Details

Mahasiswi Informatika UIN Saizu Sabet 2 Gelar Juara di Kejurnas Karate

UINSAIZU.AC.ID - Di balik layar komputer dan deretan kode pemrograman, siapa sangka seorang gadis muda bernama A’thi Dzakiyatu Latifah justru menemukan panggilannya di dua dunia sekaligus teknologi dan bela diri. Mahasiswi Program Studi Informatika Fakultas Dakwah dan Saintek Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto) ini baru saja menorehkan prestasi nasional yang membanggakan.

Dalam Kejuaraan Nasional BKC Karate 2025 Piala Wakil Menteri Pertahanan RI di Bandung, A’thi berhasil membawa pulang Juara 2 TaBeKa BKC Karate Putri dan Juara 3 Kumite Fighter -55 kg Putri. Baginya, kemenangan itu bukan sekadar medali. Ia adalah hasil dari perjalanan panjang, keringat, dan doa yang menyatu dalam setiap pukulan dan tendangan yang ia lepaskan di arena.

Di kampus, A’thi dikenal sebagai mahasiswa semester satu yang tekun, pendiam, dan penuh rasa ingin tahu terhadap teknologi. Ia terbiasa memecahkan persoalan logika komputer.

Namun di luar ruang kelas, A’thi berubah menjadi sosok yang tangguh, fokus, dan disiplin tinggi seperti samurai modern yang menemukan harmoni antara kecerdasan dan kekuatan fisik. “Bagi saya, dunia teknologi dan karate itu sama-sama tentang keseimbangan. Keduanya butuh fokus, strategi, dan latihan terus-menerus. Kalau coding melatih logika, karate melatih ketenangan dan mental,” ujar A’thi dengan senyum lembut.

Perjalanan menuju podium juara bukanlah hal mudah. Ia harus membagi waktu antara kuliah, latihan, dan kompetisi. Pagi belajar tentang algoritma dan sistem digital, sore hingga malam ia berlatih menendang dan bertahan di dojo. Kejuaraan Nasional BKC Karate 2025 di Bandung menjadi medan tempur sesungguhnya bagi A’thi.

Lebih dari 2.000 peserta dari seluruh Indonesia hadir dengan semangat dan kemampuan terbaik. Setiap ronde adalah ujian, bukan hanya kekuatan fisik, tetapi juga mental dan konsentrasi. “Di setiap pertandingan, saya selalu mengingat pesan pelatih: bertarunglah dengan hati yang tenang. Kemenangan sejati bukan saat menjatuhkan lawan, tapi saat mampu menaklukkan rasa takut di dalam diri sendiri,” kenangnya.

Dan benar saja, ketenangan itu menjadi kunci. A’thi melangkah mantap dari babak penyisihan hingga final, menunjukkan refleks cepat, teknik bersih, dan mental baja. Hingga akhirnya, dua medali berhasil ia raih bukti nyata ketangguhan dan dedikasinya.

Koordinator Program Studi Informatika, Anas Azhimi Qalban, tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya. “Prestasi A’thi membuktikan bahwa mahasiswa Informatika UIN Saizu tidak hanya unggul dalam bidang teknologi, tetapi juga memiliki semangat juang luar biasa di bidang non-akademik,” tuturnya.

Ia menambahkan, kejuaraan yang diikuti A’thi bukan ajang sembarangan. “Kompetisi ini diikuti ribuan peserta dari seluruh Indonesia, menjadi arena yang sangat kompetitif. Capaian ini benar-benar luar biasa,” ujarnya penuh apresiasi.

Pihaknya juga berharap, prestasi A’thi menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain. “Semoga semangat juang A’thi bisa menular. Kami ingin mahasiswa Informatika terus menorehkan prestasi, baik di dunia akademik, teknologi, maupun olahraga,” imbuhnya.

Meski sudah menorehkan prestasi nasional, A’thi tak ingin berhenti di sini. Ia justru semakin terpacu untuk melangkah lebih jauh ke tingkat internasional. “InsyaAllah saya ingin terus berlatih dan membawa nama UIN Saizu di level yang lebih tinggi. Mohon doa dan dukungannya,” ucapnya penuh harap. Bagi A’thi, karate bukan hanya olahraga, tapi juga filosofi hidup.

Ia belajar tentang disiplin, kejujuran, dan rasa hormat kepada sesama nilai-nilai yang selaras dengan semangat UIN Saizu Purwokerto: unggul, progresif, dan integratif.

Prestasi A’thi Dzakiyatu Latifah menjadi potret nyata semangat mahasiswa UIN Saizu yang tak berhenti belajar dan berjuang. Ia adalah simbol generasi baru yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara mental dan karakter.

Dari ruang kuliah hingga gelanggang karate, A’thi membuktikan perempuan bisa menjadi simbol keberanian tanpa kehilangan kelembutan. Bahwa mahasiswa teknologi pun bisa berprestasi di dunia olahraga. Dan bahwa kekuatan sejati lahir dari keseimbangan antara pikiran, tubuh, dan hati. Dari Purwokerto untuk Indonesia. Dari mahasiswi muda yang semangat juang tanpa batas. (AR/TA)

 

Kampus Desa Mendunia!

 

#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #KampusDesaMendunia

 

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *