Pesan Ekoteologi Ramadan dari Dekan FTIK UIN Saizu: Rawat Alam, Jangan Eksploitatif!

UINSAIZU.AC.ID- Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Fauzi, mengajak umat Islam untuk memperkuat kesadaran ekoteologi di bulan Ramadan. Ia menegaskan bahwa rasa syukur atas nikmat Allah SWT harus diwujudkan dalam tindakan nyata merawat dan menjaga kelestarian alam.
Dalam tausiyahnya di program Lentera Ramadan UIN Saizu Purwokerto, Prof. Fauzi menyampaikan bahwa Indonesia sebagai bagian dari ciptaan Allah dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa. Namun, anugerah tersebut sekaligus menjadi tanggung jawab besar bagi manusia sebagai khalifah di bumi.
Prof. Fauzi mengawali pesannya dengan mengingatkan pentingnya bersyukur atas nikmat Allah SWT, termasuk nikmat berupa alam semesta yang indah, lengkap, dan makmur sumber daya. Ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an, “Dialah yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk kamu.”
Menurutnya, ayat tersebut menjadi landasan teologis bahwa manusia diberi mandat untuk memanfaatkan bumi secara bijak, bukan merusaknya. “Pertanyaannya bukan lagi apa yang Allah berikan kepada kita, tetapi apa yang kita lakukan atas anugerah tersebut,” tegasnya.
Prof. Fauzi merinci dua hal penting yang harus dilakukan umat Islam dalam konteks ekoteologi.
Pertama, manusia harus aktif dan proaktif merawat, melestarikan, serta memanfaatkan sumber daya alam secara produktif dan konstruktif. Pengelolaan yang benar akan menghadirkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat luas.
Dia juga menyoroti komitmen Kementerian Agama dalam mendorong program ekoteologi sebagai bagian dari agenda prioritas. Konsep ini menempatkan manusia sebagai khalifatullah fil ardh yang bertanggung jawab atas keberlanjutan lingkungan.
“Alam harus kita manfaatkan dengan cara yang benar dan baik, bukan dengan pendekatan eksploitatif yang berlebihan,” ujarnya.
Kedua, masyarakat harus mengambil peran aktif dalam mencegah kerusakan lingkungan. Menurutnya, berbagai bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah menjadi pengingat keras atas pentingnya menjaga keseimbangan ekologis.
Dia menyinggung peristiwa alam yang terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, hingga sejumlah daerah sekitar Purwokerto dan kabupaten tetangga Banyumas. Peristiwa tersebut, kata dia, bisa menjadi refleksi bahwa ada persoalan dalam cara manusia mengelola lingkungan.
“Jangan sampai kita menjadi pribadi-pribadi yang merusak bumi. Setiap langkah yang berpotensi menimbulkan kerusakan harus kita hentikan,” tegasnya.
Prof. Fauzi juga menekankan pentingnya pendidikan berbasis kepedulian lingkungan sejak usia dini. Ia mengajak keluarga untuk menanamkan kecintaan terhadap seluruh ciptaan Allah kepada anak-anak.
Menurutnya, kesadaran ekologis tidak bisa muncul secara instan. Pendidikan harus membangun pemahaman bahwa alam adalah amanah yang wajib dijaga dan diberdayakan secara bertanggung jawab. “Tanamkan sejak dini bahwa alam ini untuk kita, tetapi juga harus kita rawat dan pelihara,” pesannya.
Momentum Ramadan, lanjut Prof. Fauzi, menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat refleksi spiritual sekaligus komitmen sosial dan ekologis. Ibadah tidak hanya dimaknai sebagai ritual, tetapi juga sebagai upaya menjaga harmoni antara manusia dan alam.
Dia berharap masyarakat mampu memanfaatkan potensi diri secara maksimal untuk menjaga bumi dari kerusakan, sehingga terhindar dari mafsadat dan bencana. “Allah menyayangi kita dengan memberikan alam yang indah dan kaya. Maka kita pun wajib menjaga dan merawatnya dengan penuh tanggung jawab,” pungkasnya. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #Purwokerto #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!