Details

Mahasiswa HTN UIN Saizu Kenalkan Lengger Banyumas lewat Poster di SeIBa International Festival 2026

PADANG, UINSAIZU.AC.ID - Komitmen Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto dalam menginternasionalkan budaya lokal kembali ditunjukkan melalui partisipasi mahasiswanya pada SeIBa International Festival (SIF) IV Tahun 2026 di UIN Imam Bonjol Padang.

Salah satu delegasi UIN Saizu Purwokerto, Devanu Zovika Praditama, memperkenalkan kekayaan budaya Banyumas melalui presentasi poster bertema "Pelestarian dan Pengenalan Budaya Daerah Banyumas melalui Seni Tari Lengger."

Mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara (HTN) tersebut memanfaatkan ajang internasional sebagai ruang untuk mengenalkan Lengger Banyumas, kesenian tradisional yang telah lama menjadi identitas budaya masyarakat Banyumas, kepada peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia maupun mancanegara.

Presentasi yang disampaikan Devanu tidak hanya menampilkan karya desain visual, tetapi juga mengajak audiens memahami nilai sejarah, filosofi, dan pentingnya menjaga warisan budaya di tengah derasnya arus globalisasi.

Dalam pemaparannya di hadapan dewan juri dan peserta festival, Devanu mengawali presentasi dengan memperkenalkan dirinya sebagai mahasiswa UIN Saizu Purwokerto sekaligus menjelaskan alasan memilih tema Lengger Banyumas.

Devanu menuturkan bahwa Lengger merupakan salah satu ikon budaya yang melekat kuat dengan masyarakat Banyumas. Namun, perkembangan teknologi, modernisasi, dan masuknya budaya populer membuat pengetahuan generasi muda terhadap kesenian tradisional mulai mengalami penurunan.

Berangkat dari kondisi tersebut, Devanu menghadirkan sebuah poster yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu menjadi media edukasi bagi masyarakat. Menurutnya, pelestarian budaya harus dilakukan melalui berbagai pendekatan kreatif, agar lebih mudah diterima oleh generasi muda.

"Poster ini saya hadirkan sebagai media komunikasi yang mengajak masyarakat mengenal kembali Lengger Banyumas sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk ikut melestarikannya," jelas Devanu saat melakukan presentasi.

Dalam penjelasannya, Devanu menegaskan bahwa Lengger Banyumas memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding sekadar hiburan. Menurutnya, kesenian tersebut merupakan simbol identitas masyarakat Banyumas yang diwariskan secara turun-temurun dan mengandung nilai sejarah, tradisi, kebersamaan, serta kreativitas masyarakat lokal.

Dia menjelaskan bahwa setiap unsur dalam pertunjukan Lengger mencerminkan kekayaan budaya Banyumas yang patut dijaga sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia.

Karena itu, Devanu berharap masyarakat, khususnya generasi muda, tidak hanya mengenal Lengger sebagai tarian tradisional, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. "Ketika budaya tetap hidup, identitas suatu daerah juga akan tetap terjaga. Oleh karena itu, pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama," ujarnya.

Pada sesi presentasi, Devanu juga menguraikan konsep visual yang digunakan dalam poster. Dia memilih dominasi warna oranye dan kuning keemasan sebagai simbol semangat, optimisme, dan kekayaan budaya Banyumas.

Warna cokelat digunakan untuk menggambarkan nilai tradisional serta kearifan lokal, sedangkan warna hijau melambangkan kehidupan dan keberlanjutan budaya. Sebagai elemen utama, poster menampilkan sosok penari Lengger yang dipadukan dengan motif batik serta ornamen khas Jawa.

Menurut Devanu, penempatan penari Lengger sebagai fokus utama bertujuan memperkuat identitas visual Banyumas sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima secara cepat oleh masyarakat.

Sementara itu, susunan informasi dalam poster dibuat secara bertahap, mulai dari pengenalan Lengger Banyumas, penjelasan mengenai keunikannya, hingga ajakan untuk melestarikan budaya daerah. Dengan konsep tersebut, poster diharapkan mampu menggabungkan fungsi edukasi dan estetika sekaligus menjadi media promosi budaya yang efektif.

Melalui karya yang dipresentasikan, Devanu mengajak generasi muda untuk memiliki rasa bangga terhadap budaya daerahnya sendiri. Menurutnya, kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi tidak boleh menghilangkan kecintaan terhadap budaya lokal.

Sebaliknya, perkembangan zaman harus dimanfaatkan sebagai peluang untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia melalui berbagai media kreatif.

Devanu meyakini bahwa pelestarian budaya akan berjalan lebih efektif apabila melibatkan anak muda sebagai pelaku utama, baik melalui karya seni, media digital, penelitian, maupun promosi budaya di forum internasional.

Pada bagian penutup presentasinya, Devanu menyampaikan pesan yang mendapat apresiasi dari peserta. "Budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi jati diri yang harus kita jaga untuk masa depan. Melalui Lengger Banyumas, saya ingin menunjukkan bahwa melestarikan budaya berarti menjaga identitas bangsa."

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa budaya bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga fondasi karakter bangsa yang perlu diwariskan kepada generasi mendatang. Keikutsertaan Devanu dalam SeIBa International Festival menjadi bagian dari upaya UIN Saizu memperluas kiprah mahasiswa di tingkat internasional.

Melalui forum ini, mahasiswa tidak hanya berkompetisi, tetapi juga memperkenalkan budaya Nusantara kepada peserta dari berbagai negara. Partisipasi dalam kompetisi poster budaya menunjukkan bahwa internasionalisasi kampus tidak hanya diwujudkan melalui bidang akademik dan penelitian, tetapi juga melalui diplomasi budaya yang memperkenalkan kekayaan tradisi Indonesia kepada dunia.

SeIBa International Festival IV merupakan ajang kolaborasi perguruan tinggi yang menghadirkan berbagai kompetisi akademik, seminar internasional, presentasi ilmiah, pertunjukan seni, dan pameran budaya.

Mengusung tema "Sustainable from Nusantara to Global Harmony," festival ini diikuti ratusan peserta dari perguruan tinggi di Indonesia maupun luar negeri sebagai ruang memperkuat jejaring akademik sekaligus memperkenalkan keberagaman budaya.

Bagi UIN Saizu Purwokerto, partisipasi mahasiswa dalam festival tersebut menjadi bukti nyata bahwa kampus terus mendorong lahirnya generasi yang unggul secara akademik, berwawasan global, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian budaya bangsa.

Melalui presentasi poster Lengger Banyumas, Devanu Zovika Praditama berhasil membawa nama UIN Saizu sekaligus memperkenalkan salah satu warisan budaya Banyumas kepada dunia internasional. Penampilan tersebut menjadi pengingat bahwa budaya lokal memiliki nilai universal yang layak dikenal, diapresiasi, dan dijaga bersama sebagai bagian dari identitas Indonesia. (AR)

 

Kampus Desa Mendunia!

 

#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *