Rektor UIN Saizu Purwokerto Jadi Pembahas Diskusi Paralel "Gender, Islamic Education, and Humanities Issues"

UINSAIZU.AC.ID- Ratusan karya ilmiah milik para dosen terbaik lintas negara dibedah, dalam gelaran Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-23 Tahun 2024. Mereka melakukan Diskusi Paralel di masing-masing kelompok yang ditunjuk panitia.
Digelar di Kampus UIN Walisongo Semarang, tema AICIS pada tahun ini adalah “Redefining The Roles of Religion in Addressing Human Crisis: Encountering Peace, Justice, and Human Rights Issues." Dari 328 pemakalah, ada delapan dosen berasal dari UIN Saizu Purwokerto.
Pada hari ini, Rektor UIN Saizu Purwokerto, Prof Ridwan juga berkesempatan menjadi Pembahas atau Discussant pada sesi paralel dengan tema "Gender, Islamic Education, and Humanities Issues." Selain Prof Ridwan, pembahas sesi paralel itu adalah Dr Mukhtar Hadi selaku Direktur Pascasarjana IAIN Metro Lampung.
Dipandu oleh Najichah, ada empat penyaji karya ilmiah dalam sesi paralel di Ruang Sembilan, Gedung Fakultas Sainstek Lantai 3, UIN Walisongo Semarang, Sabtu (3/2/2024). Penyaji pertama adalah Shofwan Al Jauhari dari IAIN Fattahul Muluk Papua.
Dia membahas karya ilmiah dengan judul "Larung Sesaji di Telaga Ngebel: Mengungkap Pandangan Tokoh Agama Ponorogo tentang Tradisi
Upacara Larung Sesaji di Telaga Ngebel Ponorogo."

Kemudian ada Fadlan Masykura Setiadi dari STAIN Mandailing Natal yang membahas karya ilmiah berjudul "Al-Qiyadat an-Nisaiyah li Binai as-Salam fi alMadaris al-Islamiyah at-Taqlidiyah fi Atsyih ma Ba’da as-Shira'."
Kemudian ada Lalu Gede Muhammad Zainuddin Atsani dari Institut Agama Islam Hamzanwadi Nahdlatul Wathan Lombok Timur. Dia membahas karya ilmiah dengan judul "Siti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid, Female Scholar of the 21st Century: Pioneer in Gender Transformation and Islamic Education in Lombok-West Nusa Tenggara."
Kemudian ada Muhammad Affan dari Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia. Dia membahas mengenai "Beyond Identity: Maritime Islam and Spices in Pre-Colonial Nusantara Melanesian in the Case of Papua and Tidore-Ternate Relations."
Prof Ridwan menyebutkan, AICIS menjadi forum akdemis yang sangat prestisius. Ini sekaligus tepat untuk merumuskan dan mendefiniskan kembali peran-peran agama dalam ikut menciptakan perdamaian dunia.
“Sisi menarik dari AICIS 2024 ini adalah forum tersebut tidak hanya berhenti pada perdebatan akademik-teoritis, tetapi juga mendialogkan dengan pengalaman empiris bagaimana agama mengambil peran strategis dalam menciptakan perdamaian dunia," ujarnya. (AR)
UIN Saizu Maju



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!