdul Wachid B.S. memperluas cara saya memahami hubungan antara fakta dan refleksi. “Dari Fakta ke Refleksi” membedakan tuntutan kejujuran terhadap fakta dan refleksi; “Menjelajah Esai” menempatkan pengalaman, bacaan, dan analisis dalam proses berpikir; sedangkan “Resep 11 Langkah Menulis Esai Sederhana” menguraikan langkah membandingkan pengalaman dengan bacaan sebelum menemukan pemikiran sendiri (Wachid B.S., 2026a, 2026b, 2026c). Dalam konteks resensi ini, ketiganya mengingatkan bahwa refleksi perlu bertumpu pada bahan yang telah dipahami dan diperiksa.
Bagi mahasiswa dan penulis pemula, panduan wawancara serta langkah kerja yang diuraikan Trianton memberikan dasar praktis. Pembaca yang ingin mendalami verifikasi digital dapat melengkapinya dengan rujukan khusus.
Setelah membaca tulisan Trianton, saya tidak lagi mengukur reportase berdasarkan banyaknya informasi yang terkumpul. Reporter bertanggung jawab memeriksa fakta dan menentukan kedalaman peliputan sesuai dengan tujuan tulisan. Melampaui fakta permukaan berarti memperdalam fakta, bukan menggantinya dengan pendapat.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!