Details

Refleksi Pengukuhan Guru Besar UIN Saizu Purwokerto: Ketua Senat Tegaskan Ilmu Tak Pernah Pensiun

UINSAIZU.AC.ID- Suasana khidmat menyelimuti Sidang Terbuka Senat Akademik Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto dalam rangka Pengukuhan Empat Guru Besar di Auditorium Utama UIN Saizu Purwokerto, Selasa (14/4/2026).

Momentum ini tidak sekadar seremoni akademik, melainkan menghadirkan ruang refleksi mendalam tentang makna ilmu, perjalanan intelektual, dan peran seorang akademisi di fase kematangan. Ketua Senat UIN Saizu, Prof. Abdul Wachid B.S., mengajak seluruh hadirin merenungi satu pertanyaan sederhana namun sarat makna: apakah ilmu memiliki usia pensiun?

Pengukuhan Guru Besar kerap dipahami sebagai puncak karier akademik. Namun dalam refleksi yang disampaikan Ketua Senat, momen ini justru menjadi penanda kesetiaan panjang terhadap ilmu pengetahuan sebuah perjalanan yang tidak berhenti pada jabatan atau struktur formal.

“Pengukuhan bukan sekadar seremoni. Ia adalah penanda ketekunan merawat pertanyaan dan kesabaran membaca zaman,” ungkapnya. Empat Guru Besar yang dikukuhkan, yakni Prof. Supani, Prof. Hariyanto, Prof. Achmad Siddiq, dan Prof. Nita Triana menjadi representasi dari perjalanan panjang tersebut.

Dalam perspektif yang lebih dalam, Prof. Abdul Wachid menegaskan bahwa yang sering kali berakhir hanyalah jabatan struktural, bukan peran keilmuan itu sendiri.
Ia membedakan antara “menjadi tua” dan “dituakan”. Dalam tradisi akademik, Guru Besar adalah sosok yang dituakan dirujuk karena kedalaman ilmu, keluasan pengalaman, dan kejernihan pandangan.

“Ilmu tidak pensiun. Ia hanya menunggu untuk dihidupkan dalam ruang-ruang baru,” tegasnya. Refleksi ini menjadi pengingat bahwa kontribusi akademik tidak dibatasi usia atau jabatan, melainkan terus bergerak melalui gagasan, bimbingan, dan karya ilmiah.

Dalam analogi yang puitis, Guru Besar diibaratkan sebagai akar yang menopang pohon besar. Semakin tua, semakin dalam akarnya menguatkan sekaligus menghubungkan antara nilai-nilai lokal dan cakrawala global. Di sisi lain, Guru Besar juga disebut sebagai “cahaya senja” tidak menyilaukan, namun menghadirkan kejernihan dalam melihat dunia.

Refleksi ini menempatkan Guru Besar sebagai simpul penting dalam ekosistem akademik: penghubung antara tradisi dan inovasi, antara pengalaman dan kemungkinan masa depan. Dalam konteks visi “Kampus Desa Mendunia” yang diusung UIN Saizu, peran Guru Besar menjadi semakin strategis.

Mereka tidak hanya memperluas jangkauan keilmuan, tetapi juga memperdalam makna dalam membaca realitas lokal. Kehadiran Guru Besar diharapkan mampu menghidupkan ruang-ruang intelektual, mulai dari pusat studi, forum pemikiran, hingga pembimbingan generasi muda.

Refleksi pengukuhan ini pada akhirnya bermuara pada satu pesan utama: ilmu adalah cahaya yang tidak pernah padam. Perguruan tinggi tidak hanya bertugas melahirkan cahaya baru, tetapi juga merawat cahaya yang telah matang. Dengan pengukuhan ini, UIN Saizu kembali meneguhkan komitmennya untuk menjadi kampus yang unggul, progresif, dan berdaya saing global.

Lebih dari itu, momentum ini menjadi pengingat bahwa perjalanan akademik sejatinya tidak memiliki garis akhir karena ilmu, pada hakikatnya, akan selalu menemukan jalannya untuk terus menerangi. (AR)

Kampus Desa Mendunia!

#UINSaizu #GuruBesar #PengukuhanGuruBesar #SidangSenatTerbuka #KampusDesaMendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *