Tim Mahasiswa UIN Saizu Sabet Juara 1 Lomba Esai Nasional, Usung Gagasan Sinergi Kelembagaan untuk Restorasi Marwah Legislatif Mahasiswa

UINSAIZU.AC.ID- Tim Mahasiswa Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto kembali menorehkan prestasi membanggakan. Tim terdiri dari Muhammad Salman Al Wafa dari Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBI) dan Muhamad Kamal Mubarok dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI).
Mereka berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Esai Nasional yang diselenggarakan Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pengumuman pemenang kompetisi tingkat nasional tersebut disampaikan pada Jumat (19/6/2026).
Keduanya meraih penghargaan tertinggi melalui karya esai berjudul “Dari Fragmentasi Menuju Sinergi: Penguatan Kolaborasi Kelembagaan sebagai Strategi Restorasi Marwah Legislatif Mahasiswa melalui FORNASETA.”
Esai tersebut mengangkat isu strategis mengenai penguatan peran lembaga legislatif mahasiswa melalui kolaborasi antarlembaga kemahasiswaan sebagai upaya mengembalikan fungsi representasi dan advokasi mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi.
Dalam karya ilmiahnya, Salman dan Kamal menyoroti tantangan yang dihadapi lembaga legislatif mahasiswa di berbagai perguruan tinggi. Mereka menilai masih banyak mahasiswa yang mulai meragukan efektivitas lembaga legislatif dalam memperjuangkan aspirasi dan kepentingan mahasiswa.
Menurut Salman, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan utama lahirnya gagasan yang mereka tuangkan dalam esai. “Judul ini dipilih karena adanya komitmen besar untuk mengembalikan integritas dan fungsi utama legislator mahasiswa sebagai penyambung lidah publik kampus yang tepercaya,” ujar Salman.
Dia menjelaskan bahwa lembaga legislatif mahasiswa memiliki peran penting sebagai representasi suara mahasiswa. Namun dalam praktiknya, fungsi tersebut sering menghadapi berbagai kendala, mulai dari minimnya koordinasi hingga lemahnya kolaborasi antarorganisasi kemahasiswaan.
Tim penulis juga menyoroti fenomena fragmentasi organisasi kemahasiswaan yang masih terjadi di banyak kampus. Berbagai organisasi mahasiswa, baik lembaga legislatif, lembaga eksekutif, maupun organisasi kemahasiswaan lainnya, kerap menjalankan program secara terpisah dan belum terintegrasi secara optimal.
Kondisi tersebut menyebabkan proses koordinasi dan pengawalan aspirasi mahasiswa menjadi kurang efektif. Akibatnya, berbagai persoalan yang dihadapi mahasiswa sering kali tidak mendapatkan perhatian maksimal dan sulit dikawal hingga menjadi kebijakan yang berpihak kepada mahasiswa.
Menurut mereka, gerakan mahasiswa akan memiliki daya tawar yang lebih kuat apabila berbagai organisasi dapat membangun sinergi dan bekerja sama dalam memperjuangkan kepentingan bersama. Sebagai solusi atas persoalan tersebut, Salman dan Kamal menawarkan konsep Forum Sinergi Kelembagaan (FOSKEL).

FOSKEL dirancang sebagai wadah kolaboratif yang mempertemukan berbagai organisasi kemahasiswaan dalam satu forum yang inklusif, setara, dan berorientasi pada kepentingan mahasiswa. Melalui forum ini, organisasi-organisasi yang selama ini berjalan sendiri-sendiri dapat membangun komunikasi yang lebih intensif, menyusun agenda bersama, serta melakukan advokasi secara kolektif.
“FOSKEL akan menjadi ruang sinergi berbagai organisasi kemahasiswaan. Organisasi yang selama ini terfragmentasi dapat dihimpun dalam satu kesatuan untuk duduk bersama dan setara dalam memperjuangkan hak-hak mahasiswa,” imbuh Kamal.
Dengan adanya forum tersebut, perjuangan terhadap berbagai isu kemahasiswaan diharapkan tidak lagi bersifat parsial, melainkan dilakukan secara terkoordinasi dan berkelanjutan. Dalam konsep yang ditawarkan, FOSKEL berada di bawah koordinasi FORNASETA yang berfungsi sebagai induk organisasi dan pengarah gerakan kolaborasi kelembagaan.
FORNASETA diharapkan mampu menyusun pedoman pelaksanaan, standar koordinasi, serta mekanisme kerja yang dapat diterapkan oleh berbagai organisasi mahasiswa di berbagai perguruan tinggi.
Selain itu, keberadaan FORNASETA juga dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan program sehingga sinergi antarlembaga tidak hanya berjalan dalam jangka pendek, tetapi berkembang menjadi sistem kolaborasi yang berkesinambungan.
Tim penulis meyakini forum yang terorganisasi dengan baik akan memperkuat posisi mahasiswa dalam proses pengambilan kebijakan kampus sekaligus meningkatkan efektivitas fungsi kontrol sosial, advokasi, dan representasi mahasiswa. “Harapannya, melalui adanya FOSKEL ini, aspirasi serta advokasi mahasiswa bisa terkawal dan benar-benar didengar oleh birokrat,” ujarnya.
Keberhasilan meraih Juara 1 pada kompetisi tingkat nasional ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UIN Saizu Purwokerto tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mampu menghadirkan gagasan inovatif yang relevan dengan kebutuhan organisasi kemahasiswaan masa kini.
Prestasi yang diraih Muhammad Salman Al Wafa dan Muhamad Kamal Mubarok sekaligus memperkuat komitmen UIN Saizu dalam mendorong budaya akademik yang produktif, kritis, dan solutif.
Capaian tersebut diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan kemampuan menulis, berpikir kritis, serta menghasilkan gagasan konstruktif yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan, organisasi kemahasiswaan, dan masyarakat luas.
Melalui karya ilmiah dan inovasi pemikiran, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai agen perubahan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menghadirkan solusi bagi berbagai tantangan yang dihadapi bangsa. (AR/LU)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!