Details

Menyulam Hujan di Panggung Dunia: Tari Wersa Riris Raih Emas

UINSAIZU.AC.ID  - Di tengah  sorot lampu di langit-langit Auditorium Utama UIN Imam Bonjol Padang, aroma dupa dan wangi kain tradisional seolah berpadu dengan udara lembap sore itu. Pada Sabtu yang bersejarah di awal Oktober 2025, lima mahasiswa dari Purwokerto berdiri di panggung internasional bukan sekadar untuk menari, tapi untuk mendoakan bumi. Tarian itu bernama Wersa Riris, sebuah karya yang lahir dari ritual cowongan doa masyarakat Banyumas yang menengadah ke langit, memohon turunnya hujan. Sebuah warisan yang dulu hanya digelar di tanah desa, kini menggema di ajang 3rd SEIBA International Festival 2025, disaksikan oleh penonton dari berbagai negara.

Bagi Amalia Nurul Fajriyah (MPI), Anggi Fatika Rosidi (KPI), Fidha Kinasih (TMA), Luzi Ragil Fadilah (PGMI), dan Sinta Bella Yulia Puspita Tri Wardani (PS) menari bukan hanya tentang gerak tubuh. Mereka membawa kisah, membawa tanah kelahiran Banyumas, dan membawa doa yang diwariskan dari para leluhur.Di bawah bimbingan Dr. Fajry Sub’haan Syah Sinaga dan sentuhan koreografer Anggita Laras Pratama (Kak Gita), Wersa Riris menjadi tarian yang menyatukan tradisi, religiusitas, dan kesadaran ekologis. Gerak demi gerak mereka memvisualisasikan petani yang berkeliling kendi, menyalakan obor, dan melantunkan harapan pada Sang Pencipta agar langit kembali menurunkan rahmatnya. 

Selendang dan gerak tangan mereka seperti menyulam doa: halus, sabar, dan penuh makna. “Kami bukan sekadar menari, kami berdoa bersama bumi,” ujar Anggi lirih seusai pertunjukan, matanya masih berkaca-kaca. Dan entah kebetulan atau pertanda, setelah mereka menari, langit Padang benar-benar meneteskan hujan. Gerimis kecil turun di sela acara, membuat suasana semakin syahdu. Hujan itu mungkin hanya sebentar, tapi bagi mereka, itu adalah simbol: doa nenek moyang yang masih didengar. Tak banyak yang tahu bahwa tarian megah ini disiapkan hanya dalam dua minggu.“Waktu kami sempit sekali,” kenang Kak Gita, sang pelatih yang juga lulusan Pendidikan Seni Tari Universitas Negeri Yogyakarta. “Ada perubahan juknis dari panitia, dan kami harus menyiapkan semuanya dari nol. Tapi justru di situ letak kekuatan mereka: tekun, solid, dan penuh cinta.”

Dalam waktu sesingkat itu, para mahasiswa berlatih tanpa kenal lelah di sela kuliah, di malam hari, di lantai sanggar yang dingin. Ada tawa, tangis, bahkan sempat ragu apakah mereka mampu. Tapi setiap gerak adalah janji: janji untuk membawa nama UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) dan tanah Banyumas ke panggung dunia. Kak Gita tak hanya memberi arahan teknis. Ia menanamkan nilai-nilai spiritual dan rasa. “Kesenian itu bukan tentang ego. Ia tentang menyatu antara tubuh, jiwa, dan doa.” Dan dari kebersamaan itulah, roh Wersa Riris lahir. Ketika musik mulai mengalun, lima perempuan muda itu menari dengan lembut, seolah angin sawah ikut berbisik di sekitar mereka. Penonton menahan napas, terhipnotis oleh harmoni gerak dan musik yang

bersumber dari bumi Jawa. Setiap langkah, setiap gerakan tangan yang melingkar, seolah memanggil air dari langit. Dan setelah pertunjukan usai, tetesan hujan benar-benar turun. Mungkin itu kebetulan, mungkin juga bukan. “Begitu kami keluar dari auditorium, hujan turun pelan,” cerita Anggi, tersenyum sambil menatap langit yang mendung. “Kami semua saling pandang, lalu menangis. Seolah Tuhan menjawab tarian kami.”

Kemenangan mereka bukan hanya tentang Medali Emas, tetapi tentang keberhasilan menyuarakan identitas Banyumas di kancah internasional. Wersa Riris dianggap oleh dewan juri sebagai karya yang mampu menjembatani budaya lokal dengan pesan global tentang hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Wakil Rektor III UIN Saizu, Prof. Sunhaji, menegaskan makna kemenangan ini: “Prestasi itu penting, tapi yang lebih utama adalah menjaga kehormatan kampus dan bangsa. Mereka tampil bukan hanya sebagai seniman, tapi sebagai duta kebudayaan Indonesia.”

Sementara Dr. Alief Budiono, Ketua Kontingen, menambahkan, “SEIBA bukan sekadar kompetisi. Ini ruang dialog budaya. Dan mahasiswa UIN Saizu telah berbicara dengan bahasa yang indah bahasa gerak dan doa.” Dari Purwokerto, sebuah kota yang tenang di lereng Gunung Slamet, lahir karya yang mengguncang panggung dunia. Dari kampus yang menanamkan nilai religiusitas dan humanitas, lahir generasi muda yang mampu menjadikan seni sebagai jalan dakwah, sekaligus diplomasi budaya. 

Tari Wersa Riris bukan hanya persembahan di panggung, melainkan refleksi tentang hubungan manusia, alam, dan Tuhan. Tentang bagaimana sebuah doa kuno dari tanah Banyumas masih bisa mengetuk hati penonton internasional. Kini, ketika mereka kembali ke Purwokerto dengan medali emas di tangan, yang paling berharga bukanlah pialanya melainkan keyakinan bahwa setiap gerak kecil yang dilakukan dengan ketulusan bisa mengubah dunia. Langit sore itu menutup kisah mereka dengan lembut. Hujan berhenti, matahari muncul di ufuk barat, memantulkan cahaya keemasan yang hangat. (AR/TA) 

Kampus Desa Mendunia!

 

#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #KampusDesaMendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *