Menulis, Menafsir, dan Menaklukkan Kegagalan dengan Ketekunan

UINSAIZU.AC.ID - Di sudut tenang kampus UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, seorang mahasiswa tampak khusyuk menatap layar laptopnya. Di antara deretan referensi kitab tafsir dan buku metodologi penelitian, Tubagus Naufal Ramadhan terus menulis bukan sekadar merangkai kata, tetapi menafsirkan makna hidup yang ia temukan melalui ayat-ayat suci dan pengalaman pribadi.
Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora ini dikenal sebagai sosok yang tekun, reflektif, dan pantang menyerah. Di balik pencapaiannya yang gemilang dalam berbagai kompetisi ilmiah, tersimpan perjalanan panjang penuh kegigihan dan pembelajaran.
Perjalanan akademik Tubagus dimulai jauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Lulusan SDN 08 Jakarta, SMPN 144 Jakarta, dan MA Ar-Ridlo ini tumbuh dalam lingkungan yang sederhana namun kaya nilai religius. Sejak duduk di madrasah aliyah, ketertarikannya pada kajian tafsir dan keilmuan Al-Qur’an semakin kuat.
“Bagi saya, Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk dikaji dan dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Ketika akhirnya memilih melanjutkan studi di UIN Saizu Purwokerto, ia tahu langkah itu bukan sekadar pilihan akademik tetapi bagian dari perjalanan spiritual. “Saya ingin belajar agama secara sistematis dan ilmiah, agar bisa membagikan pemahaman yang benar kepada masyarakat,” tutur Tubagus.
Kegemarannya menulis bukan hal baru. Sejak awal kuliah, Tubagus gemar mengikuti berbagai kompetisi karya tulis ilmiah dan esai nasional. Namun, di balik sederet prestasi yang kini melekat, ia menyimpan kisah tentang kegagalan yang tak terhitung jumlahnya.
“Saya sudah sering gagal di lomba menulis. Tapi dari setiap kegagalan itu saya belajar memperbaiki struktur, gaya bahasa, dan argumentasi,” katanya. “Kegagalan bukan akhir, tapi tanda bahwa kita sedang tumbuh.” Kini, Tubagus Naufal membuktikan tekadnya. Ia berhasil meraih sederet penghargaan bergengsi, antara lain:
Juara 1 Musabaqah Karya Tulis Qur’ani (MKTQ)Qur’anic Fest IAIN Kudus 2024 Best Presenter Prosiding SeIBa International Festival 2024 dan 2025 Juara 2 MKTQ KINMU IV 2025 Juara 3 Scientific Writing Competition ADIA International Festival 2025 Juara 1 Essay National Competition FTIK UIN Saizu X BEM FKIP UMP 2025.
Tak berhenti di sana, kiprahnya juga meluas di bidang Musabaqah Fahmil Qur’an (MFQ). Ia menorehkan prestasi sebagai Juara 1 MFQ KINMU 2024 dan Finalis MFQ Porsi Jawara 2023 bukti keseimbangan antara kecerdasan akademik dan spiritualitas Qur'ani. Selain berprestasi di bidang akademik, Tubagus juga aktif dalam berbagai organisasi kampus. Ia pernah menjadi Koordinator Divisi Tafsir dan Tahfiz UKM PIQSI, Koordinator Divisi Acara Musyang UKM PIQSI, serta berperan penting dalam berbagai kegiatan seperti REKABA, Gema Muharam, dan QIA-FEST.
“Organisasi mengajarkan saya arti kerja sama dan tanggung jawab. Ilmu saja tidak cukup tanpa pengabdian,” ungkapnya. Di luar UKM, Naufal juga menyalurkan bakat menulisnya sebagai Copywriter di Tim Media FUAH. Ia percaya bahwa dakwah dan literasi bisa disampaikan melalui medium yang beragam termasuk tulisan digital yang mampu menjangkau lebih banyak kalangan muda.
Dari sekian banyak kisah mahasiswa berprestasi, perjalanan Tubagus menyentuh karena ia tidak berangkat dari kemenangan, melainkan dari kekalahan yang membentuk keteguhan hati. “Jangan takut kalah,” katanya tegas. “Karena dari sanalah kita belajar untuk menang dengan cara yang lebih bermakna.”
Baginya, menulis adalah ibadah, tafsir adalah refleksi, dan ilmu adalah amanah. Ia percaya bahwa setiap ayat, setiap pengalaman, dan setiap kegagalan membawa pesan untuk menjadi manusia yang lebih rendah hati dan bermanfaat.
Kini, di bawah rindangnya pepohonan kampus UIN Saizu, Tubagus terus menulis bukan lagi sekadar mengejar juara, tetapi menebar makna. Dalam diamnya, ada doa dan dedikasi: agar setiap karya kecilnya menjadi bagian dari cahaya yang menerangi jalan orang lain.
Tetapi tentang keteguhan hati untuk terus belajar dan berbagi. Ia membuktikan bahwa kemenangan sejati tidak hanya diraih di podium, melainkan di setiap proses jatuh dan bangun yang membentuk karakter.
Bagi Tubagus, menulis dan menafsir bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi bentuk ibadah dan pengabdian. Dalam setiap kata yang ia tulis, terselip niat untuk menebarkan nilai-nilai Qur’ani dan menggugah semangat generasi muda agar tidak berhenti belajar.
Di kampus yang menjadi saksi perjuangannya, langkah Naufal terus menapaki jalan ilmu dan dakwah dengan ketulusan. Ia tidak sekadar ingin dikenal sebagai mahasiswa berprestasi, tetapi sebagai pembelajar sejati yang menyalakan cahaya satu huruf, satu makna, satu karya, untuk kebermanfaatan yang lebih luas. (AR/TA)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!