Details

Prodi BKI UIN Saizu dan ABKIN Jateng Siapkan Konselor Hadapi Tantangan Era Deep Learning

 

UINSAIZU.AC.ID - Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Fakultas Dakwah UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto berkolaborasi dengan Pengurus Daerah Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) Jawa Tengah menyelenggarakan Simposium Bimbingan dan Konseling pada Sabtu, 31 Januari 2026.

Bertempat di Hall Perpustakaan UIN Saizu, simposium ini mengangkat tema strategis mengenai masa depan profesi konselor dalam ekosistem deep learning dan kecerdasan artifisial. Agenda ini dirancang sebagai wadah penguatan kompetensi bagi para konselor, guru BK, dan mahasiswa agar tetap kompetitif di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi dengan kehadiran 150 praktisi secara luring yang merupakan perwakilan guru BK jenjang SMP, MTs, MA, SMK, dan SMA dari wilayah Banyumas, Purbalingga, hingga Banjarnegara. Selain itu, sebanyak 350 peserta turut bergabung secara daring melalui ruang virtual, sehingga total partisipan mencapai 500 orang.

Tingginya angka kepesertaan ini menunjukkan besarnya perhatian para praktisi pendidikan terhadap integrasi teknologi mutakhir ke dalam layanan bimbingan dan konseling masa kini.
Dekan Fakultas Dakwah UIN Saizu, Dr. Muskinul Fuad dalam sambutannya sebagai keynote speaker menekankan bahwa penguasaan literasi digital merupakan syarat mutlak bagi konselor masa depan.

"Konselor perlu menguasai literasi digital dan memahami cara kerja kecerdasan artifisial agar dapat memberikan layanan yang relevan di masa depan, tanpa kehilangan sentuhan humanis sebagai ciri khas profesi konseling," tegas Dr. Muskinul Fuad di hadapan ratusan peserta simposium.


Pemaparan materi teknis diawali oleh Prof. Adi Atmoko, selaku Wakil Rektor I Universitas Negeri Malang. Prof. Adi menjelaskan urgensi asesmen yang adaptif dan holistik melalui pendekatan deep learning untuk mengoptimalkan pembelajaran berdiferensiasi.

Dalam presentasinya, ia menjelaskan bahwa teknologi pembelajaran mendalam dapat membantu konselor memahami kebutuhan unik peserta didik secara lebih akurat. "Asesmen berbasis deep learning mampu memberikan data yang lebih presisi sehingga intervensi yang dilakukan konselor menjadi lebih tepat sasaran," ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut, Dr. Heru Mugiarso dari Universitas Negeri Semarang meninjau aspek teknologi dari perspektif multikultural. Ia menyoroti bahwa kemampuan konselor dalam memahami latar belakang budaya peserta didik tetap menjadi elemen krusial yang tidak boleh terpinggirkan saat teknologi mulai mengambil peran besar dalam proses identifikasi serta intervensi.

Pemahaman budaya ini menjadi filter agar penggunaan teknologi tetap menjunjung tinggi nilai-nilai lokal dan kemanusiaan. Jalannya diskusi yang dinamis dipandu oleh Adhitya Ridwan Budhi Prasetyo Nugroho, dosen sekaligus alumni berprestasi Prodi BKI UIN Saizu.

Dengan gaya komunikasi yang sistematis dan hangat, ia berhasil menjembatani dialog antara narasumber dan peserta sehingga tercipta ruang tukar praktik baik mengenai penerapan teknologi dalam layanan konseling. Melalui simposium ini, UIN Saizu berkomitmen memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi profesi guna mencetak konselor yang adaptif, profesional, serta mampu menjawab tantangan zaman tanpa mengabaikan etika profesi. (AL/AR)

 

Kampus Desa Mendunia !

 

#UINSaizu #BKI #BKI #Konselor #Deeplearning #Kampusdesamendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *