Details

UIN Saizu Perkuat Budaya Akademik Moderat, Rektor Minta Dosen Jadi Motor Penggerak Moderasi Beragama

UINSAIZU.AC.ID- Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto terus memperkuat komitmennya dalam membangun budaya akademik yang moderat, inklusif, dan berwawasan kebangsaan.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Workshop Wawasan Kebangsaan dan Moderasi Beragama bagi Dosen yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Saizu Purwokerto pada Rabu (1/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang Terbuka Lantai 1 Gedung Pascasarjana UIN Saizu sejak pukul 08.00 hingga 12.00 WIB ini menghadirkan dua tokoh nasional sebagai narasumber, yakni Dr. (H.C.) Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama RI periode 2014–2019 dan Prof. Moh. Mukri, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Blitar sekaligus Rektor UIN Raden Intan Lampung periode 2010-2015.

Workshop dibuka secara resmi oleh Rektor UIN Saizu Purwokerto, Prof. Ridwan, yang menegaskan bahwa dosen memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa.

Dalam sambutannya, Prof. Ridwan menyampaikan apresiasi kepada kedua narasumber yang dinilai memiliki otoritas kuat dalam bidang moderasi beragama.

Menurutnya, kehadiran Lukman Hakim Saifuddin menjadi kesempatan berharga bagi sivitas akademika UIN Saizu untuk mempelajari konsep hingga implementasi moderasi beragama yang selama ini menjadi salah satu kebijakan strategis Kementerian Agama.

"Kalau berbicara moderasi beragama, maka Pak Lukman Hakim Saifuddin adalah salah satu tokoh yang paling otoritatif. Beliau bukan hanya menggagas konsep moderasi beragama, tetapi juga menerjemahkannya menjadi kebijakan ketika menjabat sebagai Menteri Agama," ujar Prof. Ridwan.

Sementara itu, Prof. Moh. Mukri dinilai memiliki kompetensi dalam menjelaskan landasan epistemologis dan teologis mengenai pentingnya moderasi beragama sebagai fondasi kehidupan akademik.

Prof. Ridwan menegaskan bahwa UIN Saizu telah menetapkan karakter dosen yang ingin dibangun, yakni smart and moderate. Menurutnya, dosen tidak cukup hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga harus matang secara emosional, memiliki wawasan kebangsaan yang kuat, serta pemahaman keislaman yang moderat.

"Dosen UIN Saizu adalah dosen yang smart and moderate. Smart berarti matang secara intelektual dan emosional, sekaligus memiliki wawasan kebangsaan dan wawasan keislaman yang berjalan dalam satu tarikan napas, bukan sesuatu yang dipertentangkan," jelasnya.

Dia mengatakan, karakter tersebut menjadi fondasi penting dalam proses pendidikan tinggi Islam, terutama ketika dosen berinteraksi langsung dengan mahasiswa di ruang-ruang perkuliahan.

Rektor menilai penguatan moderasi beragama tidak cukup berhenti pada pelaksanaan workshop semata, tetapi harus terintegrasi dalam sistem pendidikan.

Ia menyebut terdapat berbagai strategi yang dapat diterapkan, mulai dari hidden curriculum, model insersi dalam mata kuliah, hingga penyusunan mata kuliah khusus yang mengangkat tema moderasi beragama dan wawasan kebangsaan.

"Apapun modelnya, dosen adalah motor penggeraknya. Nilai-nilai moderasi beragama harus hadir dalam proses pembelajaran sehingga mahasiswa memperoleh pemahaman yang utuh, baik secara akademik maupun dalam praktik kehidupan sehari-hari," katanya.

Prof. Ridwan berharap seluruh peserta menjadikan workshop tersebut sebagai titik awal untuk memperdalam wawasan mengenai moderasi beragama. Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa posisi dosen tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga teladan bagi mahasiswa.

Karena itu, penguatan wawasan kebangsaan dan moderasi beragama menjadi bagian penting dalam membangun karakter akademisi yang mampu menghadapi dinamika masyarakat Indonesia yang majemuk.

"Mahasiswa melihat dosennya sebagai role model. Karena itu, dosen harus mampu menunjukkan praktik keberagamaan yang moderat sekaligus memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai kebangsaan," ujarnya.

Pihaknya juga mengingatkan bahwa moderasi beragama merupakan salah satu program prioritas Kementerian Agama yang harus terus diperkuat di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Ridwan menjelaskan bahwa moderasi beragama bukan berarti mengurangi nilai-nilai agama, melainkan mengambil posisi tengah secara proporsional.

Menurutnya, seseorang hanya dapat bersikap moderat apabila memahami berbagai perspektif yang ada sehingga mampu mengambil keputusan secara adil dan bijaksana.

"Moderasi itu mengambil posisi tengah. Untuk bisa berada di posisi tengah, kita harus memahami berbagai sudut pandang yang ada. Dari situlah lahir sikap yang adil, seimbang, dan bijaksana," ungkapnya.

Pihaknya berharap pemahaman tersebut nantinya dapat ditransformasikan para dosen kepada mahasiswa melalui proses pembelajaran maupun aktivitas akademik lainnya.

Workshop kemudian dilanjutkan dengan dua sesi materi utama. Sesi pertama mengangkat tema "Epistemologi Moderasi Beragama: Meneguhkan Nalar Inklusif dan Penguatan Nilai Keindonesiaan di Ranah Akademik" yang disampaikan oleh Prof. Moh. Mukri.

Selanjutnya, sesi kedua bertajuk "Peta Jalan Moderasi Beragama di Perguruan Tinggi: Strategi Penguatan Karakter Dosen Smart dan Moderat" yang dipaparkan oleh Dr. (H.C.) Lukman Hakim Saifuddin.

Melalui workshop ini, UIN Saizu berharap para dosen semakin memahami konsep, strategi, dan implementasi moderasi beragama dalam kegiatan tridarma perguruan tinggi, sehingga mampu mencetak lulusan yang unggul secara akademik, moderat dalam beragama, dan memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai kebangsaan. (AR)

Kampus Desa Mendunia!

#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *