Kisah Menginspirasi Sang Peraih Medali Perunggu NESCO 2025

UINSAIZU.AC.ID - Di tengah riuhnya dunia kampus yang dipenuhi tugas, rapat organisasi, dan deadline tanpa henti, nama Munawir Sadzali muncul sebagai sosok yang memberi warna berbeda. Mahasiswa Program Studi Manajemen Dakwah, Fakultas Dakwah dan Sains dan Teknologi (Saintek) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto ini baru saja menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional.
Ia berhasil meraih medali perunggu dalam ajang bergengsi National Essay Competition (NESCO) Tahun 2025, sebuah kompetisi ilmiah yang diselenggarakan oleh Yayasan Pusat Riset Siswa, Mahasiswa, dan Akademisi (PRISMA) bekerja sama dengan STIMATA Malang.
Ajang ini bukan sekadar lomba menulis, NESCO adalah wadah gagasan-gagasan muda Indonesia untuk berinovasi, berpikir kritis, dan memberi solusi nyata atas tantangan global. Dari lebih dari 300 peserta dari berbagai universitas di Indonesia, nama Munawir tercatat di deretan tiga besar terbaik. Karya esainya berjudul “Seed Paper Ecogrow: Inovasi Ramah Lingkungan Melalui Daur Ulang Kertas untuk Mendukung Penghijauan Berkelanjutan.”
Dia berhasil memikat dewan juri pada babak final di Malang Creative Center (MCC), Jawa Timur, akhir Juli 2025 lalu. Inovasi besar seringkali lahir dari hal sederhana. Bagi Munawir, inspirasi datang dari tumpukan kertas bekas yang setiap hari ia temui di lingkungan kampus. Ia sering berpikir ke mana semua limbah kertas itu berakhir? Apakah hanya menjadi sampah, atau bisa punya kehidupan kedua yang lebih bermanfaat?
“Saya melihat banyak kertas terbuang begitu saja. Padahal, dengan sedikit kreativitas, limbah itu bisa kita ubah jadi sesuatu yang hidup,” ungkapnya dengan mata berbinar. Dari kegelisahan itu lahirlah Seed Paper Ecogrow kertas daur ulang yang di dalamnya tertanam biji tanaman. Saat kertas ini ditanam di tanah, ia akan tumbuh menjadi bibit baru.
Gagasan ini bukan hanya inovatif, tetapi juga membawa pesan ekologis yang kuat: bahwa sampah bisa menjadi sumber kehidupan baru. Tak berhenti di situ, Munawir juga melihat potensi edukatif dari inovasi tersebut.
Seed Paper bisa dijadikan kalender tanam, kartu ucapan ramah lingkungan, hingga media belajar interaktif bagi siswa sekolah dasar. Dengan begitu, ia tidak
hanya menciptakan produk, tetapi juga menanamkan kesadaran ekologis sejak dini. Sebagai mahasiswa Fakultas Dakwah, Munawir membuktikan bahwa dakwah tak melulu lewat mimbar atau lisan.
Dakwah juga bisa diwujudkan melalui aksi nyata yang membawa manfaat bagi bumi dan manusia. “Dakwah itu luas,” katanya pelan namun tegas. “Bisa lewat tulisan, lewat karya, atau lewat solusi untuk masalah lingkungan. Kalau kita bisa membuat orang sadar untuk menjaga alam, itu juga bentuk dakwah.”
Pandangan ini sejalan dengan semangat UIN Saizu kampus hijau yang menanamkan nilai-nilai keislaman sekaligus kepedulian terhadap sains dan lingkungan. Menurut Ageng Widodo, Kepala Laboratorium Fakultas Dakwah, keberhasilan Munawir adalah bukti bahwa mahasiswa keislaman mampu berkontribusi dalam isu global seperti keberlanjutan lingkungan dan inovasi hijau.
Perjalanan menuju podium bukan tanpa rintangan. Di balik senyum bangganya, Munawir menyimpan kisah perjuangan panjang mulai dari keterbatasan fasilitas, kesibukan kuliah, hingga keraguan diri. Namun, ia memilih untuk tidak menyerah.
“Kadang saya juga merasa minder. Apalagi saat tahu peserta lain datang dari kampus-kampus besar dengan fasilitas penelitian lengkap. Tapi saya selalu percaya, niat baik dan usaha sungguh-sungguh tidak akan sia-sia,” tuturnya.
Keyakinan itu terbukti. Karyanya bukan hanya lolos seleksi nasional, tetapi juga mendapat apresiasi sebagai inovasi yang aplikatif, bernilai edukatif, ekonomis, sekaligus ekologis. (AR/TA)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!