Details

UIN Saizu Gelar FGD Instrumen Akreditasi Terbaru, Perkuat Kesiapan Menuju APT 4.1 dan IAPS 5.1

UINSAIZU.AC.ID- UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto melalui Lembaga Penjaminan Mutu UIN Saizu menggelar Focus Group Discussion (FGD) terkait instrumen akreditasi terbaru, yakni Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi (IAPT 4.1) dan Instrumen Akreditasi Program Studi (IAPS 5.1).

Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu (1/4/2026) di Ruang Rapat Senat Lantai 4. FGD tersebut mengacu pada Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 tentang kebijakan terbaru akreditasi pendidikan tinggi. Kegiatan dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, di antaranya Rektor Prof. Ridwan, Wakil Rektor I Prof. Suwito, Wakil Rektor II Prof. Sulkhan Chakim, serta Kepala Biro AUPK Nugraha Stiawan. 

Selain itu, kegiatan juga diikuti pimpinan fakultas, pascasarjana, serta seluruh tim kerja LPM yang diketuai oleh Prof. Supriyanto. FGD menghadirkan narasumber dari Dewan Eksekutif Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, yaitu Prof. Slamet Wahyudi, yang juga merupakan guru besar Universitas Brawijaya.

Dalam sambutannya, Rektor UIN Saizu, Prof. Ridwan, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya strategis kampus dalam meningkatkan kualitas layanan melalui proses akreditasi. Ia menyampaikan bahwa setelah meraih akreditasi perguruan tinggi (APT) unggul, universitas terus melakukan penguatan kelembagaan, termasuk penguatan Badan Layanan Umum (BLU) serta peningkatan rekognisi internasional.

“Melalui berbagai pemeringkatan seperti QS Stars, QS World University Rankings, dan THE Higher Education, ini semua adalah bagian dari ikhtiar memperkuat reputasi perguruan tinggi, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya. Prof. Ridwan juga menekankan pentingnya FGD sebagai sarana membangun literasi dan menyamakan persepsi terhadap dinamika regulasi akreditasi yang terus berkembang. 

Ia menyoroti perubahan sistem pemeringkatan akreditasi dari sebelumnya menggunakan kategori A, B, dan C menjadi unggul, baik sekali, dan baik, serta adanya proses transisi melalui Instrumen Suplemen Konversi (ISK). 

“Pemahaman terhadap instrumen baru sangat penting agar tidak terjadi kesalahpahaman. Oleh karena itu, kehadiran narasumber yang juga konseptor instrumen ini menjadi sangat strategis untuk memberikan pemahaman yang utuh,” katanya. 

Lebih lanjut, Prof. Ridwan menyampaikan target strategis universitas dalam meningkatkan jumlah program studi berakreditasi unggul. “Kami memiliki target sekitar 72 persen program studi mencapai akreditasi unggul pada 2027. Ini menjadi tantangan bersama yang harus kita wujudkan,” tambahnya. 

Sementara itu, pemaparan materi oleh Prof. Slamet Wahyudi dimoderatori oleh Prof. Suwito. Dalam paparannya, Prof. Slamet menjelaskan secara komprehensif terkait implementasi IAPT 4.1 dan IAPS 5.1 sebagai instrumen akreditasi terbaru.

Ia menegaskan bahwa kebijakan otomatisasi akreditasi sudah tidak berlaku, sehingga seluruh perguruan tinggi diwajibkan untuk melakukan reakreditasi sesuai ketentuan baru. Ia juga memaparkan sejumlah studi kasus dari berbagai perguruan tinggi yang telah lebih dahulu melakukan proses reakreditasi, termasuk kesiapan yang perlu dilakukan oleh institusi seperti UIN Saizu dalam menghadapi perubahan kebijakan tersebut. 

FGD ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapan seluruh pengelola program studi dan pimpinan fakultas dalam menyusun dokumen akreditasi sesuai instrumen terbaru. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi langkah awal dalam memperkuat strategi peningkatan mutu berkelanjutan di lingkungan UIN Saizu. 

Melalui kegiatan ini, UIN Saizu menegaskan komitmennya dalam menjaga dan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, sekaligus memperkuat daya saing institusi di tingkat nasional dan global. (AL/AR)

Kampus Desa Mendunia! 

#UINSaizu #Akreditasi #UINSaizuUnggul #FGD #Kampusdesamendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *