Berkat Puisi Malam Seribu Bulan: Mahasiswi UIN Saizu Raih Medali Emas dan Sihir Dunia Lewat Kata

UINSAIZU.AC.ID - Di bawah sorot lampu yang hangat, suara lembut seorang gadis muda memecah kesunyian panggung. Tak ada musik latar, hanya kata-kata yang mengalir dengan kejujuran. Di hadapan juri dan penonton lintas negara, Khalawatun Najwa berdiri tegak membawa secarik kertas puisi dan sejuta keyakinan di dadanya.
Mahasiswi baru Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto ini baru menapaki semester pertama di Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK). Namun langkahnya sudah menjejak panggung internasional: SEIBA International Festival 2025.
Ajang ini bukan sekadar kompetisi seni, melainkan pertemuan para seniman, intelektual muda, dan duta kebudayaan dari berbagai negara. Dari Malaysia, Kamboja, Filipina, hingga Thailand semua hadir dengan misi yang sama: merayakan keindahan bahasa dan budaya.
Namun di antara ratusan peserta itu, nama Khalawatun Najwa dari Balapulang Wetan, Kabupaten Tegal berhasil mencuri perhatian. Bukan hanya karena keberaniannya, tapi karena caranya membuat puisi hidup, bergetar, dan menyentuh hati.
Najwa tumbuh di sebuah desa yang tenang di tengah hamparan sawah dan semilir angin yang lembut. Rumahnya sederhana, namun penuh cinta dan doa. Ibunya, Khopsatun adalah sosok yang selalu menanamkan keyakinan bahwa ilmu dan keindahan bisa mengubah hidup siapapun.
Ibunya mengizinkan Najwa kuliah ke Purwokerto, dengan doa sederhana semoga ia menjadi anak yang bermanfaat dan membawa nama baik keluarga. Doa itu kini dijawab dengan gemilang. Dari desa kecil di Tegal, Najwa membawa nama kampus, keluarga, bahkan bangsanya ke panggung internasional.
Pada 30 September 2025 pukul 15.00 WIB, Najwa tampil di hadapan juri internasional di cabang lomba puisi. Ia menjadi peserta nomor urut lima setelah perwakilan dari Malaysia menutup penampilan sebelumnya.
Di tangannya, ia menggenggam karya berjudul “Pada Malam 1000 Bulan” puisi sakral karya Prof. Abdul Wachid B.S., penyair besar sekaligus Guru Besar Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Saizu.
Najwa tidak hanya membaca, tapi menghidupkan puisi itu. Setiap bait ia ucapkan seperti doa. Suaranya lirih namun dalam, mengalun seolah membawa penonton pada keheningan malam penuh berkah.
“Puisi ini saya pilih karena terasa dekat di hati. Ada kedamaian, cinta, dan makna spiritual yang dalam. Saya ingin menyampaikannya dengan sepenuh perasaan,” ujarnya selepas tampil.
Begitu penampilannya usai, ruangan yang semula sunyi tiba-tiba dipenuhi tepuk tangan panjang. Bukan sekadar apresiasi melainkan kekaguman. Najwa berhasil mengubah kata menjadi pengalaman batin bagi siapa pun yang mendengarnya.
Beberapa jam kemudian, saat dewan juri mengumumkan hasil, nama Khalawatun Najwa terdengar lantang sebagai peraih medali emas kategori puisi. Air matanya menetes, bukan karena tak percaya, tapi karena ia tahu perjuangan kecilnya telah berbuah besar.
“Saya hanya ingin memberikan yang terbaik. Menang bukan tujuan utama, tapi ketika puisi ini bisa menyentuh hati orang lain itu kemenangan yang sesungguhnya,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Bagi Najwa, SEIBA International Festival bukan sekadar ajang adu bakat. Ia adalah perjalanan spiritual dan intelektual. Di sana, ia belajar bahwa puisi bukan hanya tentang kata-kata indah, tapi tentang menghadirkan jiwa dalam setiap kalimat.
Ia menyadari bahwa lewat puisi, seseorang bisa membangun jembatan antarbangsa, menyalakan empati, dan menanamkan pesan cinta yang universal.
Bagi UIN Saizu Purwokerto, kemenangan Najwa adalah bukti bahwa kampus hijau di jantung Banyumas ini terus melahirkan generasi muda yang berprestasi dan berjiwa seni tinggi. Bahwa dari ruang-ruang kuliah yang sederhana, bisa lahir karya yang bergema di dunia internasional.
Ketika Najwa turun dari panggung, senyumnya merekah. Di tangannya tergenggam medali emas, tapi di hatinya ada sesuatu yang lebih berharga: keyakinan bahwa doa, keberanian, dan cinta kepada sastra bisa membuka jalan ke mana pun.
“Saya ingin terus menulis, terus membaca, terus belajar. Karena puisi bukan akhir, tapi awal perjalanan saya untuk mengenal dunia,” katanya lirih.
Bagi Najwa, malam itu benar-benar seperti “Malam Seribu Bulan” penuh berkah, penuh cahaya, dan akan terus hidup dalam kenangan panjang perjalanan hidupnya. (TA)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!