Pesan Ramadan Wakil Direktur Pascasarjana UIN Saizu: Jangan Sampai Menjadi Golongan yang Lalai Mengingat Allah

UINSAIZU.AC.ID- Wakil Direktur Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Dr. Atabik, mengajak umat Islam menjadikan Bulan Ramadan sebagai momentum untuk memperkuat keimanan dan meningkatkan kesadaran spiritual agar tidak menjadi golongan yang lalai kepada Allah SWT.
Hal itu disampaikan Dr. Atabik saat memberikan tausiyah dalam program Lentera Ramadan UIN Saizu Purwokerto. Menurutnya, manusia harus selalu bersyukur atas nikmat iman dan Islam yang diberikan oleh Allah SWT serta terus memohon agar keimanan tersebut tetap kokoh hingga akhir hayat.
“Kita harus senantiasa bersyukur atas nikmat iman dan Islam serta memohon kepada Allah agar iman kita tetap kokoh hingga kita kembali kepada-Nya dalam keadaan husnul khatimah,” ujarnya.
Dr. Atabik menjelaskan bahwa Al-Qur’an telah memberikan peringatan agar manusia tidak menjadi golongan yang melupakan Allah. Ia merujuk pada Surah Al-Hasyr ayat 19 yang mengingatkan agar manusia tidak seperti orang-orang yang lupa kepada Allah sehingga Allah membuat mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.
Menurutnya, lupa kepada Allah bukan sekadar lupa secara biasa, tetapi juga berarti melupakan ajaran, perintah, dan larangan yang telah ditetapkan dalam agama. “Ketika seseorang lupa kepada Allah, maka ia juga akan lupa terhadap jati dirinya sebagai makhluk yang memiliki kewajiban dan tanggung jawab,” jelasnya.
Dia menambahkan bahwa kondisi tersebut dapat membuat seseorang tidak lagi menyadari konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan, termasuk dampak dari pelanggaran terhadap ajaran agama.

Dalam penjelasannya, Dr. Atabik menyebutkan bahwa dalam terminologi bahasa Arab terdapat beberapa istilah yang menggambarkan kondisi lupa. Pertama adalah nisyan, yaitu lupa yang terjadi karena hilangnya ingatan secara tidak disengaja. Jenis lupa ini umumnya masih dapat dimaklumi.
Kedua adalah sahwu, yaitu lupa karena seseorang kehilangan konsentrasi, seperti yang sering terjadi dalam salat sehingga disyariatkan sujud sahwi. Namun yang paling berbahaya adalah ghaflah, yaitu kondisi lalai yang terjadi karena kesengajaan dan ketidakpedulian seseorang terhadap peringatan Allah.
Dia menegaskan bahwa Al-Qur’an menggambarkan orang yang berada dalam kondisi ghaflah sebagai golongan yang sangat merugi. Menurut Dr. Atabik, Al-Qur’an bahkan menggambarkan orang-orang yang lalai sebagai lebih sesat daripada binatang ternak karena mereka memiliki hati, mata, dan telinga, tetapi tidak digunakan untuk memahami kebenaran.
“Golongan yang disebut ghafilun adalah orang-orang yang paling berbahaya karena kelalaiannya terjadi secara sadar,” katanya. Ia mengingatkan agar umat Islam menjadikan Ramadan sebagai sarana memperbaiki diri dan memperbanyak aktivitas yang mendekatkan diri kepada Allah.
Di akhir pesannya, Dr. Atabik mengajak umat Islam untuk memanfaatkan Ramadan dengan memperbanyak zikir, tadarus Al-Qur’an, serta merenungkan ciptaan Allah. Dia berharap momentum Ramadan dapat membentuk pribadi yang selalu ingat kepada Allah dalam setiap keadaan.
“Mari kita jadikan Ramadan ini sebagai momentum untuk semakin mengingat Allah dalam setiap kondisi dan menjauhkan diri dari sifat lalai,” pungkasnya. Dengan memperkuat kesadaran spiritual selama Ramadan, ia berharap umat Islam dapat terhindar dari golongan orang-orang yang lalai dan mampu menjalani kehidupan dengan lebih bermakna serta penuh keimanan. (AR/TA)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!