Menyemai Cinta untuk Mengubah Wajah Pendidikan Indonesia: Dari Ruang Kelas hingga Peradaban Semesta
.jpeg)
UINSAIZU.AC.ID- Pendidikan bukan sekadar proses memindahkan ilmu dan keterampilan dari guru kepada murid. Lebih dari itu, pendidikan sejati adalah penanaman nilai, pembentukan karakter, dan penguatan akhlak yang berakar pada cinta.
Pandangan ini disampaikan Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Prof. Fauzi, yang menegaskan bahwa cinta adalah energi dasar dalam membangun relasi sehat antara pendidik, peserta didik, lingkungan belajar, dan nilai spiritualitas.
Menurutnya, gagasan besar Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar melalui Kurikulum Berbasis Cinta yang baru saja diluncurkan sebagai bagian dari Program Prioritas Strategis (Protas). Ini menjadi momentum penting untuk memaknai ulang arah pendidikan nasional.
“Kurikulum berbasis cinta bukan sekadar wacana indah, melainkan sebuah jawaban atas pendidikan yang terlalu fokus pada kognisi, sementara aspek emosional dan spiritual kerap diabaikan," tegas Prof. Fauzi.
Mengembalikan Jiwa Pendidikan di Era Globalisasi
Di tengah derasnya arus globalisasi, pendidikan sering terjebak pada capaian akademik dan standar penilaian, sementara dimensi kemanusiaan terlupakan. Menurut Prof. Fauzi, pendidikan harus kembali dipahami sebagai jalan menyemai cinta demi kehidupan yang lebih bermakna.
Cinta dalam pendidikan bukan hanya sikap, tetapi nilai dasar yang mewarnai seluruh proses belajar mengajar. Ketika guru mengajar dengan empati, dosen mendengar keluhan mahasiswa dengan tulus, atau murid merasa aman untuk bertanya, di situlah cinta bekerja.
Lima Pilar Kurikulum Berbasis Cinta
Kurikulum ini berlandaskan lima pilar yang disebut Panca Cinta, yaitu:
1. Cinta Tuhan Yang Maha Esa
Memahami Tuhan sebagai Zat penuh kasih sayang, meneladani sifat rahmah-Nya, dan menanamkan kesadaran bahwa setiap ilmu adalah cahaya cinta-Nya.
2. Cinta Ilmu
Mendorong rasa ingin tahu, menghargai proses belajar, dan memandang ilmu sebagai cahaya yang menerangi kehidupan.
3. Cinta Diri dan Sesama Manusia
Menghargai diri sebagai ciptaan Tuhan dan membangun empati terhadap orang lain.
4. Cinta Lingkungan
Menjaga kelestarian alam sebagai wujud syukur dan tanggung jawab moral.
5. Cinta Tanah Air
Menumbuhkan nasionalisme yang berlandaskan rasa syukur dan komitmen untuk berkontribusi bagi bangsa.
Dalam perspektif pendidikan Islam, cinta adalah inti misi kenabian. Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Pendidikan berbasis cinta membebaskan peserta didik dari rasa takut, tekanan, dan kekerasan simbolik.
“Guru bukan sekadar pengajar, tapi juga penyemai kasih, pengasuh nilai, dan penjaga kemanusiaan. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi rumah yang menumbuhkan," ujar Prof. Fauzi.
Cinta dalam pendidikan harus hadir di seluruh lini:
1. Dalam keluarga
Sebagai sekolah pertama, keluarga membentuk rasa aman dan kasih yang menjadi fondasi tumbuhnya empati.
2. Di sekolah
Guru mengajar dengan penghargaan terhadap keunikan murid, membangun budaya anti perundungan, dan menumbuhkan rasa ingin tahu.
3. Dalam komunitas
Solidaritas, dialog, dan saling menghargai harus menjadi bagian dari kehidupan sosial peserta didik.
4. Dalam ekologi
Pendidikan cinta mengajarkan menjaga bumi bukan sekadar sebagai kewajiban, tetapi sebagai bentuk rasa sayang terhadap kehidupan itu sendiri.
Prof. Fauzi menegaskan, pendidikan cinta dimulai sejak dalam kandungan. Dalam Islam, kata rahim memiliki akar yang sama dengan rahmah, yang berarti kasih sayang Ilahi. Cinta dari rahim ibu adalah pengalaman pertama manusia tentang kasih, yang seharusnya menjadi dasar dalam pendidikan sejak dini.
Gagasan kurikulum berbasis cinta adalah upaya berani melawan arus pendidikan yang kering makna. Tujuannya bukan hanya mencetak manusia pintar, tetapi manusia yang peduli, menghargai, dan memelihara kehidupan. “Jika pendidikan adalah perjalanan, maka cinta adalah arah sekaligus bahan bakarnya,” kata Prof. Fauzi.
Cinta dalam pendidikan harus disemai di rumah, sekolah, ruang komunitas, hingga kebijakan nasional. Hanya pendidikan yang dibangun di atas cinta yang mampu melahirkan peradaban yang memanusiakan manusia. (AR)
UIN Saizu Maju, UIN Saizu Unggul!!!
#UINSaizu #UINSaizuHebat #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #FTIKJuara #BravoFTIK #Banyumas2025



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!