Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah dalam Konferensi Internasional FKM BKI

UINSAIZU.AC.ID - Di tengah derasnya arus digitalisasi dan derasnya kompetisi akademik, nama M. Zulfan Azmi muncul sebagai salah satu bukti bahwa dedikasi dan ketulusan dalam belajar akan selalu menemukan jalannya menuju prestasi.
Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI), Fakultas Dakwah dan Sains dan Teknologi UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, ini baru saja menorehkan prestasi yang membanggakan: Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dalam Konferensi Internasional Forum Komunikasi Mahasiswa (FKM) BPI/BKI se-Indonesia 2025.
Ajang bergengsi yang digelar di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, 2–3 Juni 2025, itu menjadi saksi lahirnya ide-ide besar dari generasi muda bangsa. Dengan tema “Building Networks and Career Opportunities for BPI/BKI Students in the Digital Era,” Zulfan tak hanya mempresentasikan karya ilmiah, tetapi juga menyuguhkan suara hati tentang bagaimana mahasiswa BKI dapat beradaptasi, berjejaring, dan berkontribusi di tengah perubahan zaman.
Ketika banyak mahasiswa menganggap menulis bilmiah sebagai tugas formal semata, Zulfan justru melihatnya sebagai ruang untuk berdialog dengan nurani. Ia menulis bukan sekadaruntuk menang, tapi untuk menyampaikan gagasan tentang bagaimana nilai- nilai konseling Islam tetap relevan di era digital.
“Bagi saya, tulisan itu seperti cermin. Dari sana, saya belajar mengenali diri sendiri, memahami orang lain, dan melihat dunia dengan lebih jernih,” tutur Zulfan. Karyanya yang akhirnya dinobatkan sebagai juara pertama memukau dewan juri berkat gagasan inovatif dan solutif, menyentuh aspek kemanusiaan, teknologi, serta nilai spiritual.
Ia menulis dengan hati, menggabungkan logika akademik dan nurani sosial dua hal yang membuat tulisannya tidak hanya kuat secara teori, tapi juga hangat untuk dibaca. Tak hanya piawai di dunia akademik, Zulfan juga dikenal sebagai sosok organisatoris yang berdedikasi.
Ia menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) BKI UIN Saizu Purwokerto tahun 2025, dan baru saja dilantik sebagai pengurus pusat Forum Komunikasi Mahasiswa (FKM) BPI/BKI se-Indonesia. Bersama mahasiswa lain seperti Muhammad Zidan Arif, yang juga dipercaya menjadi pengurus wilayah FKM BPI/BKI Jawa Tengah dan DIY, Zulfan terus berupaya membangun jejaring akademik lintas kampus, memperkuat kolaborasi, serta menghadirkan semangat baru bagi mahasiswa BKI di seluruh Indonesia.
Bagi Zulfan, organisasi bukan sekadar wadah untuk dikenal, melainkan tempat untuk berproses menjadi pribadi yang bermanfaat.
“Kalau kita belajar Bimbingan dan Konseling Islam, berarti kita sedang belajar tentang manusia bagaimana memahami, menolong, dan memberi arah. Jadi, kebermanfaatan itu bukan pilihan, tapi panggilan,” katanya dengan mata berbinar.
Perjalanan Zulfan tidak selalu mulus. Di balik prestasi yang diraihnya, ada malam-malam panjang yang dihabiskan dengan membaca, menulis, dan berdiskusi. Ada saat-saat ia nyaris menyerah karena tumpukan tugas, tanggung jawab organisasi, dan tekanan akademik. Namun semangatnya tidak pernah padam.
“Saya pernah berpikir untuk berhenti sejenak, tapi setiap kali mengingat tujuan awal belajar agar bisa bermanfaat bagi orang lain hati ini selalu kembali kuat,” ujarnya lirih. Ketekunan itulah yang akhirnya membawanya pada panggung kemenangan. Baginya, prestasi bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab baru.
Prestasi Zulfan bukan sekadar kemenangan individu, tetapi juga cermin dari kualitas dan arah baru Prodi BKI UIN Saizu Purwokerto. Kepala Prodi BKI menyebut, capaian Zulfan menjadi bukti bahwa mahasiswa BKI mampu menjawab tantangan zaman, berpikir ilmiah, sekaligus berjiwa sosial dan spiritual.
Melalui gagasan yang ia tulis, Zulfan membuktikan bahwa Bimbingan dan Konseling Islam bukan sekadar teori membantu orang lain, tetapi praktik nyata menghadirkan solusi untuk kehidupan modern.
Apalagi di tengah dunia digital yang serba cepat, kemampuan konselor Muslim dalam membaca fenomena sosial dan membingkainya dengan nilai-nilai Islam menjadi hal yang sangat penting. Zulfan hadir sebagai representasi dari generasi muda yang memadukan ilmu, iman, dan empati.
Kisah Zulfan adalah kisah tentang keyakinan bahwa ilmu dan kebaikan akan selalu menemukan tempatnya. Dari ruang-ruang kampus di Purwokerto, ide-idenya melesat hingga forum nasional dan internasional. Ia menunjukkan bahwa kampus hijau UIN Saizu bukan hanya tempat belajar, tetapi ladang tumbuhnya pemikir muda yang siap mewarnai dunia.
Bagi mahasiswa lain, Zulfan memberi pesan sederhana namun bermakna: “Jangan takut bermimpi. Jangan takut berjuang. Karena setiap usaha yang lahir dari niat baik akan selalu punya jalan pulang entah dalam bentuk prestasi, pengalaman, atau kedewasaan.”
Kisah M. Zulfan Azmi bukan sekadar tentang lomba, juara, atau piala. Ini adalah kisah tentang keikhlasan belajar dan ketulusan berjuang. Tentang bagaimana seorang mahasiswa biasa bisa melangkah luar biasa, ketika ia percaya bahwa ilmu adalah bagian dari ibadah.
Dengan tinta yang ia torehkan, Zulfan telah menulis sesuatu yang lebih besar dari sekadar karya ilmiah ia menulis harapan dan inspirasi bagi generasi muda Indonesia. (AR/TA)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!