Soroti Aktivitas Mudik Era Saat Ini, Akademisi UIN Saizu Purwokerto: Tradisi dan Adu Gengsi

UINSAIZU.AC.ID- Aktivitas mudik jelang Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriyah tengah berlangsung. Akademisi UIN Prof KH Saifuddin Zuhri (Saizu) Purwokerto, Dr Ahmad Muttaqin menilai, lebaran atau Idul Fitri bagi masyarakat Islam di Indonesia tidak sekedar hari raya.
Akan tetapi, kata dia, mencakup tradisi, selebrasi, dan kontestasi. Sebagai tradisi, mudik secara historis telah berjalan panjang sejak mulai adanya hubungan binari kota-desa sebagai konsekuensi perubahan cara produksi masyarakat Indonesia.
"Desa yang sebelumnya merupakan konsentrasi penduduk pada era agrikultur, lambat laun mengalami pergeseran setelah Indonesia menerapkan sistem industri dalam pengembangan ekonomi nasional," tulis keterangan Wakil Dekan I Fakultas Dakwah UIN Saizu Purwokerto, Selasa (9/4/2024).
Menurut Aqen, sapaan akrabnya, kota menawarkan peluang kerja pada sektor formal dalam produksi industri barang dan jasa yang memikat tenaga kerja produktif di desa. Sebelumnya mereka bekerja pada sektor agrikultur meliputi pertanian, perkebunan, dan perikanan yang secara umum hanya cukup memenuhi kebutuhan subsitensi.
"Keberadaan industri di kota kemudian memicu urbanisasi dalam skala yang terus berkembang dan berkonsekuensi terhadap menurunnya produktivitas lahan di desa, akibat ditinggalkan oleh para pekerjanya," jelasnya.
Sejak saat itu, lanjut Aqen, kota dan desa terkoneksi dalam hubungan yang bersifat dikotomis yang kontras. Seperti modern-tradisional atau maju-tertinggal. Pulang kampung kemudian menjadi istilah yang melekat pada kelompok perantau kota-kota besar yang bekerja pada sektor industri pada saat masuk musim liburan.
"Idul Fitri menjadi momentum lebaran yang menjadi puncak dalam tradisi masyarakat muslim di Indonesia. Sebagai puncak tradisi, lebaran Idul Fitri diselebrasikan secara besar-besaran dan massif oleh masyarakat untuk mempertunjukkan berbagai capaian yang telah diraih," beber dia.
Secara teologis, menurut Aqen, saling berkunjung dan silaturrahim merupakan dua wujud ekspresi setelah melaksanakan kegiatan peribadatan puasa selama Bulan Ramadan. Namun demikian, dimensi teologis ini mulai mengalami penurunan dan digantikan oleh wujud lain yang secara prinsip tidak memiliki kaitan langsung.
Liburan Konsumtif
Masyarakat memposisikan Lebaran Idul Fitri sebagai proyeksi utama ekspresi sosial dalam kemasan keagamaan. Hal ini kemudian berpengaruh terhadap arusutama perilaku produksi, misalnya tabungan atau kepemilikan atas barang-barang tertentu.
Tidak jarang, seorang pekerja menyisihkan penghasilannya dengan tujuan utama merayakan Lebaran Idul Fitri di kampung halaman. Sebagai perayaan, maka pengeluaran dan belanja yang dilakukan bersifat konsumtif dan tidak berkontribusi terhadap peningkatan kualitas kehidupan di masa mendatang.
Bahkan pada beberapa kondisi, Lebaran Idul Fitri menjadi ajang 'adu gengsi' bagi para pemudik di kampung halaman. Mereka mengkontestasikan capaian-capaian di kota untuk memperoleh status 'sukses'. Indikator kesuksesan yang paling sederhana adalah kepemilikan barang-barang industri dan aspek-aspek lain yang bersifat material.
"Hal ini yang kemudian mendorong para pemudik mengusahakan sedapat mungkin mengatribusikan dirinya dengan berbagai barang industri seperti alat tarnsportasi, barang elektronik, dan kepemilikan uang," terang dia.
Dijelaskan, fenomena yang ada, menunjukkan imaginasi sosial secara umum masih berada pada bentuk-bentuk paling permukaan dan bersifat artifisial dari gerak peradaban maju dan modern.
Bentuk ini tidak lepas dari konstruksi 'tangan-tangan yang tidak terlihat' (the invisible hand) yang mendorong kemajuan atau modernitas dalam makna yang pragmatis, yaitu konsumsi barang-barang industri.
"Kondisi ini yang menjadi inti kritik sosial Herbert Marcuse terkait dengan proyek besar dunia mewujudkan manusia satu dimensi (one dimensional man) melalui penundukan- penundukan ideologi dan budaya," tandas dia.
Secara kritis, Lebaran Idul Fitri yang sejatinya merupakan momentum keagamaan dibajak oleh industri dan pemilik kapital besar untuk memperoleh keuntungan. Implikasinya, komunitas muslim kehilangan kedaulatannya atas tradisi dan hari besar keagamaannya. (AR/FD)
UIN Saizu Maju



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!