Details

Menyalakan Cahaya Dakwah dari Bumiayu ke Kampus UIN Saizu Purwokerto

UINSAIZU.AC.ID - Langit pagi di Purwokerto masih berwarna pucat ketika Natasya Aulia Al Haris melangkah menuju kampus. Di tangan kanannya, sebuah buku kecil berisi catatan dakwah yang selalu ia bawa ke mana pun pergi. Buku itu menjadi saksi perjalanan seorang mahasiswi asal Bumiayu yang tak pernah berhenti menulis, membaca, dan berproses untuk menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi banyak orang.

Natasya kini tengah menempuh pendidikan di Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Dengan mata yang berbinar, ia bercerita tentang cita-citanya yang sederhana namun dalam: menjadi da’iyah yang menginspirasi dan membawa nilai-nilai Islam dengan cara yang menenangkan dan menyentuh hati.

“Saya ingin menguasai ilmu agama, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi agar bisa berbagi ilmu dan memberi kontribusi positif, terutama dalam dakwah dan literasi keislaman,” tuturnya lembut. Lahir dan besar di Bumiayu, Brebes, Natasya tumbuh di lingkungan yang kental dengan nilai-nilai religius. Sejak duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah Al Barokah (2012–2017), ia sudah terbiasa dengan kegiatan keagamaan.

Minatnya terhadap literasi Islam semakin berkembang ketika bersekolah di MTs Nurul Huda NU Paguyangan (2018–2020). “Waktu itu saya sering membaca buku-buku cerita para ulama dan kisah sahabat Nabi. Dari situ saya belajarbahwa dakwah tidak selalu harus di atas mimbar, tapi bisa melalui tulisan,” kenangnya.

Perjalanan itu berlanjut ketika ia menempuh pendidikan di SMK Nurul Huda NU Paguyangan (2021–2023). Di sekolah inilah Natasya mulai aktif mengikuti lomba-lomba, seperti Lomba Da’i Da’iyah dan kaligrafi. Tak disangka, dari kompetisi-kompetisi itu muncul kepercayaan diri dan
semangat baru untuk terus berkembang.

Tahun 2024 menjadi langkah penting bagi Natasya. Ia diterima di UIN Saizu Purwokerto kampus yang menjadi tempat baru bagi perjalanan intelektual dan spiritualnya. Motivasinya sederhana tapi penuh makna. “Saya memilih UIN Saizu karena ingin belajar agama secara sistematis dan ilmiah. Di sini, saya menemukan lingkungan yang mendukung  pengembangan diri,
baik akademik maupun non-akademik,” ujarnya.

Sejak awal kuliah, Natasya aktif di berbagai organisasi, terutama di UKM EASA (English and Arabic Student Association) dan PIQSI (Pusat Informasi dan Kajian Studi Islam). Ia terlibat sebagai panitia di banyak kegiatan, mulai dari Big Competition EASA, Lingfesta, hingga Gebyar Mahasiswa Berprestasi (Mapres).

Semua itu menjadi wadahnya untuk berlatih kepemimpinan dan komunikasi publik. “Organisasi mengajarkan saya arti kerja sama, tanggung jawab, dan ketulusan. Dari situ saya belajar bagaimana cara menyampaikan ide dengan percaya diri,” ungkapnya.

Prestasi Natasya bukan datang dari keberuntungan, melainkan dari konsistensi dan dedikasi. Ia pernah meraih Juara 1 Lomba Da’i Da’iyah di Pondok Pesantren Al-Qur’an Al-Amin (2024), serta menjadi Penulis Terbaik Lomba Menulis Surat Pustaka Nasional (2025).

Selain itu, ia juga tercatat sebagai Finalis Poster PTN/PTS Universitas Muhammadiyah Purwokerto (2025) dan peraih Medali Perunggu National Student Excellence Competition (2024). Sebelumnya, di masa sekolah, ia sempat menorehkan prestasi di bidang kaligrafi dan karya ilmiah.

“Prestasi tidak datang dari keberuntungan, tapi dari kerja keras dan dedikasi,” ucapnya dengan nada mantap. Kalimat itu menjadi prinsip hidup yang selalu ia pegang teguh.

Bagi Natasya, dakwah bukan hanya tentang berbicara di depan orang banyak, tetapi juga menyebarkan nilai-nilai Islam melalui tulisan dan tindakan. Ia ingin menjadi da’iyah yang tidak hanya pintar berbicara, tetapi juga mampu menulis gagasan yang menyentuh dan mencerahkan.

Kini, selain aktif di berbagai kegiatan kampus, Natasya juga terus mengasah kemampuan public speaking. Ia percaya, kemampuan komunikasi yang baik adalah kunci dalam berdakwah di era modern. “Zaman sekarang, da’i harus bisa berdakwah dengan bahasa yang sesuai zaman. Dakwah bisa lewat media sosial, tulisan, atau karya kreatif lainnya,” tuturnya.

Di balik kesibukannya, Natasya tetap menanam-kan satu prinsip sederhana dalam hidupnya: pantang menyerah. Baginya, setiap perjalanan, seberat apa pun, selalu menyimpan arah menuju kebaikan. “Ketika kamu lelah, jangan berhenti. Berhentilah hanya untuk berdoa dan kembali melangkah,” katanya dengan senyum.

Kisah Natasya Aulia Al Haris bukan hanya tentang prestasi dan penghargaan, tapi tentang perjalanan panjang seorang anak muda dari Bumiayu yang berani bermimpi besar dan mewujudkannya lewat ilmu, dakwah, dan literasi. Di tengah rutinitas kuliah dan organisasi, ia membuktikan bahwa kesungguhan dan keikhlasan bisa menuntun siapa pun menuju cahaya kesuksesan. (TA)

Kampus Desa Mendunia!

#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *