KKN Kelompok 065 UIN Saizu Berdayakan Perempuan Kertayasa Banjarnegara lewat Kerajinan Bambu

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 065 UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan Desa Kertayasa, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, melalui pelatihan kerajinan bambu dan pemasaran digital.
Kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Perempuan Berbasis Potensi Lokal” dengan tagline “Dari Kearifan Lokal, Menuju Perempuan Mandiri” tersebut berlangsung di Aula Balai Desa Kertayasa, Minggu (9/8/2026), mulai pukul 08.30 WIB.
Kegiatan diikuti puluhan perempuan dan generasi muda dari berbagai RT dan dusun di Desa Kertayasa. Program tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN Kelompok 065 untuk menghidupkan kembali potensi kerajinan bambu sekaligus mengembangkan keterampilan masyarakat agar mampu menghasilkan produk yang bernilai ekonomi.
Mahasiswa KKN 065 tidak hanya mengenalkan keterampilan mengolah bambu menjadi produk kerajinan, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai pemasaran digital. Pendekatan tersebut dilakukan agar produk lokal Desa Kertayasa memiliki peluang lebih besar untuk menjangkau konsumen di pasar modern maupun platform digital.
Sesi pertama menghadirkan perwakilan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Banjarnegara, Tata, yang memberikan materi mengenai strategi pemasaran produk UMKM.
Tata menjelaskan bahwa pemasaran tidak sebatas mengunggah foto produk di media sosial atau memberikan potongan harga. Pelaku usaha perlu memahami kebutuhan konsumen, membangun nilai produk, serta menentukan media pemasaran yang sesuai.
“Marketing adalah tentang memahami kebutuhan pelanggan, menciptakan dan menyampaikan nilai, serta membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan,” ujar Tata.
Peserta juga diperkenalkan pada pemanfaatan berbagai kanal pemasaran, seperti WhatsApp, website, media sosial, testimoni pelanggan, hingga iklan berbayar. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat membantu pelaku UMKM menentukan strategi promosi sesuai karakter produk dan target pasar.
Sesi berikutnya diisi oleh Suwarso, Kepala Dusun 2 sekaligus pemilik D’Bantar Bambo Craft. Ia memberikan pelatihan keterampilan mengolah bambu secara langsung kepada peserta.
Dalam praktik tersebut, ibu-ibu peserta diajak mengasah keterampilan tangan dengan membuat kerajinan anyaman bambu. Bahan mentah kemudian diolah menjadi produk berupa tas anyaman yang memiliki nilai guna sekaligus nilai jual.
“Masyarakat diajarkan mengasah keterampilan tangan. Ibu-ibu peserta pelatihan langsung terjun praktik menganyam bambu, mengubah bahan mentah menjadi tas anyaman yang siap dijual,” ujar Suwarso.
Praktik tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan karena peserta tidak hanya mendapatkan materi secara teori, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam proses produksi.
Potensi bambu yang tersedia di lingkungan sekitar diharapkan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Produk kerajinan juga dapat dikembangkan sesuai kebutuhan pasar, baik dari sisi bentuk, fungsi, maupun desain.
Pemberdayaan dalam kegiatan tersebut tidak hanya menyasar perempuan, tetapi juga melibatkan generasi muda. Para peserta dari kalangan Gen Z mendapatkan materi yang lebih berfokus pada aspek digital.
Mereka dilatih membuat akun media sosial untuk usaha, mendesain pamflet promosi, serta memproduksi video pendek untuk memperkenalkan produk UMKM desa.
.jpeg)
Kolaborasi lintas generasi tersebut menjadi salah satu kekuatan program. Generasi yang lebih berpengalaman dapat berbagi keterampilan produksi dan pengetahuan mengenai kerajinan bambu, sementara generasi muda berkontribusi melalui kemampuan teknologi dan pemasaran digital.
Model kolaborasi tersebut diharapkan dapat menciptakan ekosistem UMKM desa yang lebih adaptif terhadap perkembangan pasar.
Koordinator Desa KKN Kelompok 065 UIN Saizu, Galih Setiadi, mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar potensi lokal tidak hanya dipertahankan sebagai tradisi, tetapi juga dikembangkan menjadi sumber penguatan ekonomi masyarakat.
Menurut Galih, keterampilan membuat kerajinan bambu perlu dibarengi dengan kemampuan mengemas dan memasarkan produk. Dengan demikian, masyarakat memiliki bekal yang lebih lengkap untuk mengembangkan usaha secara mandiri.
Ia juga berharap pembentukan komunitas perempuan menjadi ruang bersama bagi warga untuk terus belajar, berproduksi, dan mengembangkan usaha setelah program KKN selesai.
Suwarso berharap pelatihan tersebut tidak berhenti setelah kegiatan KKN selesai. Ia mendorong adanya kegiatan lanjutan yang dapat menjaga semangat pemberdayaan perempuan di Desa Kertayasa.
“Harapan saya untuk ke depan selama 1, 2, 3 minggu dan seterusnya setelah kegiatan ini, akan ada kegiatan-kegiatan berikutnya untuk komunitas Perempuan Berdaya,” ujar Suwarso.
Komitmen keberlanjutan tersebut kemudian diperkuat melalui Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) tentang Serah Terima Program Pemberdayaan Perempuan dan Pembentukan Komunitas “Perempuan Berdaya” Desa Kertayasa dengan Nomor 001/MOU/KKN-065/KERTAYASA/2026.
Melalui kesepakatan tersebut, program pemberdayaan diharapkan dapat terus berjalan meskipun masa KKN mahasiswa telah berakhir. Komunitas “Perempuan Berdaya” diharapkan menjadi wadah bagi perempuan Desa Kertayasa untuk mengembangkan keterampilan, membangun jejaring usaha, dan meningkatkan kemandirian ekonomi.
Program ini juga menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan menggabungkan potensi lokal, keterampilan produksi, dan teknologi digital.
Mahasiswa KKN 065 UIN Saizu berharap kerajinan bambu Desa Kertayasa dapat kembali berkembang dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Di sisi lain, keterlibatan generasi muda dalam pemasaran digital diharapkan mampu membuka akses pasar yang lebih luas.
Sinergi antara mahasiswa KKN, pemerintah desa, pelaku usaha, perempuan, dan generasi muda menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan program. Dengan kolaborasi tersebut, potensi bambu dan kearifan lokal Desa Kertayasa diharapkan dapat berkembang menjadi produk kreatif yang mampu mendukung ekonomi masyarakat.
Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud kontribusi KKN Saizu Berdampak dalam menghadirkan program pemberdayaan yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan sesaat, tetapi mendorong lahirnya komunitas dan aktivitas ekonomi yang dapat terus berkembang di tengah masyarakat. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!