Details

Talkshow Ahmad Tohari di UIN Saizu Soroti Matinya Kepakaran dalam Cerminan Sastra dan Budaya

UINSAIZU.AC.ID – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Dakwah UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto menggelar Talkshow Pendidikan bertema “Suara yang Tak Lagi Didengar: Matinya Kepakaran dalam Cerminan Sastra dan Budaya” pada Sabtu (23/5/2026) di Auditorium UIN Saizu Purwokerto. Kegiatan ini menghadirkan sastrawan sekaligus budayawan nasional Ahmad Tohari sebagai narasumber utama.

Acara dibuka oleh Wakil Dekan I Fakultas Dakwah UIN Saizu, Dr. Ahmad Muttaqin. Sementara jalannya diskusi dipandu oleh Mona Indira, mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Saizu yang juga merupakan Duta Perpustakaan UIN Saizu.

Talkshow tersebut digelar sebagai respons terhadap fenomena sosial di era digital yang dinilai semakin menggeser peran kepakaran. Masyarakat saat ini cenderung lebih mudah mempercayai opini figur populer atau viral di media sosial dibandingkan pandangan para ahli di bidangnya.

Melalui pendekatan sastra dan budaya, DEMA Fakultas Dakwah mencoba menghadirkan ruang refleksi akademik bersama Ahmad Tohari terkait dampak fenomena tersebut terhadap pendidikan, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat.

Dalam pemaparannya, Ahmad Tohari menyoroti kebiasaan generasi muda yang semakin bergantung pada gawai dan arus informasi digital yang tidak selalu memberikan manfaat positif.

“Sebagai anak muda sekarang, harus bisa mengurangi scroll handphone yang kadang tidak bermanfaat, dan justru banyak mudharat jika tidak dimanfaatkan dengan baik, salah satunya banjir informasi yang ada di mana-mana dan bisa membuat kita tidak tenang. Untuk itu, cara paling ampuh menghadapi banjir informasi dengan mengurangi ketergantungan handphone,” tegas Ahmad Tohari.

Penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk tersebut juga menekankan pentingnya menjaga budaya lokal di tengah kuatnya pengaruh budaya luar yang berkembang melalui media digital.

Antusiasme peserta terlihat dari penuhnya Auditorium UIN Saizu yang dihadiri mahasiswa, pelajar SMA, dosen, pegiat sastra, hingga masyarakat umum. Banyak peserta mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai pentingnya literasi, budaya, dan sikap kritis dalam menghadapi perkembangan informasi saat ini.

Salah satu peserta, Alvidin, mahasiswa Program Studi Manajemen Dakwah semester 4, menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi generasi muda saat ini.

“Menurut saya, acara ini relevan sekali dengan anak muda sekarang, di mana sesuai amanat Abah Tohari bahwa adanya dominasi pemikiran kebarat-baratan bahkan mengancam budaya kita sendiri. Jadi, dengan kondisi tersebut anak muda memikul tanggung jawab peradaban Indonesia dengan melestarikan budaya,” ujarnya.

Suasana talkshow semakin hangat ketika peserta diberi kesempatan berdialog langsung dengan Ahmad Tohari. Para penikmat karya sastra juga memanfaatkan momen tersebut untuk meminta tanda tangan pada buku-buku koleksi mereka.

Ketua Pelaksana kegiatan, Sakha Nayotama Andrianto, mengatakan bahwa talkshow ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu membuka wawasan mahasiswa mengenai pentingnya sastra, budaya, dan nilai kemanusiaan dalam kehidupan akademik maupun sosial.

“Harapan kami, setelah mengikuti kegiatan ini, para peserta dapat menambah wawasan, lebih menghargai sastra dan budaya, serta termotivasi untuk berpikir kritis dan peduli terhadap nilai-nilai pendidikan dan kemanusiaan,” katanya.

Melalui kegiatan ini, DEMA Fakultas Dakwah UIN Saizu berharap mahasiswa semakin sadar akan pentingnya menjaga budaya, memperkuat literasi, serta menghargai kepakaran di tengah derasnya arus informasi digital yang berkembang saat ini. (AL)

 

Kampus Desa Mendunia !

 

#UINSaizu #FakultasDakwah #Talkshow #AhmadTohari #Budaya #Kampusdesamendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *