Details

Tari Kontemporer 'Rahsa Serayu' Mahasiswa UIN Saizu Memukau SeIBa International Festival 2026

PADANG, UINSAIZU.AC.ID - Delegasi Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto kembali menampilkan kekayaan seni dan budaya Nusantara di panggung SeIBa International Festival (SIF) IV Tahun 2026.

Melalui tari kontemporer berjudul "Rahsa Serayu", lima mahasiswa UIN Saizu Purwokerto berhasil memukau dewan juri dan peserta internasional saat tampil pada cabang lomba tari di Aula Gedung J UIN Imam Bonjol Padang, Kamis (9/7/2026).

Tari kontemporer "Rahsa Serayu" dibawakan oleh lima mahasiswa UIN Saizu yang berasal dari berbagai program studi, yaitu Melanny Dwi Hardiyanti, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Anindya Ayusha Ramadhani, Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI), Nandica Devi Ramadhani, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).

Kemudian Lutfia Safitri Attarani, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Cunita Pujiya Restari, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Mahasiswa mendapatkan arahan dan pendampingan dari Dosen Seni, Dr. Fajry Subhaan Syah Sinaga.

Kolaborasi mahasiswa lintas program studi tersebut menunjukkan bahwa seni pertunjukan menjadi ruang kreativitas yang mampu menyatukan berbagai disiplin ilmu dalam satu karya budaya.

Tim tari kontemporer UIN Saizu mendapat nomor urut tampil lima dari total 13 peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi. Penampilan mereka mendapat perhatian karena mengangkat filosofi Sungai Serayu sebagai simbol kehidupan, harmoni, dan identitas budaya masyarakat Banyumas.

Berbeda dari tari tradisional yang menonjolkan pola gerak baku, "Rahsa Serayu" memadukan unsur tari kontemporer dengan narasi budaya Banyumas. Karya ini menggambarkan Sungai Serayu sebagai sumber kehidupan yang menghubungkan manusia dengan alam.

Dalam alur pertunjukan, Serayu tidak hanya digambarkan sebagai bentang alam, tetapi juga sebagai saksi perjalanan sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Banyumas.

Melalui gerak tubuh yang dinamis dan ekspresif, para penari menghadirkan suasana pegunungan, aliran sungai, kehidupan para petani, nelayan, hingga nilai gotong royong yang tumbuh di sepanjang daerah aliran Sungai Serayu.

Setiap adegan menyampaikan pesan bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan alam agar kehidupan dapat terus berlangsung secara berkelanjutan. Sinopsis "Rahsa Serayu" mengisahkan perjalanan manusia yang belajar memahami pesan-pesan alam.

Dalam cerita tersebut, Sungai Serayu digambarkan berbisik melalui desir angin, riak air, dan gemerisik dedaunan. Bisikan itu mengajarkan nilai-nilai kehidupan seperti rasa syukur, kebersamaan, keteguhan, serta pentingnya hidup selaras dengan lingkungan.

Karya tari ini mengajak penonton merenungkan bahwa keberlangsungan kehidupan sangat bergantung pada hubungan harmonis antara manusia dan alam. Pesan tersebut juga sejalan dengan tema SeIBa International Festival yang mendorong pembangunan berkelanjutan serta kolaborasi lintas budaya di tingkat global.

Keikutsertaan tim tari kontemporer menjadi bagian dari komitmen UIN Saizu dalam memperkenalkan budaya Banyumas kepada masyarakat internasional. Melalui pendekatan seni modern yang tetap berakar pada nilai-nilai lokal, mahasiswa UIN Saizu berupaya menghadirkan wajah budaya Indonesia yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya.

Tari "Rahsa Serayu" menjadi media diplomasi budaya yang memperkenalkan filosofi kehidupan masyarakat Banyumas kepada peserta festival dari berbagai daerah dan negara. Selain menampilkan keindahan koreografi, pertunjukan tersebut juga membawa pesan universal mengenai pelestarian lingkungan, kebersamaan, dan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam.

Partisipasi mahasiswa dalam cabang seni pertunjukan melengkapi keterlibatan UIN Saizu pada berbagai kompetisi akademik, ilmiah, sastra, dan budaya selama SeIBa International Festival 2026.

Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari strategi internasionalisasi kampus yang tidak hanya berfokus pada penguatan akademik, tetapi juga pada promosi budaya lokal sebagai identitas bangsa.

Melalui karya "Rahsa Serayu", mahasiswa UIN Saizu membuktikan bahwa seni dapat menjadi bahasa universal yang mampu menyampaikan nilai-nilai budaya, kepedulian terhadap lingkungan, dan semangat harmoni kepada masyarakat dunia.

Penampilan ini sekaligus memperkuat peran UIN Saizu sebagai perguruan tinggi yang aktif melahirkan generasi kreatif, berwawasan global, dan tetap berpijak pada kekayaan budaya Nusantara. (AR)

 

Kampus Desa Mendunia!

 

#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *