Rektor UIN Saizu: Dzikir dan Doa Bersama Jadi Ikhtiar Spiritual Menjaga Makna Kemerdekaan Indonesia

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya menjadi momentum mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga saat yang tepat untuk memperkuat dimensi spiritual dan kebangsaan.
Hal itu disampaikan Rektor Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Ridwan saat memberikan tanggapan mengenai urgensi pelaksanaan dzikir dan doa bersama sebagai refleksi kemerdekaan Republik Indonesia.
Menurut Prof. Ridwan, kemerdekaan merupakan nikmat besar dari Allah SWT yang diperoleh melalui perjuangan panjang para ulama, pahlawan, tokoh bangsa, dan seluruh rakyat Indonesia. Karena itu, peringatan kemerdekaan tidak semestinya hanya diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi momentum memperkuat rasa syukur, introspeksi, serta komitmen untuk mengisi kemerdekaan dengan karya terbaik bagi bangsa.
"Kemerdekaan bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan amanah yang harus dijaga. Dzikir dan doa bersama menjadi wujud rasa syukur kepada Allah SWT, sekaligus pengingat bahwa kemerdekaan lahir atas izin-Nya melalui perjuangan para pendahulu bangsa," ujar Prof. Ridwan.
Dia menjelaskan, dzikir memiliki makna mengingat Allah sebagai sumber segala nikmat, sementara doa merupakan ikhtiar spiritual untuk memohon keberkahan, keselamatan, persatuan, serta kemajuan Indonesia. Menurutnya, pembangunan bangsa tidak hanya membutuhkan kemajuan di bidang ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, dan teknologi, tetapi juga harus ditopang oleh kekuatan moral, spiritual, dan akhlak yang kokoh.
"Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju secara material, tetapi juga bangsa yang memiliki karakter, integritas, dan nilai-nilai keagamaan yang kuat. Spiritualitas harus menjadi fondasi dalam membangun Indonesia yang berkeadilan dan bermartabat," tegasnya.
Prof. Ridwan menambahkan, dzikir dan doa bersama juga menjadi bentuk penghormatan kepada jasa para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Melalui doa, generasi masa kini diajak untuk mengenang perjuangan mereka sekaligus memperkuat tekad menjaga persatuan dan semangat gotong royong.
Dia menilai tantangan kebangsaan saat ini semakin kompleks, mulai dari polarisasi sosial, penyebaran disinformasi, intoleransi, korupsi, hingga degradasi moral. Karena itu, refleksi kemerdekaan melalui kegiatan spiritual dinilai relevan untuk membangun kesadaran kolektif bahwa kemajuan bangsa harus berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan.
"Refleksi kemerdekaan melalui dzikir dan doa bersama mengingatkan kita bahwa membangun Indonesia tidak cukup dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga memerlukan kebijaksanaan spiritual. Dari sanalah lahir kejujuran, persatuan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama," katanya.
Rektor UIN Saizu juga mengajak seluruh sivitas akademika dan masyarakat menjadikan bulan kemerdekaan sebagai momentum memperkuat nasionalisme yang berpijak pada nilai-nilai keimanan dan kemanusiaan.
"Semangat kemerdekaan harus diwujudkan dalam pengabdian nyata. Setiap warga negara memiliki tanggung jawab menjaga persatuan, meningkatkan kualitas pendidikan, mengembangkan ilmu pengetahuan, memperkuat toleransi, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Itulah makna kemerdekaan yang sesungguhnya," ungkapnya.
Senada dengan semangat tersebut, Kementerian Agama Republik Indonesia menggelar Zikir dan Doa Kebangsaan di Lapangan Monas, Jakarta, pada Sabtu (1/8/2026) sebagai bagian dari rangkaian menyambut Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia.
Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar mengajak masyarakat menghadiri kegiatan yang menghadirkan Selawat Kebangsaan bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf serta doa lintas agama sebagai simbol persatuan bangsa.
Kegiatan yang akan berlangsung pukul 17.00–21.30 WIB itu diisi dengan khataman Al-Qur'an, salat Magrib berjemaah, hadrah, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, Selawat Kebangsaan, hingga doa bersama yang dipimpin para tokoh agama dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.
Prof. Ridwan berharap kegiatan serupa terus menjadi budaya positif di berbagai lembaga, termasuk perguruan tinggi, sebagai ruang mempererat ukhuwah, memperkuat moderasi beragama, dan membangun optimisme bersama menuju Indonesia yang maju, adil, makmur, serta mendapat ridha Allah SWT.
"Ketika doa dipanjatkan bersama dengan hati yang tulus, di situlah tumbuh harapan, persatuan, dan kekuatan moral untuk terus menjaga Indonesia. Semoga kemerdekaan menjadi jalan bagi lahirnya generasi yang unggul, berakhlak mulia, dan mampu membawa bangsa ini menuju masa depan yang lebih baik," pungkasnya. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!