Details

Kuwat Nurrohman: Dari Keterbatasan Fisik, Mahasiswa FUAH UIN Saizu Raih Prestasi di Ajang Peduli Arsip Unsoed

UINSAIZU.AC.ID- Di sebuah ruangan yang bersejarah, Gedung Arsip Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), suasana terasa khidmat pada Kamis, 25 September 2025.

Di antara deretan finalis yang hadir dalam Final Lomba Penulisan Opini Berdampak bertema “Peduli Arsip”, ada satu sosok yang menarik perhatian banyak orang: Kuwat Nurrohman.

Dia adalah mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto.

Kuwat hadir dengan semangat penuh, membawa karya esainya yang berjudul “Arsip Bukan Sampah”. Dengan keterbatasan fisik sebagai penyandang disabilitas, langkahnya menuju panggung lomba bukan hanya tentang menulis, melainkan juga tentang keberanian menembus batas.

Arsip Bukan Sekadar Kertas Tua

Bagi banyak orang, arsip mungkin hanya tumpukan kertas lama yang berdebu. Namun, di mata Kuwat, arsip adalah nyawa sejarah. Dalam esainya, ia menegaskan bahwa arsip menyimpan memori bangsa yang tak ternilai. Jika arsip diabaikan, maka sejarah pun terancam hilang.

“Saya ingin membuktikan bahwa mahasiswa disabilitas juga bisa bersuara lewat tulisan. Arsip itu bukan sekadar kertas tua, melainkan nyawa sejarah. Kalau arsip dianggap sampah, maka sejarah kita akan ikut hilang,” ujar Kuwat penuh keyakinan setelah pengumuman hasil lomba.

Pesan ini menggema di antara peserta dan juri, seakan menjadi pengingat bahwa menulis bukan sekadar menuangkan kata, tetapi juga menyalakan kesadaran kolektif.

Dukungan dari Lingkungan Akademik

Acara ini dihadiri pimpinan perguruan tinggi, mulai dari Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum Unsoed, Prof. Dr. Kuat Puji Prayitno, hingga jajaran kepala biro dan tim kearsipan.

Kehadiran mereka menunjukkan betapa pentingnya membangun budaya kearsipan di kalangan mahasiswa lintas kampus.

Panitia juga menghadirkan juri dari berbagai latar belakang profesional, menegaskan bahwa penilaian dilakukan dengan objektif. Dari enam finalis, ide-ide segar tentang kearsipan mengalir deras.

Nama Kuwat pun akhirnya diumumkan sebagai Juara Harapan I, sebuah pencapaian yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi UIN Saizu.

Melampaui Podium, Menjadi Inspirasi

Prestasi ini bukan sekadar angka di papan lomba. Lebih dari itu, kehadiran Kuwat Nurrohman di panggung final menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak pernah membatasi ruang pikir dan daya juang.

Ia menulis dengan hati, menyuarakan kepedulian, dan menghadirkan refleksi mendalam bagi siapa pun yang membaca tulisannya.

Pameran arsip “Unsoed Tempo Doeloe" yang digelar bersamaan semakin memperkuat pesan pentingnya arsip. Generasi muda diajak menyadari bahwa arsip bukan hanya dokumen administrasi, melainkan identitas bangsa dan sumber inspirasi.

Pesan untuk Generasi

Kuwat Nurrohman telah membuktikan bahwa suara mahasiswa bisa menggetarkan ruang publik, bahkan dari sebuah tulisan opini. Ia bukan hanya menorehkan prestasi, melainkan juga meninggalkan jejak inspirasi.

Lewat karyanya, Kuwat mengingatkan kita semua: arsip adalah warisan, dan menjaga arsip berarti menjaga sejarah bangsa. (AR)

UIN Saizu Maju, UIN Saizu Unggul!!!

#uinsaizu #uinsaizupurwokerto #uinsaizumaju #uinsaizuunggul #FUAHUINSaizu #MahasiswaBerprestasi

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *