Pesan Penting Ketua Senat UIN Saizu Sambut Mahasiswa Baru: PBAK Jadi Pintu Masuk Tradisi Keilmuan

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto resmi menyambut ribuan mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027, melalui Sidang Senat Terbuka Penyambutan Mahasiswa Baru dan Pembukaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026.
Ketua Senat UIN Saizu Purwokerto, Prof. Abdul Wachid B.S. menyampaikan sejumlah pesan penting kepada para mahasiswa baru, agar menjadikan masa perkuliahan sebagai perjalanan untuk membangun ilmu, adab, integritas, dan kemampuan memberi manfaat bagi masyarakat.
Pidato Ketua Senat tersebut dibacakan oleh Ketua Komisi C Senat UIN Saizu Purwokerto, Prof. Syufaat dalam rangkaian Sidang Senat Terbuka penyambutan mahasiswa baru dan pembukaan PBAK UIN Saizu 2026. “Generasi Saizu, selamat datang di kampus Saudara!” demikian pesan pembukanya.
Dalam sambutannya, Prof. Abdul Wachid mengajak mahasiswa baru untuk bersyukur atas keberhasilan melewati proses seleksi dan menjadi bagian dari perguruan tinggi.
Namun, dia mengingatkan bahwa keberhasilan diterima di perguruan tinggi bukanlah akhir dari perjuangan. Justru, status sebagai mahasiswa menandai dimulainya perjalanan baru yang membutuhkan kesungguhan, mental belajar, dan tanggung jawab.
“Berhasil masuk perguruan tinggi adalah sebuah pencapaian; menjadi mahasiswa yang sungguh-sungguh adalah perjalanan yang baru dimulai.” ujarnya. Menurut dia, masa depan mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh perguruan tinggi tempat mereka belajar, tetapi juga oleh mental dan sikap yang dibawa selama menjalani proses pendidikan.
Kampus menyediakan berbagai kesempatan, sedangkan dosen membuka jalan menuju ilmu. Perpustakaan, laboratorium, ruang kelas, dan lingkungan akademik juga menyediakan berbagai kemungkinan untuk berkembang. Namun, seluruh fasilitas tersebut baru akan menjadi kekuatan apabila mahasiswa mampu memanfaatkannya secara sungguh-sungguh.
Ketua Senat UIN Saizu mendorong mahasiswa baru agar tidak menjadikan nilai sebagai satu-satunya tujuan dalam menjalani perkuliahan. Mahasiswa diharapkan hadir di ruang kelas bukan hanya untuk memperoleh nilai, tetapi juga untuk membangun kemampuan berpikir.
“Jangan hanya hadir di kelas untuk mendapatkan nilai. Datanglah untuk memperoleh cara berpikir. Bertanyalah. Bacalah. Berdiskusilah,” pesannya. Mahasiswa juga diminta memanfaatkan dosen dan seluruh sumber belajar yang tersedia di lingkungan kampus.
Menurutnya, tradisi akademik yang kuat dibangun melalui perpaduan antara kesempatan belajar dan etos akademik yang baik. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan mampu menjadi pembelajar aktif yang tidak hanya menunggu pengetahuan diberikan, tetapi memiliki rasa ingin tahu untuk mencari, menguji, mendiskusikan, dan mengembangkan pengetahuan.

Dalam pidatonya, Prof. Abdul Wachid juga memberikan gambaran tentang tradisi keilmuan di sejumlah universitas besar dunia. Dia mencontohkan Leiden University yang menempatkan kebebasan akademik berjalan bersama tanggung jawab untuk menghormati ruang berpikir orang lain.
Dia juga menyebut Australian National University sebagai contoh lingkungan akademik yang mengajarkan mahasiswa untuk menghargai sumber pengetahuan. Gagasan orang lain, menurutnya, tidak boleh diambil begitu saja dan kemudian diakui sebagai milik sendiri.
Tradisi tersebut menunjukkan bahwa perbedaan pendapat dan sikap kritis tetap dapat berjalan beriringan dengan integritas akademik. “Mereka boleh berbeda pendapat, tetapi tidak kehilangan integritas. Mereka boleh kritis, tetapi tetap menghormati,” pesannya.
Dalam konteks UIN Saizu, prinsip tersebut dapat diterjemahkan sebagai bagian dari adab dalam menuntut ilmu. Salah satu pesan utama Ketua Senat adalah pentingnya membangun keseimbangan antara ilmu dan adab.
Menurutnya, mahasiswa UIN Saizu tidak cukup hanya menjadi pribadi yang memiliki kemampuan akademik. Mereka juga harus mampu menunjukkan sikap yang membuat kemampuan tersebut dapat dipercaya. “Ilmu membuat seseorang mampu. Adab membuat kemampuan itu layak dipercaya.”
Karena itu, mahasiswa baru diminta membangun karakter melalui kejujuran dalam belajar, keberanian mengakui ketidaktahuan, kesediaan menerima kritik, penghormatan kepada dosen dan sesama mahasiswa, serta tanggung jawab dalam menggunakan ilmu.
Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa adab bukan sekadar pelengkap dalam pendidikan tinggi keagamaan. Justru, UIN Saizu diharapkan mampu menunjukkan bahwa ilmu dan adab dapat tumbuh secara bersamaan.
Ketua Senat juga memberikan pesan sederhana tetapi mendalam kepada mahasiswa baru tentang pentingnya kerendahan hati dalam belajar. Mahasiswa tidak perlu takut mengakui ketika belum mengetahui sesuatu. Kesadaran atas keterbatasan pengetahuan justru menjadi titik awal dari proses pencarian ilmu.
“Jangan takut mengatakan, ‘Saya belum tahu.’ Dari kesadaran itulah pencarian ilmu dimulai,” pintanya. Sikap tersebut penting untuk membangun budaya akademik yang sehat. Mahasiswa perlu memiliki keberanian untuk bertanya, berdiskusi, menerima koreksi, dan terus memperbaiki pemahaman.
Selain itu, mahasiswa juga diingatkan untuk menjunjung tinggi etika akademik ketika menggunakan gagasan atau karya orang lain. Ketika menggunakan pemikiran orang lain, mahasiswa harus mencantumkan sumbernya.
Hal tersebut bukan sekadar persoalan teknis penulisan ilmiah, tetapi bagian dari sikap menghargai ilmu dan orang yang menghasilkan pengetahuan tersebut. “Ilmu tidak hanya mengajarkan apa yang benar, tetapi juga mengajarkan bagaimana kita bersikap benar terhadap kebenaran,” demikian pesan Ketua Senat.

Dalam pidatonya, Prof. Abdul Wachid juga menegaskan bahwa PBAK UIN Saizu 2026 tidak boleh dipandang hanya sebagai kegiatan seremonial untuk menyambut mahasiswa baru.
PBAK menjadi pintu awal bagi mahasiswa untuk mengenal dan memasuki tradisi akademik di lingkungan UIN Saizu. “PBAK bukan sekadar acara penyambutan. PBAK adalah pintu masuk ke dalam tradisi keilmuan,” terang dia.
Karena itu, mahasiswa baru diminta mengikuti seluruh rangkaian PBAK dengan rasa ingin tahu dan kesungguhan. PBAK diharapkan menjadi momentum bagi mahasiswa untuk mengenal lingkungan kampus, memahami budaya akademik, membangun jejaring, serta mempersiapkan diri menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.
Mahasiswa juga diajak untuk memandang PBAK sebagai langkah awal perjalanan panjang sebelum nantinya menyelesaikan pendidikan dan kembali ke tengah masyarakat dengan membawa ilmu serta pengalaman yang diperoleh selama berada di kampus.
Ketua Senat mengingatkan mahasiswa baru agar tidak menjadikan gelar sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan selama menempuh pendidikan di UIN Saizu. Mahasiswa diharapkan meninggalkan kampus dengan lebih dari sekadar ijazah. Mereka harus membawa ilmu yang mendalam, adab yang kokoh, serta kemampuan memberikan manfaat.
“Masuklah dengan rasa ingin tahu, jalani dengan ketekunan, dan kelak tinggalkan kampus ini bukan hanya dengan gelar, tetapi dengan ilmu yang mendalam, adab yang kokoh, dan kemampuan memberi manfaat,” pesannya.
Pesan tersebut menjadi arah penting bagi mahasiswa baru dalam menjalani kehidupan akademik. Perjalanan di perguruan tinggi diharapkan tidak hanya membentuk kompetensi profesional, tetapi juga membentuk karakter dan tanggung jawab sosial.
Menutup pidatonya, Prof. Abdul Wachid kembali menegaskan bahwa kampus dan dosen hanya dapat membuka kesempatan serta jalan bagi mahasiswa. Adapun keberhasilan dalam menjalani proses pendidikan tetap membutuhkan kemauan dan kesungguhan dari mahasiswa itu sendiri.
“Kampus memberi kesempatan. Dosen membuka jalan. Tetapi Saudara sendiri yang harus berjalan.” Dia kemudian menyampaikan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru UIN Saizu Purwokerto.
Mahasiswa diharapkan menjalani kehidupan akademik dengan semangat belajar, ketekunan, integritas, dan adab yang baik sehingga mampu tumbuh menjadi manusia yang berilmu dan bermanfaat.
“Selamat datang di UIN Saizu. Selamat belajar, selamat bertumbuh, dan selamat menempuh perjalanan menjadi manusia yang berilmu, beradab, dan bermanfaat,” pesannya. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!