Details

Prof. Mukri Dorong Dosen UIN Saizu Integrasikan Moderasi Beragama dalam Pembelajaran

UINSAIZU.AC.ID- Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar, Prof. Moh. Mukri mendorong para dosen Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto untuk mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama dalam setiap proses pembelajaran.

Menurut Prof. Mukri yang merupakan Rektor UIN Raden Intan Lampung periode 2010-2015, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman bangsa.

Pesan tersebut disampaikan Prof. Mukri saat menjadi narasumber dalam Workshop Wawasan Kebangsaan dan Moderasi Beragama bagi Dosen yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Saizu di Ruang Sidang Terbuka Gedung Pascasarjana, Rabu (1/7/2026).

Workshop yang dibuka oleh Rektor UIN Saizu Purwokerto, Prof. Ridwan itu diikuti para dosen sebagai bagian dari penguatan kapasitas akademik, wawasan kebangsaan, serta implementasi moderasi beragama di lingkungan perguruan tinggi. Hadir pula Dr. (H.C.) Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama RI periode 2014–2019 sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya yang bertajuk "Epistemologi Moderasi Beragama: Meneguhkan Nalar Inklusif dan Penguatan Nilai Keindonesiaan di Ranah Akademik", Prof. Mukri menekankan bahwa moderasi beragama tidak boleh berhenti sebagai konsep, tetapi harus menjadi bagian dari praktik pendidikan di kampus.

Menurutnya, dosen memiliki posisi sentral dalam membentuk pola pikir dan karakter mahasiswa melalui proses pembelajaran. "Moderasi beragama harus diintegrasikan dalam pembelajaran. Dosen bukan hanya menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun cara berpikir mahasiswa agar mampu menghargai perbedaan dan hidup berdampingan dalam masyarakat yang majemuk," ujarnya.

Dia menilai proses pembelajaran merupakan ruang paling efektif untuk menanamkan nilai-nilai toleransi, kebangsaan, dan penghormatan terhadap keberagaman. Prof. Mukri menjelaskan bahwa seseorang tidak akan mampu bersikap moderat tanpa memiliki pemahaman agama yang benar.

Pihaknya membagi pemahaman agama ke dalam tiga level, yakni agama sebagai wahyu Allah, ilmu agama sebagai hasil kajian dan ijtihad para ulama, serta beragama sebagai implementasi ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Mengutip pandangan Prof. M. Quraish Shihab, ia mengibaratkan agama sebagai sebuah hidangan yang sempurna.

Para ulama bertugas menyajikan hidangan tersebut melalui ilmu agama, sedangkan masyarakat menikmati dan mengamalkannya dalam kehidupan. "Moderasi beragama berada pada tataran praktik. Praktik yang baik hanya dapat lahir dari pemahaman agama yang benar," jelasnya.

Prof. Mukri menegaskan bahwa istilah moderat tidak melekat pada agama, melainkan pada umat yang menjalankan ajaran agama. Dia merujuk Surah Al-Baqarah ayat 143 yang menyebut umat Islam sebagai ummatan wasathan atau umat pertengahan.

Menurutnya, menjadi umat yang moderat bukan sesuatu yang terjadi secara otomatis, tetapi membutuhkan proses pendidikan, pembinaan, dan pembiasaan yang berkelanjutan. "Menjadi pribadi moderat adalah proses. Karena itu perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter tersebut," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Mukri memaparkan lima karakter yang harus dimiliki seorang dosen agar mampu menjadi teladan dalam moderasi beragama. Kelima karakter tersebut meliputi memiliki ilmu yang memadai, mampu mengendalikan emosi, berakhlak mulia, memiliki sifat pemaaf, serta memiliki empati terhadap sesama.

Menurutnya, karakter tersebut menjadi bekal penting bagi dosen dalam membangun budaya akademik yang damai, inklusif, dan menghargai keberagaman. "Dosen harus mampu menghadirkan keteladanan. Mahasiswa tidak hanya belajar dari materi kuliah, tetapi juga dari sikap dan perilaku dosennya," ujarnya.

Prof. Mukri menilai dosen memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan sekaligus arsitek rekonsiliasi di tengah masyarakat Indonesia yang plural. Karena itu, ia mengajak seluruh dosen untuk terus meningkatkan kualitas akademik sekaligus berkontribusi menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

"Setiap kita harus menjadi bagian dari terselenggaranya kebaikan. Untuk menghadirkan moderasi sebagai bagian dari kebaikan itu diperlukan kekompakan. Moderasi akan melahirkan toleransi," tegasnya.

Dia juga mendorong para dosen terus mengembangkan kompetensi hingga mencapai jenjang guru besar agar semakin besar kontribusinya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam memahami ajaran agama, Prof. Mukri mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pendekatan tekstual dan kontekstual.

Menurutnya, dosen perlu menghindari cara pandang yang terlalu kaku dalam memahami teks agama, tetapi juga tidak terjebak pada liberalisme yang mengabaikan metodologi keilmuan. "Keseimbangan itulah yang akan melahirkan cara pandang moderat dalam memahami agama," jelasnya.

Prof. Mukri menegaskan bahwa moderasi beragama di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari komitmen terhadap empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menurutnya, keempat pilar tersebut menjadi fondasi dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman agama, budaya, dan suku. "Nilai-nilai kebangsaan dan nilai-nilai keagamaan harus berjalan beriringan agar Indonesia tetap menjadi bangsa yang rukun dan harmonis," katanya.

Melalui workshop ini, UIN Saizu terus memperkuat komitmennya dalam membangun budaya akademik yang moderat, inklusif, dan berwawasan kebangsaan. Penguatan moderasi beragama tidak hanya diwujudkan melalui seminar dan workshop, tetapi juga diarahkan untuk terintegrasi dalam kurikulum, proses pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dengan langkah tersebut, UIN Saizu berharap mampu melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, memiliki karakter moderat, serta siap menjadi agen perdamaian dan persatuan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. (AR)

Kampus Desa Mendunia!

#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *