Lentera Ramadan UIN Saizu: Prof Suwito Kupas Kekuatan Spiritual, Benteng Utama di Era Digital

UINSAIZU.AC.ID- Wakil Rektor I UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Suwito, menegaskan pentingnya memperkuat spiritualitas selama Bulan Ramadan sebagai benteng utama menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern, terutama di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh media sosial.
Hal tersebut disampaikan dalam program Lentera Ramadan UIN Saizu Purwokerto, yang rutin menghadirkan pesan-pesan keagamaan bagi masyarakat luas selama bulan suci. Dalam tausiyahnya, Prof Suwito mengawali dengan mengajak umat Islam untuk senantiasa bersyukur atas nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan yang masih diberikan Allah SWT hingga dapat kembali bertemu dengan Ramadan.
Dia menekankan bahwa Ramadan bukan sekadar bulan ibadah biasa, melainkan momentum strategis untuk memperkuat dimensi spiritual manusia. “Ramadan adalah bentuk kasih sayang Allah SWT kepada kita. Di bulan ini, kita diberi tambahan nutrisi spiritual agar jiwa kita kembali hidup, aktif, dan menyala,” ujarnya.
Menurutnya, spiritual yang hidup akan memberikan dampak besar dalam kehidupan, terutama dalam membangun ketahanan diri dari berbagai pengaruh negatif. Prof Suwito menjelaskan bahwa kekuatan utama manusia terletak pada kondisi kalbu atau hati. Kalbu yang sehat akan lebih mudah menerima petunjuk dan hidayah dari Allah SWT.
Dia mengutip pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Maidah ayat 105 yang menekankan pentingnya menjaga diri sendiri. “Ketika seseorang memiliki kebaikan dalam dirinya, maka keburukan dari luar tidak akan berpengaruh. Ini karena ia sudah memiliki petunjuk yang kuat,” jelasnya.
Sebagai ilustrasi, ia menggambarkan seseorang yang mengetahui arah tujuan tidak akan mudah tertipu oleh informasi yang salah. “Kalau kita sudah tahu arah yang benar, kita tidak akan mengikuti orang yang menyesatkan. Begitu juga dalam kehidupan, orang yang memiliki petunjuk tidak akan mudah terpengaruh keburukan,” tambahnya.
Lebih jauh, Prof Suwito menyoroti tantangan besar yang dihadapi masyarakat saat ini, yakni pengaruh teknologi dan media sosial yang semakin masif.
Menurutnya, tanpa bekal spiritual yang kuat, seseorang sangat rentan terjerumus dalam berbagai bentuk keburukan, mulai dari informasi yang menyesatkan hingga perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama. “Pengaruh media sosial itu luar biasa. Tapi orang yang memiliki kebeningan spiritual akan tetap kuat dan tidak mudah terbawa arus,” tegasnya.
Dia menambahkan, kalbu yang bersih akan mampu menangkap sinyal-sinyal hidayah, bahkan dari hal-hal kecil yang sering tidak disadari oleh orang lain. Sebaliknya, kalbu yang sakit akan sulit menerima kebenaran, meskipun telah diperlihatkan berbagai tanda.
Dalam penjelasannya, Prof Suwito juga menekankan bahwa puasa tidak hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan latihan pengendalian diri secara menyeluruh. Ia menyinggung kisah dalam Al-Qur’an tentang pasukan Thalut yang diuji untuk menahan diri dari minum sebagai bentuk disiplin dan ketaatan.
“Puasa itu sejatinya mengatur hawa nafsu. Jika seseorang mampu mengendalikan nafsunya, maka aspek batiniahnya akan menjadi sangat kuat,” ungkapnya. Menurutnya, keberhasilan dalam mengendalikan diri inilah yang menjadi kunci terbentuknya pribadi yang tangguh dan berintegritas.
Di akhir tausiyah, Prof Suwito mengajak umat Islam untuk menjadikan Ramadan sebagai titik awal perubahan menuju pribadi yang lebih baik. Ia berharap, ibadah yang dilakukan selama Ramadan tidak hanya berdampak sementara, tetapi mampu membentuk karakter yang kuat dan konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
“Puasa adalah rahmat dan kesempatan luar biasa dari Allah SWT. Kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin agar spiritual kita terus hidup, tumbuh, dan selalu terhubung dengan-Nya,” tutupnya. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!