Details

Kisah Ngafiatul Fauziah, Mahasiswi UIN Saizu yang Menyentuh Hati Lewat Kata

UINSAIZU.AC.ID - Di tengah  riuhnya dunia akademik dan derasnya arus digitalisasi, masih ada suara lembut yang memilih berbicara melalui bait-bait puisi. Suara itu datang dari seorang mahasiswi berhijab sederhana, penuh ketenangan namun menyimpan bara semangat di dalam dadanya Ngafiatul Fauziah, mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.

Namanya kini menjadi buah bibir di lingkungan kampus setelah berhasil menorehkan prestasi gemilang: Juara 1 Lomba Cipta Baca Puisi se-Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen). Lomba bergengsi yang diadakan oleh Kosa Kota Festival bekerja sama dengan Pusat Kajian Moderasi Beragama dan Pancasila UIN Saizu ini mengusung tema sarat makna: “Moderasi Beragama dan Pancasila dalam Perspektif Gen Z.”

Namun di balik tepuk tangan dan piagam penghargaan, tersimpan kisah perjalanan panjang seorang mahasiswi yang menjadikan puisi bukan sekadar karya sastra, melainkan bentuk ibadah, cara berdialog dengan kehidupan, dan sarana menebar nilai-nilai kebijaksanaan. Ngafiatul bukanlah sosok yang gemar tampil di panggung sejak awal.

Ia tumbuh dalam suasana yang akrab dengan Al-Qur’an ayat-ayat suci menjadi keseharian yang menenangkan. Namun, di sela tilawah dan tafsir, ia menemukan ruang lain untuk mengekspresikan makna: lewat puisi. “Puisi bagi saya seperti ayat kehidupan. Kadang tidak langsung dipahami, tapi kalau direnungi, terasa dalam sekali,” tutur Ngafiatul.

Kecintaannya pada sastra bermula saat duduk di bangku sekolah menengah. Kala itu, ia sering mengikuti lomba baca puisi tingkat kabupaten. Namun, saat memasuki bangku kuliah, kecintaan-nya itu kian matang ia mulai menulis sendiri puisinya, mengalirkan perasaan dan nilai-nilai Islam ke dalam diksi yang indah dan reflektif.Dari sinilah ia kemudian berani melangkah lebih jauh, mengikuti berbagai kompetisi. 

Sebut saja Puitisasi Al-Qur’an KINMU 2024 dan Puisi SeiBa International Festival 2024 di Padang dengan torehan medali emas, tempat ia belajar bahwa kemenangan bukan hanya tentang piala, tetapi tentang menaklukkan diri sendiri. Sebelum tampil di Lomba Cipta Baca Puisi se-Barlingmascakeb, Ngafiatul melewati hari-hari panjang yang penuh latihan dan refleksi. Ia menulis, membaca ulang, memperbaiki, hingga menghayati setiap kata yang ia lantunkan. “Setiap bait harus jujur,” katanya pelan. “Kalau tidak jujur, puisi hanya akan terdengar indah, tapi tak akan menyentuh hati.”

Saat hari perlombaan tiba, ia berdiri di panggung sederhana namun penuh makna. Di hadapannya, dewan juri dan penonton menyimak dalam diam. Suaranya bergetar, bukan karena gugup, tapi karena penuh penghayatan. Saat ia membaca bait terakhir tentang perdamaian, toleransi, dan cintaTanah Air suasana hening sejenak sebelum riuh tepuk tangan bergema. Itulah momen kemenangan. 

Bagi Ngafiatul, kemenangan ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan amanah untuk terus menebarkan nilai-nilai kebaikan. Ia percaya bahwa puisi bisa menjadi jalan dakwah lembut namun mengena, sederhana namun menggetar-kan. "Menjadi yang terbaik memang butuh proses panjang. Kunci keberhasilan adalah berani melangkah dan mencoba tanpa takut akan kegagalan,” ujarnya tulus.

Kemenangan Ngafiatul pun mendapat sambutan hangat dari seluruh sivitas akademika. Dekan FUAH UIN Saizu, Dr. Hartono, menyampaikan rasa bangganya. “Prestasi ini menunjukkan bahwa FUAH bukan hanya tempat belajar teks, tetapi juga tempat tumbuhnya kreativitas. Semoga keme-nangan ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkarya dan berprestasi,” ujarnya penuh harap.

Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH) memang dikenal sebagai sarang talenta muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kaya jiwa seni. Di fakultas inilah, nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan bertemu dalam harmoni seperti puisi-puisi Ngafiatul yang memadukan spiritualitas dan realitas.Dengan dukungan dosen dan lingkungan kampus yang terbuka terhadap ekspresi kreatif, Ngafiatul merasa FUAH adalah rumah yang memberinya sayap untuk terbang. “Saya belajar di sini bukan hanya memahami ayat, tapi juga bagaimana menjadikannya cahaya dalam kehidupan,” katanya lembut.

Kini, selepas lomba, Ngafiatul kembali ke kesehariannya: kuliah, menulis, dan mengajar teman-temannya cara membaca puisi dengan hati. Namun, setiap kali ia menatap mikrofon, ada rasa haru yang tak bisa dijelaskan karena dari sanalah ia belajar bahwa kata bisa menjadi kekuatan untuk menyentuh manusia. Dalam diri Ngafiatul, ayat dan puisi bertemu. Al-Qur’an menjadi sumber inspirasi, dan sastra menjadi caranya menghidupkan nilai-nilai keislaman dalam bahasa yang bisa dipahami semua orang. Ia bukan sekadar juara lomba puisi, tapi juga simbol dari generasi muda UIN Saizu yang menjembatani keindahan sastra dan kedalaman spiritual. 

Bahwa kata-kata yang lahir dari hati yang bersih akan selalu menemukan jalannya menuju hati yang lain. Di tengah riuhnya dunia akademik dan derasnya arus digitalisasi, masih ada suara lembut yang memilih berbicara melalui bait-bait puisi. Suara itu datang dari seorang mahasiswi berhijab sederhana, penuh ketenangan namun menyimpan bara semangat di dalam dadanya Ngafiatul Fauziah, mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.

Namanya kini menjadi buah bibir di lingkungan kampus setelah berhasil menorehkan prestasi gemilang: Juara 1 Lomba Cipta Baca Puisi se-Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen). Lomba bergengsi yang diadakan oleh Kosa Kota Festival bekerja sama dengan Pusat Kajian Moderasi Beragama dan Pancasila UIN Saizu ini mengusung tema sarat makna: “Moderasi Beragama dan Pancasila dalam Perspektif Gen Z.”

Namun di balik tepuk tangan dan piagam penghargaan, tersimpan kisah perjalanan panjang seorang mahasiswi yang menjadikan puisi bukan sekadar karya sastra, melainkan bentuk ibadah, cara berdialog dengan kehidupan, dan sarana menebar nilai-nilai kebijaksanaan. Ngafiatul bukanlah sosok yang gemar tampil di panggung sejak awal.

Ia tumbuh dalam suasana yang akrab dengan Al-Qur’an ayat-ayat suci menjadi keseharian yang menenangkan. Namun, di sela tilawah dan tafsir, ia menemukan ruang lain untuk mengekspresikan makna: lewat puisi. “Puisi bagi saya seperti ayat kehidupan. Kadang tidak langsung dipahami, tapi kalau direnungi, terasa dalam sekali,” tutur Ngafiatul.

Kecintaannya pada sastra bermula saat duduk di bangku sekolah menengah. Kala itu, ia sering mengikuti lomba baca puisi tingkat kabupaten. Namun, saat memasuki bangku kuliah, kecintaan-nya itu kian matang ia mulai menulis sendiri puisinya, mengalirkan perasaan dan nilai-nilai Islam ke dalam diksi yang indah dan reflektif.

Dari sinilah ia kemudian berani melangkah lebih jauh, mengikuti berbagai kompetisi. Sebut saja Puitisasi Al-Qur’an KINMU 2024 dan Puisi SeiBa International Festival 2024 di Padang dengan torehan medali emas, tempat ia belajar bahwa kemenangan bukan hanya tentang piala, tetapi tentang menaklukkan diri sendiri.

Sebelum tampil di Lomba Cipta Baca Puisi se-Barlingmascakeb, Ngafiatul melewati hari-hari panjang yang penuh latihan dan refleksi. Ia menulis, membaca ulang, memperbaiki, hingga menghayati setiap kata yang ia lantunkan. “Setiap bait harus jujur,” katanya pelan. “Kalau tidak jujur, puisi hanya akan terdengar indah, tapi tak akan menyentuh hati.”

Saat hari perlombaan tiba, ia berdiri di panggung sederhana namun penuh makna. Di hadapannya, dewan juri dan penonton menyimak dalam diam. Suaranya bergetar, bukan karena gugup, tapi karena penuh penghayatan. Saat ia membaca bait terakhir tentang perdamaian, toleransi, dan cintaTanah Air suasana hening sejenak sebelum riuh tepuk tangan bergema. Itulah momen kemenangan.

Bagi Ngafiatul, kemenangan ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan amanah untuk terus menebarkan nilai-nilai kebaikan. Ia percaya bahwa puisi bisa menjadi jalan dakwah lembut namun mengena, sederhana namun menggetar-kan. "Menjadi yang terbaik memang butuh proses panjang. Kunci keberhasilan adalah berani melangkah dan mencoba tanpa takut akan kegagalan,” ujarnya tulus.

Kemenangan Ngafiatul pun mendapat sambutan hangat dari seluruh sivitas akademika. Dekan FUAH UIN Saizu, Dr. Hartono, menyampaikan rasa bangganya. “Prestasi ini menunjukkan bahwa FUAH bukan hanya tempat belajar teks, tetapi juga tempat tumbuhnya kreativitas. Semoga keme-nangan ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkarya dan berprestasi,” ujarnya penuh harap.

Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH) memang dikenal sebagai sarang talenta muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kaya jiwa seni. Di fakultas inilah, nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan bertemu dalam harmoni seperti puisi-puisi Ngafiatul yang memadukan spiritualitas dan realitas.

Dengan dukungan dosen dan lingkungan kampus yang terbuka terhadap ekspresi kreatif, Ngafiatul merasa FUAH adalah rumah yang memberinya sayap untuk terbang. “Saya belajar di sini bukan hanya memahami ayat, tapi juga bagaimana menjadikannya cahaya dalam kehidupan,” katanya lembut.

Kini, selepas lomba, Ngafiatul kembali ke kesehariannya: kuliah, menulis, dan mengajar teman-temannya cara membaca puisi dengan hati. Namun, setiap kali ia menatap mikrofon, ada rasa haru yang tak bisa dijelaskan karena dari sanalah ia belajar bahwa kata bisa menjadi kekuatan untuk menyentuh manusia.

Dalam diri Ngafiatul, ayat dan puisi bertemu. Al-Qur’an menjadi sumber inspirasi, dan sastra menjadi caranya menghidupkan nilai-nilai keislaman dalam bahasa yang bisa dipahami semua orang. Ia bukan sekadar juara lomba puisi, tapi juga simbol dari generasi muda UIN Saizu yang menjembatani keindahan sastra dan kedalaman spiritual. Bahwa kata-kata yang lahir dari hati yang bersih akan selalu menemukan jalannya menuju hati yang lain. (AR/TA) 

 

Kampus Desa Mendunia!

 

#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #KampusDesaMendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *