Lewat Puisi, Kontingen Mahasiswa Internasional UIN Saizu Raih Juara II PORSI JAWARA II 2026

PEKALONGAN, UINSAIZU.AC.ID- Kisah perjalanan seorang mahasiswa internasional menemukan rumah di Indonesia dituangkan dalam bait-bait puisi oleh Brahim Abdoulaye, kontingen mahasiswa Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto asal Kamerun.
Karya tersebut mengantarkan mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Saizu Purwokerto tersebut meraih Juara II Cabang Cipta dan Baca Puisi Mahasiswa Asing pada ajang PORSI JAWARA II 2026 di UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan, Jumat (11/9/2026).
Penampilan Brahim berlangsung di Meeting Room Fakultas Syariah UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan bersama mahasiswa internasional dari berbagai perguruan tinggi. Cabang perlombaan yang berlangsung pukul 07.30 hingga 12.00 WIB tersebut menghadirkan suasana penuh penghayatan, ekspresi, dan kreativitas sastra lintas budaya.
Brahim membawakan puisi berjudul “Koper yang Menemukan Rumah”, sebuah karya yang berangkat dari pengalaman pribadinya ketika pertama kali tiba di Indonesia. Puisi tersebut menceritakan perjalanan dari Kamerun menuju Jakarta, kemudian melanjutkan perjalanan hingga Purwokerto untuk menempuh pendidikan di UIN Saizu.
Dalam puisinya, Brahim menggambarkan perasaan asing dan gugup ketika pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia. Perbedaan bahasa dan budaya sempat membuatnya mengalami culture shock. Namun, pengalaman tersebut perlahan berubah setelah ia merasakan keramahan masyarakat Indonesia.
Salah satu pengalaman yang membekas dalam puisinya adalah ketika seorang ibu di sebuah warung menyodorkan teh hangat dan bertanya, “Sudah makan?” Bagi Brahim, pertanyaan sederhana tersebut menjadi simbol kepedulian yang membuatnya merasa tidak sendirian di negeri yang sebelumnya terasa asing.
Kehangatan tersebut kemudian menjadi benang merah karya Brahim. Ia menggambarkan bagaimana perjalanan yang awalnya dipenuhi kerinduan terhadap keluarga dan tanah kelahiran perlahan berubah menjadi pengalaman menemukan rumah baru. Gunung Slamet yang menjadi bagian dari lanskap Purwokerto juga hadir dalam puisinya sebagai simbol perjalanan dalam berdamai dengan rasa rindu.
Melalui pembacaan yang penuh penghayatan, Brahim berhasil memperoleh nilai 355 poin dan menempati posisi Juara II. Sementara itu, Juara I diraih Adul Sapae-Ing dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dengan nilai 395 poin. Juara III diraih Haishahni Binti Sahari dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan nilai 344 poin.

Brahim mengungkapkan bahwa puisi tersebut memiliki kedekatan emosional karena bersumber dari pengalaman yang benar-benar ia alami selama berada di Indonesia.
“Puisi ini sebenarnya cerita saya sendiri sejak pertama kali datang ke Indonesia. Awalnya saya merasa asing dan mengalami culture shock, tetapi kemudian saya menemukan banyak orang yang memberikan kehangatan dan membuat saya merasa diterima,” ungkap Brahim.
Menurut Brahim, pengalaman hidup di Indonesia memberinya pemahaman bahwa rasa kemanusiaan dapat melampaui perbedaan bahasa, budaya, dan kewarganegaraan. Hal tersebut pula yang ingin ia sampaikan melalui karya yang dibawakannya dalam kompetisi.
Pesan tersebut tergambar kuat pada bagian akhir puisinya. Brahim menggambarkan koper yang semula hanya berisi mimpi dan keberanian kecil, kemudian dipenuhi pengalaman, wajah-wajah yang ia kasihi, serta berbagai cerita selama berada di Indonesia. Pada akhirnya, ia menyadari bahwa rumah bukan hanya tentang tempat asal, tetapi juga tentang rasa diterima dan kehangatan yang ditemukan dalam perjalanan.
Sebelum pengumuman pemenang, salah satu dewan juri, Prof. Abdul Wachid B.S., memberikan evaluasi kepada para peserta. Guru besar sekaligus sastrawan Indonesia tersebut menyoroti sejumlah aspek penting dalam pembacaan puisi, termasuk kepercayaan diri dan kemampuan peserta mengelola energi ketika tampil di hadapan penonton.
“Dalam penampilan ada banyak aspek yang harus diperhatikan, termasuk personal dari negara asal tidak bisa kita kesampingkan. Dan yang perlu diperhatikan adalah penilaian kepercayaan diri. Karena ketika maju dan disaksikan akan mempengaruhi energi. Dopamin naik dan akhirnya lepas kendali, intonasi jadi tidak sesuai,” ungkap Prof. Abdul Wachid.
Selain Prof. Abdul Wachid B.S., penilaian juga dilakukan oleh Nur Rozak atau Ayak Rozak, sutradara dan pegiat teater dari Batang, serta Ahmad Samuel Jogawi, penulis dan penyair Indonesia asal Pekalongan. Ketiganya memberikan penilaian terhadap aspek cipta karya sekaligus performa peserta dalam membawakan puisi.
Bagi Brahim, capaian Juara II di PORSI JAWARA II 2026 menjadi pengalaman penting dalam perjalanan akademik dan kreativitasnya sebagai mahasiswa asing di UIN Saizu. Sebelumnya, ia juga pernah membawakan puisi dalam Talkshow “Ramadan Bersama Gen Z Lintas Negara” yang berlangsung di Auditorium UIN Saizu pada Maret 2026.
Melalui puisi dan pengalaman tersebut, Brahim tidak hanya memperkenalkan kisah personal seorang mahasiswa asing, tetapi juga menghadirkan cerita tentang perjumpaan budaya. Dari seorang pendatang yang sempat mencari jalan pulang, ia perlahan menemukan bahwa kehangatan manusia dapat membuat sebuah tempat yang jauh dari tanah kelahiran terasa seperti rumah. (AL/AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #PrestasiMahasiswa #PORSIJAWARAII #MahasiswaInternasional #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!