Pascasarjana UIN Saizu Perkuat Dialog Akademik Global lewat International Public Lecture Series

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Pascasarjana Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto terus memperluas ruang dialog akademik dengan menghadirkan perspektif internasional. Upaya tersebut diwujudkan melalui International Public Lecture Series 1 bertema “Multiculturalism in the Asian Community,” Sabtu (5/9/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan bekerja sama dengan Eurasia Foundation for Asia tersebut menghadirkan Loch Leaksmy, akademisi dari Royal University of Phnom Penh, Kamboja, sebagai narasumber. Forum akademik internasional ini menjadi ruang bagi mahasiswa dan sivitas akademika UIN Saizu untuk memperluas wawasan mengenai dinamika masyarakat Asia yang memiliki keragaman budaya, agama, bahasa, serta identitas sosial.
Kegiatan dibuka Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN Saizu Purwokerto, Prof. Suwito. Dalam sambutannya, Prof. Suwito mengatakan, public lecture internasional memiliki arti penting bagi mahasiswa karena memberikan kesempatan untuk memahami keberagaman sekaligus memperluas perspektif global.
Menurutnya, kehidupan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari perbedaan kultur. Setiap kelompok masyarakat memiliki latar belakang budaya yang berbeda sehingga kemampuan memahami perbedaan menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan bersama. “Orang hidup itu pasti berbeda dan tentu kultur itu berbeda. Kultur antara satu budaya dengan budaya lain tentu berbeda,” ujar Prof. Suwito.
Dia juga mengaitkan pemahaman terhadap keberagaman dengan pentingnya penguasaan pengetahuan. Menurut Prof. Suwito, Islam memberikan perhatian besar terhadap penguasaan ilmu dan kemampuan memahami berbagai sumber sebagai landasan dalam mengambil keputusan secara bijaksana.
Perspektif tersebut dinilai memiliki relevansi kuat dengan isu multikulturalisme yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, termasuk masyarakat Asia yang memiliki keragaman budaya dan identitas.
Prof. Suwito turut mengapresiasi kolaborasi antara Eurasia Foundation for Asia dan UIN Saizu Purwokerto. Ia berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi terus berkembang melalui berbagai program akademik dan penguatan jejaring dengan lembaga pendidikan di dalam maupun luar negeri.
Dalam sesi utama, Loch Leaksmy membawakan materi bertajuk “The Asian Community from the Perspective of the United Nations Sustainable Development Goals (SDGs).” Dia menyoroti keberagaman sebagai karakter utama masyarakat Asia sekaligus salah satu aspek penting dalam pembangunan berkelanjutan.
Menurutnya, keberagaman tidak semestinya hanya dipandang sebagai tantangan. Jika dikelola dengan baik, keragaman budaya, agama, bahasa, dan identitas sosial justru dapat menjadi kekuatan dalam membangun masyarakat yang inklusif. Pengelolaan keberagaman membutuhkan prinsip inklusivitas, kesetaraan, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan.
Perspektif Sustainable Development Goals (SDGs) memberikan kerangka untuk melihat pembangunan masyarakat Asia secara lebih komprehensif. Sebanyak 17 tujuan SDGs mencakup berbagai persoalan, mulai dari pengentasan kemiskinan dan kelaparan, kesehatan, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, hingga pembangunan berkelanjutan, perdamaian, keadilan, dan kemitraan global.
“Komunitas Asia memiliki karakter yang sangat beragam. Karena itu, pembangunan berkelanjutan harus mampu memastikan bahwa keberagaman tersebut menjadi bagian dari proses pembangunan, bukan justru menjadi sumber eksklusi,” jelas Loch Leaksmy.
Dia menjelaskan bahwa persoalan sosial, ekonomi, lingkungan, dan kemanusiaan di kawasan Asia saling berkaitan. Karena itu, pembangunan membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan dan kelompok masyarakat yang rentan mengalami eksklusi.
Salah satu isu yang dibahas dalam public lecture tersebut adalah ketahanan pangan. Loch Leaksmy menjelaskan bahwa ketidakamanan pangan dapat dipengaruhi berbagai faktor, antara lain krisis energi, pertumbuhan penduduk, konflik, perubahan kondisi pertanian, serta ketergantungan terhadap produksi pangan.
Konflik dan perang juga dapat memperluas dampak krisis dengan mengganggu sektor energi, pangan, hingga perekonomian. Karena itu, pencapaian SDGs membutuhkan perhatian serius terhadap ketersediaan pangan, keberlanjutan sektor pertanian, serta upaya mengurangi pemborosan makanan.

Selain pangan, pendidikan menjadi salah satu aspek strategis dalam membangun masyarakat Asia yang mampu hidup berdampingan di tengah keberagaman. Pendidikan tidak hanya berperan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga membentuk generasi yang memiliki wawasan global, menghargai keberagaman budaya, serta tetap memiliki kesadaran terhadap identitas dan nilai-nilai lokal.
Sementara itu, Direktur Pascasarjana UIN Saizu Purwokerto, Prof. Moh. Roqib mengatakan penyelenggaraan Eurasia International Public Lecture Series merupakan bagian dari upaya memperluas cakrawala kajian akademik dari tingkat lokal menuju perspektif global.
Menurutnya, forum tersebut sekaligus menjadi langkah untuk menindaklanjuti agenda global yang dirumuskan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), khususnya berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan.
Agenda tersebut tidak hanya menyangkut persoalan lingkungan dan ekologi, tetapi juga mencakup aspek sosial serta keberagaman budaya. “Kita berharap jalan ini kemudian semakin melapangkan kajian kita bukan saja di tingkat lokal tetapi global,” kata Prof. Roqib.
Prof. Roqib menegaskan bahwa memahami keberagaman tidak berarti seseorang harus meninggalkan identitas budaya yang dimilikinya. Sebaliknya, setiap masyarakat dapat tetap bangga terhadap budaya sendiri sembari belajar memahami dan menghormati budaya orang lain. “Kita bangga dengan budayanya, tetapi menghormati dan memahami budaya orang lain,” ujarnya.
Pandangan tersebut menjadi penting dalam konteks masyarakat global yang semakin terhubung. Interaksi antarmasyarakat dan antarnegara membuat kemampuan berdialog lintas budaya menjadi bagian penting dari kompetensi generasi muda.
Selain memperluas kajian akademik, Prof. Roqib berharap jejaring Eurasia dapat terus berkembang dan melibatkan lebih banyak perguruan tinggi. Menurutnya, kolaborasi tidak hanya perlu melibatkan UIN Saizu dan perguruan tinggi tertentu, tetapi juga dapat diperluas kepada kampus lain di wilayah Purwokerto dan sekitarnya.
Perluasan jejaring tersebut dinilai penting untuk memperkuat interaksi antarlembaga sekaligus menciptakan ruang kolaborasi dalam menghadapi berbagai persoalan masyarakat. Dengan semakin banyak perguruan tinggi yang terlibat, pertukaran gagasan dan pengalaman akademik dapat berkembang menjadi kolaborasi yang lebih luas, baik dalam bidang pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.
Penyelenggaraan International Public Lecture Series menjadi bagian dari langkah Pascasarjana UIN Saizu Purwokerto memperkuat internasionalisasi akademik. Kehadiran akademisi dari Kamboja memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh perspektif yang berbeda mengenai masyarakat Asia, multikulturalisme, pembangunan berkelanjutan, dan berbagai persoalan global.
Kolaborasi dengan Eurasia Foundation for Asia juga membuka ruang bagi UIN Saizu untuk memperluas jejaring akademik lintas negara. Pertukaran gagasan tersebut diharapkan dapat memperkaya tradisi akademik sekaligus meningkatkan kesiapan mahasiswa menghadapi masyarakat global.
Internasionalisasi perguruan tinggi, dalam konteks ini, tidak hanya diwujudkan melalui kerja sama kelembagaan atau mobilitas akademik. Dialog pengetahuan dengan akademisi dari berbagai negara juga menjadi bagian penting dalam membangun wawasan global di lingkungan kampus.
Melalui forum tersebut, mahasiswa didorong untuk memiliki perspektif global tanpa kehilangan akar budaya lokal. Mereka tidak hanya dituntut memahami perbedaan, tetapi juga mampu menjadikan keberagaman sebagai modal untuk membangun kolaborasi.
International Public Lecture Series akhirnya tidak sekadar menjadi forum berbagi pengetahuan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar Pascasarjana UIN Saizu dalam membangun budaya akademik yang terbuka, inklusif, dan terhubung dengan perkembangan global.
Dengan penguatan jejaring internasional dan perluasan ruang dialog lintas budaya, Pascasarjana UIN Saizu berupaya menempatkan kajian akademik tidak hanya dalam konteks lokal, tetapi juga sebagai bagian dari percakapan global mengenai masa depan masyarakat yang inklusif, damai, dan berkelanjutan. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!