Details

Spirit HSN dan Kemandirian Pesantren

Purwokerto,- Sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalies UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, sebuah seminar dengan tema “Spirit HSN dan Kemandirian Pesantren” digelar di Auditorium Utama UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto pada Selasa (31/10). Seminar ini menghadirkan berbagai narasumber yang berkompeten dalam membahas isu-isu seputar peran pesantren dalam pengembangan ekonomi dan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh mahasiswa.

Dalam sambutannya, Prof. Ridwan, Rektor UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, menjelaskan pentingnya tema seminar ini. Tema tersebut dipilih untuk mengingat kembali sejarah perjuangan kaum santri dan ulama pada tahun 1918 dalam menggerakkan pondok pesantren sebagai sarana untuk mengembangkan perekonomian.

“Seminar hari ini membahas pengembangan ekonomi berbasis pesantren jauh sebelum pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan berdirinya Nahdlatul Tujjar (NT) atau Kebangkitan Pedagang, yang merupakan gerakan ekonomi rakyat yang erat kaitannya dengan Nahdlatul Ulama (NU),” kata Prof. Ridwan.

Selain itu, Prof. Ridwan juga menekankan pentingnya reinterprestasi jihad dalam konteks masa kini. Jihad bukan hanya berarti perang fisik, melainkan juga melibatkan usaha keras untuk melawan kebodohan dan mengentaskan kemiskinan. Salah satu cara untuk mencapai hal ini adalah dengan fokus pada kemandirian pesantren yang dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat.

Sebagai narasumber utama, seminar ini mengundang Dr. Imam Syafi’i, M.Pd., Pengasuh Pondok Pesantren Pendawa, yang juga merupakan tokoh dalam bidang kewirausahaan pesantren. Dalam pemaparan materinya, Dr. Imam Syafi’i menekankan peran mahasiswa, khususnya santri, dalam mengembangkan potensi yang mereka miliki untuk berkontribusi dalam upaya mencapai kemandirian pesantren.

“Jangan hanya mengandalkan ijazah dan gelar yang diperoleh setelah menyelesaikan pendidikan di kampus. Kita harus mengembangkan tiga budaya, yaitu budaya religiusitas, budaya akademik, dan budaya digital atau kewirausahaan. Ini berarti bahwa selain memiliki pengetahuan agama, mahasiswa juga harus menguasai teknologi dan keterampilan bisnis,” ungkap Dr. Imam Syafi’i.

Dr. Imam Syafi’i juga mendorong para peserta seminar untuk melihat Indonesia dari perspektif yang berbeda dan merantau ke luar kota atau bahkan provinsi untuk mencari ilmu dan ide-ide baru yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Ia menekankan pentingnya produktivitas dan memanfaatkan waktu dengan baik.

Semangat untuk menggali potensi pesantren, menghargai sejarah perjuangan, dan berkontribusi dalam pembangunan ekonomi nasional adalah esensi dari seminar ini. UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan dan pemberdayaan pesantren, serta melibatkan mahasiswa dan santri dalam upaya menciptakan perubahan yang positif dalam masyarakat. Dengan semangat ini, diharapkan bahwa pesantren akan terus menjadi sumber inspirasi dan kekuatan bagi Indonesia di masa depan.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *