Promosi Doktor UIN Saizu: Dr. Handoyo Teliti Kesadaran Zakat Pertanian Masyarakat Dieng, Ungkap Tiga Tipologi Religius Petani

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto kembali melahirkan doktor melalui ujian promosi doktor yang digelar di Ruang Ujian Doktor Pascasarjana, Rabu (22/7/2026).
Pada kesempatan tersebut, promovendus Handoyo berhasil mempertahankan disertasinya yang mengupas kesadaran sosial religius masyarakat petani di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, terhadap pelaksanaan zakat pertanian.
Disertasi berjudul "Kesadaran Sosial Religius Masyarakat Pegunungan Dieng Kabupaten Wonosobo terhadap Zakat Pertanian" tersebut mengangkat persoalan aktual mengenai rendahnya implementasi zakat pertanian di tengah tingginya produktivitas sektor hortikultura, khususnya komoditas kentang dan carica di kawasan Dieng.
Ujian promosi doktor berlangsung di hadapan tim penguji yang terdiri atas Prof. Suwito, Prof. Rohmat, Prof. Supani, Prof. Roqib, Prof. Sulkhan Chakim, Prof. Abdul Wachid B.S., dan Dr. Atabik.
Dalam disertasinya, Dr. Handoyo menyoroti fenomena menarik di masyarakat Pegunungan Dieng. Meski dikenal memiliki tingkat religiusitas yang tinggi serta kohesi sosial yang kuat, praktik zakat pertanian belum sepenuhnya terlaksana secara optimal.
Menurutnya, pelaksanaan zakat pertanian masih berada dalam dinamika antara kepatuhan terhadap ajaran agama, pengaruh tradisi lokal, serta pertimbangan ekonomi yang dihadapi para petani hortikultura.
Untuk mengungkap fenomena tersebut, Dr. Handoyo menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma fenomenologi. Penelitian dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan petani, kyai, tokoh agama, dan tokoh masyarakat, serta studi dokumentasi.
Data dianalisis menggunakan model interaktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Kajian tersebut diperkuat dengan teori konstruksi sosial Peter L. Berger, teori solidaritas sosial Émile Durkheim, serta konsep zakat pertanian dalam perspektif fikih kontemporer.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran sosial religius masyarakat Dieng terbentuk melalui internalisasi nilai-nilai keagamaan yang diperkuat oleh solidaritas sosial serta keyakinan terhadap keberkahan hasil bumi.
Dalam pandangan masyarakat, zakat tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban ibadah secara individual, tetapi juga menjadi bentuk rasa syukur, penguat hubungan sosial, sekaligus manifestasi keberagamaan.
Penelitian ini juga berhasil mengidentifikasi tiga tipologi kesadaran masyarakat dalam memaknai zakat pertanian, yaitu tradisional-mistik, yang memandang zakat sebagai jalan memperoleh keberkahan dan menjaga keseimbangan sosial. Kemudian, formal-legalistik, yang memahami zakat sebagai kewajiban berdasarkan ketentuan syariat Islam.
Selain itu, pragmatis-ekonomis, yang mempertimbangkan kondisi ekonomi petani, biaya produksi, keuntungan usaha tani, hingga beban utang sebelum menunaikan zakat.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa praktik zakat pertanian tidak hanya dipengaruhi oleh norma agama, tetapi juga dibentuk oleh tradisi lokal, struktur sosial, pengalaman ekonomi, dan pertimbangan rasional masyarakat agraris.
Dr. Handoyo juga menemukan bahwa kelompok pengajian desa dan lembaga amil zakat memiliki kontribusi penting dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kewajiban zakat pertanian.
Melalui kegiatan keagamaan dan sosialisasi, masyarakat memperoleh pengetahuan mengenai hukum zakat serta pentingnya distribusi kekayaan untuk membantu kelompok yang membutuhkan.
Namun demikian, implementasi zakat pertanian masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain tingginya biaya operasional pertanian, beban utang modal, ketidakpastian hasil panen, serta keterbatasan pemahaman mengenai fikih zakat pertanian kontemporer, khususnya terkait nisab dan penerapan qiyas terhadap komoditas hortikultura.

Selain itu, pola distribusi zakat masih didominasi penyaluran langsung melalui jaringan keluarga dan kekerabatan. Model ini dinilai mampu memperkuat solidaritas sosial masyarakat, tetapi belum memberikan dampak optimal terhadap program pengentasan kemiskinan secara berkelanjutan karena belum terintegrasi secara maksimal dengan lembaga pengelola zakat formal.
"Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan sosiologi agama, khususnya terkait relasi antara religiusitas, struktur sosial, dan praktik ekonomi dalam masyarakat agraris pegunungan," tegas Dr. Handoyo.
Berdasarkan hasil penelitiannya, Dr. Handoyo merekomendasikan penguatan literasi fikih zakat pertanian kepada masyarakat, optimalisasi peran lembaga zakat seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), serta pengembangan pendekatan kultural yang lebih adaptif dalam menyosialisasikan kewajiban zakat.
Menurutnya, strategi sosialisasi perlu mempertimbangkan karakter pertanian hortikultura, besarnya biaya produksi, siklus panen, tradisi lokal, hingga struktur sosial masyarakat Pegunungan Dieng agar pesan zakat dapat diterima secara lebih efektif.
Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pengembangan kebijakan zakat pertanian sekaligus memperkaya khazanah sosiologi agama, khususnya mengenai hubungan antara religiusitas, budaya lokal, struktur sosial, dan praktik ekonomi masyarakat agraris.
Promosi Dr. Handoyo sekaligus menegaskan komitmen Pascasarjana UIN Saizu Purwokerto dalam melahirkan doktor yang mampu menghadirkan riset berbasis realitas masyarakat.
Melalui penelitian yang kontekstual, aplikatif, dan solutif, Pascasarjana UIN Saizu terus memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan keilmuan Islam yang responsif terhadap persoalan sosial dan berkontribusi nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!