Details

Seminar Literasi Gender UIN Saizu Dorong Kesadaran Anti Kekerasan Seksual di Era Digital

 

UINSAIZU.AC.ID - Dalam rangka memperingati Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) LPPM UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto bekerja sama dengan Rahima menggelar Seminar Literasi Gender dan Deklarasi Anti Kekerasan Seksual, Rabu (26/11/2025).

Kegiatan dipusatkan di Hall Perpustakaan UIN Saizu dan diikuti lebih dari seratus peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan. Kegiatan mengusung tema “Self Control di Era Selfie: Menjaga Fitrah, Menumbuhkan ‘Iffah dengan Tarbiyatul Jinsiyah.”

Seminar ini bertujuan memperkuat kesadaran sivitas akademika terhadap pentingnya literasi gender, pendidikan seksual berbasis Islam, serta pencegahan kekerasan seksual di lingkungan kampus, terutama di tengah tantangan budaya digital.

Acara dibuka oleh Rektor UIN Saizu Purwokerto, Prof. Ridwan. Hadir pula Wakil Rektor I Prof. Suwito, Ketua LPPM Prof. Ansori dan jajaran pimpinan lainnya. Dalam sambutan utamanya, Prof. Ridwan menegaskan bahwa kampus memiliki peran vital dalam mencegah kekerasan seksual.

Dia menyoroti urgensi edukasi berkelanjutan terkait kekerasan berbasis gender. Menurutnya, perguruan tinggi harus proaktif membangun ekosistem akademik yang aman dan berkeadilan. “Penguatan literasi gender, advokasi, serta sistem pelaporan yang responsif menjadi kewajiban kita bersama," tuturnya.

UIN Saizu berkomitmen untuk terus mengawal isu perlindungan perempuan dalam bingkai nilai-nilai Islam. Ia juga mengapresiasi konsistensi PSGA dalam menyelenggarakan berbagai program edukasi dan penguatan kapasitas sivitas akademika terkait kesetaraan gender dan keamanan kampus.

Sebagai narasumber pertama, Kepala PSGA, Dr. Ida Novianti menyampaikan materi berjudul “Self Control di Era Selfie: Tantangan dan Realitas Budaya Digital.” Ia menyoroti perubahan drastis dalam budaya bermedia yang membuat batas antara ruang privat dan ruang publik semakin kabur. “Ruang privat adalah benteng kehormatan,” tegasnya.

 

 

Dr. Ida menjelaskan bahwa ruang privat tidak hanya mencakup aspek fisik, tetapi juga isi hati, emosi, percakapan personal, hingga hubungan yang bersifat rapuh. Menurutnya, nilai ‘iffah atau menjaga kehormatan diri harus menjadi prinsip penting bagi generasi digital agar tidak terjebak dalam eksploitasi visual di media sosial.

Ia mengingatkan bahwa setiap unggahan dapat dimaknai secara seksual oleh pihak yang salah. Karena itu, ia mengajak peserta selalu bertanya sebelum mengunggah konten: Apakah konten ini berpotensi membahayakan diri secara fisik atau moral? Bisakah konten ini disalahgunakan? Apakah unggahan ini sejalan dengan nilai spiritual dan sosial?

“Setiap postingan harus dipertanggungjawabkan secara moral, spiritual, dan sosial,” jelasnya.

Sementara narasumber kedua, Fatmah dari Rahima Jawa Tengah, menyoroti pentingnya Tarbiyatul Jinsiyah sebagai pendidikan seksual Islami yang menumbuhkan kehormatan diri serta mencegah kekerasan terhadap perempuan.

Menurutnya, di era selfie, rasa malu sebagai pelindung fitrah mulai memudar. “Skill wajib di era selfie adalah self control. Tanpa kendali, seseorang dapat menjadi budak feeds, filter, dan validasi publik,” ungkapnya.

Fatmah juga menekankan konsep muraqabah, yakni kesadaran bahwa setiap manusia berada dalam pengawasan Allah SWT sebelum pengawasan manusia. Ia mengajak peserta untuk menerapkan prinsip “share seperlunya”, menghindari konten sensual, serta mengedepankan manfaat dan nilai dalam aktivitas digital.

Setelah pemaparan materi, peserta mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab. Berbagai pertanyaan mengemuka terkait tantangan literasi gender, budaya selfie, dampak eksploitasi digital, hingga cara membangun sistem pelaporan kekerasan seksual yang efektif di lingkungan kampus.

Setelah sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan tanya jawab interaktif dan pembacaan rangkuman oleh moderator yang menegaskan kembali pesan kunci seminar. Seluruh rangkaian acara menegaskan bahwa pendidikan tentang pengendalian diri, literasi gender, dan tarbiyatul jinsiyah merupakan langkah strategis dalam mewujudkan kampus yang aman, beretika, dan selaras dengan nilai-nilai Islam. (AR/AL)

 

Kampus Desa Mendunia !

 

#UINSaizu #PSGAUINSaizu #LiterasiGender #StopKekerasanSeksual #Kampusdesamendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *