Details

Makna Nuzulul Quran: Guru Besar UIN Saizu Ajak Umat Jadikan Al-Qur’an Pedoman Hidup, Bukan Sekadar Seremonial

UINSAIZU.AC.ID- Peringatan Nuzulul Quran setiap bulan Ramadan sering kali hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial. Padahal, peristiwa turunnya Al-Qur’an memiliki makna yang jauh lebih mendalam bagi kehidupan umat Islam.

Hal tersebut disampaikan oleh Guru Besar Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Abdul Basit dalam Podcast Nastar (Nasihat Ramadan) Fakultas Dakwah yang membahas pentingnya memaknai Al-Qur’an secara lebih mendalam.

Menurut Prof. Basit, yang merupakan dosen Fakultas Dakwah, secara bahasa Nuzulul Quran berarti turunnya Al-Qur’an. Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya kitab suci sebagai petunjuk bagi manusia.

“Al-Qur’an turun pada bulan Ramadan. Para ulama yang paling masyhur menyebutkan bahwa wahyu pertama turun pada tanggal 17 Ramadan, yaitu Surah Al-Alaq ayat 1 sampai 5,” jelasnya.

Dia menegaskan bahwa makna paling mendasar dari Nuzulul Quran bukan sekadar memperingati turunnya wahyu, tetapi bagaimana manusia mampu memfungsikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa kitab suci tersebut merupakan “hudan linnas” atau petunjuk bagi manusia, sekaligus “bayyinat minal huda wal furqan”, yaitu penjelas kebenaran serta pembeda antara yang benar dan yang batil. “Makna paling penting dari Nuzulul Quran adalah bagaimana Al-Qur’an itu benar-benar dijadikan petunjuk dalam kehidupan kita,” ujarnya.

Prof. Basit menilai, salah satu penyebab peringatan Nuzulul Quran sering berhenti pada kegiatan simbolik adalah karena minat umat Islam untuk mendalami Al-Qur’an masih rendah.

Banyak orang hanya membaca Al-Qur’an tanpa berusaha memahami makna yang terkandung di dalamnya. Padahal, Al-Qur’an diturunkan bukan sekadar untuk dibaca, tetapi juga untuk dipahami dan diamalkan. “Bagaimana Al-Qur’an bisa menjadi petunjuk jika kita sendiri tidak memahami makna dari apa yang kita baca,” katanya.

Selain itu, ia juga menyoroti fenomena generasi muda di era digital yang cenderung menyukai informasi singkat dan instan. Kondisi ini membuat proses pendalaman Al-Qur’an yang membutuhkan keseriusan dan waktu menjadi kurang diminati.

“Generasi sekarang cenderung menyukai konten yang cepat seperti video pendek atau podcast singkat. Sementara memahami Al-Qur’an membutuhkan kesabaran dan kesungguhan,” ungkapnya.

Agar Al-Qur’an benar-benar memberikan dampak dalam kehidupan, Prof. Basit menekankan pentingnya tadabur, yaitu merenungkan dan memahami kandungan ayat-ayat Al-Qur’an.

Ia mengutip pemikiran ulama kontemporer Yusuf Al-Qaradawi yang menjelaskan bahwa interaksi dengan Al-Qur’an tidak hanya sebatas membaca, tetapi juga mencakup lima hal, yaitu membaca, menghafal, mentadaburi, mengamalkan, dan mendakwahkan.

“Kalau hanya membaca tanpa memahami maknanya, maka dampaknya akan sangat terbatas,” jelasnya. Dalam momentum Ramadan, banyak umat Islam berlomba-lomba mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali. Meskipun hal tersebut bernilai ibadah, Prof. Basit mengingatkan agar tidak melupakan aspek pemahaman.

Dia menyarankan agar umat Islam mulai membaca Al-Qur’an secara perlahan sambil memahami maknanya, meskipun hanya satu ayat setiap hari. “Lebih baik membaca satu ayat lalu dipahami dan direnungkan maknanya, daripada membaca banyak tetapi tidak mengerti pesan yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.

Dia juga mendorong umat Islam untuk memulai dari surah-surah pendek di Juz Amma, yang banyak berisi penguatan akidah dan keimanan.

Menurut Prof. Basit, bulan Ramadan seharusnya menjadi momentum bagi umat Islam untuk membuat target spiritual yang jelas, seperti meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an, memahami tafsir, atau menambah hafalan.

“Ramadan itu sebaiknya dikelola seperti manajemen kehidupan. Ada perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Kita harus punya target apa yang ingin dicapai selama Ramadan,” jelasnya.

Dengan cara tersebut, seseorang dapat mengevaluasi apakah Ramadan yang dijalani benar-benar membawa perubahan dalam dirinya.

Prof. Basit juga menyinggung kisah Umar bin Khattab yang tersentuh hatinya setelah membaca ayat Al-Qur’an hingga akhirnya memeluk Islam. Kisah tersebut menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Al-Qur’an bagi seseorang yang benar-benar memahami maknanya.

“Ketika Umar membaca Al-Qur’an dan memahami maknanya, ia menyadari bahwa ayat-ayat tersebut bukanlah karya manusia. Dari situlah hatinya tersentuh,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman spiritual seperti itu dapat dirasakan oleh siapa saja jika mampu memahami dan menghayati isi Al-Qur’an. Di akhir dialog, Prof. Basit berharap generasi muda menjadikan peringatan Nuzulul Quran sebagai momentum untuk memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an.

Dia mengajak generasi muda untuk tidak hanya membaca, tetapi juga memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalam kitab suci tersebut. “Jangan sampai Ramadan hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa perubahan. Jadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup yang benar-benar kita pahami dan amalkan,” pungkasnya. (AR/TA)

Kampus Desa Mendunia!

#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *