Details

Lewat Shortcourse Interfaith Islamic Studies, Pascasarjana UIN Saizu Perkuat Dialog Lintas Agama bagi Mahasiswa Internasional

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Pascasarjana Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto kembali memperkuat peran sebagai kampus berwawasan global melalui penyelenggaraan Shortcourse Interfaith Islamic Studies.

Dosen UIN Saizu Purwokerto sekaligus panitia kegiatan, Dr. Akhmad Sulaiman, mengatakan, program akademik ini dirancang untuk memperluas pemahaman mahasiswa internasional mengenai sejarah, dinamika, serta praktik dialog lintas agama dalam perspektif akademik.

Kegiatan berlangsung selama tiga hari, mulai 13–15 Juli 2026, di Ruang PPs 9 Pascasarjana UIN Saizu Purwokerto. Shortcourse menghadirkan akademisi dan praktisi yang memiliki kepakaran di bidang kajian hubungan Islam dan Kristen, sekaligus memperkenalkan pendekatan dialogis dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai dan inklusif.

Selama pelaksanaan program, peserta mendapatkan materi yang disusun secara sistematis untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai perkembangan hubungan Islam dan Kristen dari masa ke masa. Pada hari pertama, Cyprian Jean Marie menyampaikan dua materi, yakni "The Christian Background to the Coming of Islam" serta "The Changing Balance of Power: Mission and Imperialism?".

Melalui kedua sesi tersebut, peserta diajak memahami latar belakang historis munculnya Islam dalam lingkungan masyarakat Kristen, sekaligus menelaah perubahan relasi antara kedua agama dalam konteks penyebaran agama, kekuasaan, hingga imperialisme.

Memasuki hari kedua, sesi pembelajaran dipandu oleh Bayu Aji, SJ bersama Abel. Keduanya mengangkat tema "The Islamic Impact" dan "The Medieval Period II: Confrontation or Interaction in the West?". Materi tersebut membahas kontribusi besar peradaban Islam terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, kebudayaan, hingga peradaban Barat.

Selain itu, peserta juga diajak memahami dinamika hubungan Islam dan Kristen pada era abad pertengahan, baik dalam bentuk konfrontasi maupun kerja sama intelektual. Diskusi berlangsung secara interaktif sehingga peserta dapat melihat perkembangan hubungan antaragama dari berbagai perspektif sejarah dan akademik.

Pada hari ketiga, Jeff Ryan Miraflor Duc membawakan materi "Dialogue or Confrontation?" dan "The First Age of Christian-Muslim Interaction". Melalui sesi ini, peserta mendalami berbagai bentuk interaksi awal antara umat Islam dan Kristen, mulai dari hubungan yang bersifat konfrontatif hingga berkembang menjadi dialog yang lebih konstruktif.

Sementara itu, Laurencius Rony dan Sukmin Hong melengkapi pembahasan melalui materi "The Medieval Period I: Confrontation or Interaction in the East?" serta "New Thinking in the 19th/13th and 20th/14th Centuries". Kedua materi tersebut menyoroti perkembangan pemikiran baru mengenai hubungan Islam dan Kristen yang menjadi landasan penting bagi praktik dialog lintas agama di era modern.

Melalui rangkaian materi tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan historis mengenai hubungan Islam dan Kristen, tetapi juga mendapatkan pemahaman akademik tentang pentingnya membangun komunikasi, saling menghormati, serta memperkuat kolaborasi antarumat beragama dalam masyarakat yang multikultural.

Pendekatan yang digunakan dalam shortcourse menekankan pentingnya kajian ilmiah yang objektif sehingga mahasiswa mampu memahami keberagaman secara kritis sekaligus membangun sikap toleran berdasarkan landasan akademik.

Dr. Akhmad Sulaiman menyebutkan, program ini dirancang sebagai ruang pembelajaran yang mendorong peserta memahami sejarah hubungan antaragama secara objektif.

"Melalui Shortcourse Interfaith Islamic Studies ini, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang mendorong peserta memahami sejarah relasi antaragama secara objektif dan akademis. Dialog yang baik selalu diawali dengan pemahaman yang benar terhadap pihak lain," ujarnya.

Menurutnya, pemahaman yang komprehensif mengenai sejarah hubungan Islam dan Kristen menjadi modal penting dalam membangun dialog yang sehat di tengah masyarakat global yang semakin plural.

Penyelenggaraan Shortcourse Interfaith Islamic Studies menjadi bagian dari komitmen Pascasarjana UIN Saizu dalam menciptakan atmosfer akademik bertaraf internasional sekaligus memperkuat implementasi moderasi beragama di lingkungan perguruan tinggi.

Program ini juga mendukung visi UIN Saizu sebagai perguruan tinggi Islam yang unggul, progresif, integratif, dan berdaya saing global. Melalui kegiatan akademik semacam ini, mahasiswa diharapkan memiliki wawasan internasional, kemampuan berpikir kritis, serta kesiapan menjadi agen perdamaian yang mampu membangun jembatan dialog antarperadaban melalui pendekatan ilmiah.

Dengan menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang dan perspektif, Pascasarjana UIN Saizu terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat pendidikan Islam yang inklusif, terbuka terhadap dialog, dan relevan dengan tantangan masyarakat global di abad ke-21. (AR)

Kampus Desa Mendunia!

#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *