Details

Upaya KPK Bangun Generasi Antikorupsi Diapresiasi, Mahasiswa UIN Saizu Soroti Ketegasan Penindakan

UINSAIZU.AC.ID- Upaya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam membangun generasi antikorupsi melalui jalur pendidikan menuai apresiasi dari kalangan mahasiswa. Hal ini mengemuka dalam seminar bertajuk “Membangun Generasi Antikorupsi pada Perguruan Tinggi” yang digelar di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto.

Dalam pemaparannya, Wakil Ketua KPK, Ibnu Basuki Widodo menjelaskan strategi “Trisula Pemberantasan Korupsi” yang mengintegrasikan tiga pendekatan utama, yakni pendidikan, pencegahan, dan penindakan. Strategi tersebut dirancang untuk membangun kesadaran agar tidak ingin korupsi, menutup celah agar tidak bisa korupsi, serta menghadirkan efek jera agar takut melakukan korupsi.

Mahasiswa menilai pendekatan pendidikan yang dilakukan KPK sebagai langkah progresif dalam menanamkan budaya antikorupsi sejak dini. Program pendidikan yang menyasar berbagai jenjang, termasuk perguruan tinggi, dinilai relevan dalam membentuk karakter generasi muda yang berintegritas.

Namun, apresiasi tersebut tidak lepas dari catatan kritis. Sejumlah mahasiswa menilai pilar penindakan belum menunjukkan ketegasan yang sebanding dengan dua pilar lainnya. Kritik ini mencuat dalam sesi diskusi interaktif yang berlangsung dinamis.

Salah satu pertanyaan yang mengemuka menyoroti langkah KPK dalam mencegah praktik penegakan hukum yang dinilai “tumpul ke atas, tajam ke bawah”. Pertanyaan tersebut menjadi refleksi atas pentingnya konsistensi dalam penindakan agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Diskusi juga menekankan pentingnya sinergi antara ketiga pilar dalam strategi Trisula. Penindakan dinilai memiliki peran vital dalam memberikan efek jera, sehingga menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya pencegahan korupsi secara menyeluruh.

Di sisi lain, materi seminar turut menyoroti pentingnya pembangunan nilai melalui pendidikan. Berbagai program yang dijalankan di lingkungan formal maupun nonformal diharapkan mampu membentuk kesadaran individu untuk menjauhi perilaku koruptif.

Meski demikian, peserta juga mencermati bahwa tidak sedikit pelaku korupsi berasal dari kalangan berpendidikan tinggi. Fakta ini menjadi pengingat bahwa pemberantasan korupsi tidak hanya bergantung pada aspek pengetahuan, tetapi juga integritas dan konsistensi dalam menerapkan nilai-nilai kejujuran.

Dalam seminar tersebut, turut dikutip pernyataan Mohammad Hatta, “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, namun tidak jujur sulit diperbaiki.” Kutipan ini menegaskan bahwa kejujuran tidak hanya dibentuk melalui transfer ilmu di ruang kelas, melainkan melalui pembiasaan nilai, keteladanan, serta penegakan aturan yang konsisten.

Diskusi yang berlangsung menunjukkan adanya ruang dialog konstruktif antara pemateri dan mahasiswa. Beragam pertanyaan yang muncul mencerminkan partisipasi aktif mahasiswa dalam mengkritisi sekaligus memahami kebijakan pemberantasan korupsi secara komprehensif.

Melalui penguatan sinergi antara pendidikan yang membangun integritas, pencegahan yang memperbaiki sistem, serta penindakan yang tegas dan berkeadilan, upaya pemberantasan korupsi diharapkan dapat berjalan lebih optimal, menyeluruh, dan berkelanjutan di berbagai sektor kehidupan. (AR/LU)

Kampus Desa Mendunia!

#UINSaizu #KPK #Pemberantasankorupsi #Pendidikanantikorupsi #Kampusdesamendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *