Details

Stevia Jadi Produk Unggulan Baru UIN Saizu, P2B Siapkan Hilirisasi dan Bidik Investasi Dua Hektare

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Pusat Pengembangan Bisnis (P2B) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto terus memperluas inovasi pengembangan bisnis kampus melalui sektor pertanian, khususnya tanaman stevia.

Kepala P2B UIN Saizu Purwokerto, Dr. Rahmini Hadi, mengatakan pengembangan stevia telah dirintis lebih dari satu tahun bersama kelompok petani mitra. Berbeda dengan pola sebelumnya yang dilakukan secara terpisah, kini seluruh lahan budidaya dikonsolidasikan dalam satu kawasan sehingga pengelolaannya lebih efektif dan produktif.

"Selama lebih dari satu tahun kami mencari konsep terbaik bersama petani mitra. Sekarang seluruh lahan sudah dikumpulkan dalam satu lokasi, sehingga pengelolaannya jauh lebih baik," ujar Dr. Rahmini Hadi.

Upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Pada panen perdana, P2B UIN Saizu berhasil memanen sekitar 175 kilogram daun stevia basah dari lahan seluas kurang lebih setengah hektare.

Menurut Dr. Rahmini, hasil tersebut menjadi capaian awal yang cukup menggembirakan mengingat sebagian besar tanaman masih belum memasuki usia produksi optimal. "Alhamdulillah setelah proses yang cukup panjang mencari konsep bersama petani mitra, akhirnya kita bisa panen perdana sekitar 175 kilogram," katanya.

Dia menjelaskan, ketika seluruh tanaman telah memasuki masa produktif, lahan seluas setengah hektare diperkirakan mampu menghasilkan hingga 300 kilogram daun stevia basah setiap kali panen.

Jika pengembangan lahan berhasil diperluas menjadi satu hektare, produksi diperkirakan meningkat menjadi sekitar 600 hingga 700 kilogram stevia basah. "Panen kemarin belum berasal dari tanaman yang sudah dewasa. Kalau nanti seluruh tanaman sudah produktif, hasilnya tentu akan jauh lebih besar," jelasnya.

P2B UIN Saizu tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi di tingkat budidaya. Kampus juga mulai menyiapkan proses hilirisasi agar stevia memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.

Saat ini P2B tengah mengajukan pengadaan mesin pengolah daun stevia menjadi bubuk yang siap digunakan sebagai bahan baku industri pangan maupun minuman. Sebelum memasuki proses penggilingan, daun stevia harus melalui tahapan pengeringan sesuai standar higienitas agar memenuhi persyaratan kualitas produk.

Menurut Dr. Rahmini, proses tersebut menjadi tantangan tersendiri karena seluruh tim masih terus belajar membangun sistem produksi yang sesuai standar industri. "Kami semua masih berproses. Harapannya panen-panennya berikutnya bisa lebih baik, lebih higienis, dan memenuhi standar sebagai bahan baku stevia," ujarnya.

Dia menambahkan, setelah diolah menjadi bubuk, nilai ekonomi stevia akan meningkat signifikan. Produk stevia bubuk diperkirakan memiliki nilai jual sekitar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram, sehingga berpotensi menjadi salah satu sumber pendapatan baru bagi kampus sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani mitra.

Ke depan, P2B UIN Saizu menargetkan perluasan lahan budidaya hingga minimal dua hektare. Target tersebut dinilai realistis karena kampus memiliki potensi lahan sekitar 11 hektare yang dapat dikembangkan secara bertahap.

Menurut Dr. Rahmini, perluasan lahan menjadi langkah penting agar produksi stevia dapat memenuhi kebutuhan pasar sekaligus memperkuat identitas UIN Saizu sebagai pusat pengembangan tanaman pemanis alami.

"Kalau minimal dua hektare sudah sangat bagus. Dengan luasan itu produksi akan jauh lebih optimal dan manfaat ekonominya juga semakin besar," katanya.

Dia menambahkan bahwa fokus pengembangan saat ini bukan semata mengejar hasil panen, tetapi juga memperluas area tanam agar kapasitas produksi meningkat secara berkelanjutan.

Prospek bisnis stevia yang terus berkembang mulai menarik perhatian investor. Dr. Rahmini mengungkapkan sedikitnya dua investor telah menyatakan ketertarikan untuk berpartisipasi dalam pengembangan budidaya stevia di lingkungan UIN Saizu.

Meski demikian, P2B menegaskan bahwa seluruh investasi yang masuk harus tetap sejalan dengan visi kampus dalam menjadikan stevia sebagai komoditas utama.

Investor yang ingin memanfaatkan lahan kampus nantinya diwajibkan menanam stevia sehingga kawasan tersebut berkembang sebagai sentra produksi yang memiliki identitas kuat.

"Kami ingin kawasan itu benar-benar dikenal sebagai pusat stevia. Jadi kalau orang mencari stevia, mereka akan ingat UIN Saizu. Itu yang sedang kami bangun sebagai produk unggulan kampus," tegas Dr. Rahmini.

Pengembangan stevia menjadi salah satu program strategis P2B UIN Saizu dalam membangun kemandirian ekonomi kampus melalui sektor produktif.

Program ini tidak hanya menghasilkan komoditas pertanian, tetapi juga menciptakan ekosistem yang melibatkan petani lokal, dunia usaha, akademisi, serta calon investor dalam satu rantai nilai yang saling menguatkan.

Sejalan dengan pengembangan kawasan bisnis kampus, termasuk keberhasilan mempertahankan seluruh tenant Food Court Kampus 1 dan membuka stand usaha baru yang lebih modern, budidaya stevia diharapkan menjadi ikon baru UIN Saizu dalam mengembangkan kewirausahaan berbasis inovasi.

Melalui penguatan budidaya, hilirisasi produk, serta perluasan jejaring investasi, UIN Saizu optimistis stevia akan berkembang menjadi komoditas unggulan yang tidak hanya memberikan nilai ekonomi bagi kampus, tetapi juga menjadi model pengembangan bisnis perguruan tinggi yang berdampak bagi masyarakat. (AR)

Kampus Desa Mendunia!

#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *