Kontingen Prosiding UIN Saizu Raih The Best Presenter di SEIBA International Festival 2025, Angkat Budaya Banyumasan ke Dunia

UINSAIZU.AC.ID- Kontingen Prosiding UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto kembali menorehkan prestasi gemilang. Dalam ajang bergengsi 3rd SEIBA International Festival 2025 yang digelar di UIN Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat, mereka berhasil meraih penghargaan The Best Presenter.
Keberhasilan ini diraih oleh Tubagus Naufal Ramadhan, Laeli Muflikhah, Asri Yulisawati, dan Yusuf Maulana, yang tampil penuh percaya diri di hadapan audiens internasional. Dalam presentasi ilmiah yang disampaikan, kontingen UIN Saizu mengangkat kekayaan budaya Banyumasan, mulai dari Begalan, Lengger Banyumasan, Sedekah Laut Cilacap, hingga bahasa Ngapak.
Tak sekadar menjelaskan, mereka berhasil menyuguhkan penelitian mendalam dengan pendekatan akademis. Budaya lokal itu ditampilkan bukan hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai nilai luhur yang menyimpan filosofi kehidupan.
“Awalnya berat, tapi setiap kali membicarakan Begalan dan budaya Banyumasan lainnya, selalu muncul energi baru,” ujar Laeli Muflikhah penuh semangat.
Perjalanan menuju panggung internasional ini tidak instan. Selama berbulan-bulan, mereka dibimbing oleh Dr. Warto, dosen UIN Saizu, untuk menyusun artikel ilmiah dengan format IMRADICF yang kompleks. Diskusi, riset lapangan, hingga latihan presentasi dilakukan dengan serius.
Yusuf Maulana bahkan mengenang bagaimana mereka merekam diri saat latihan. “Awalnya kaku dan canggung, tapi dari situ kami belajar untuk percaya diri,” kenangnya sambil tersenyum.
Asri Yulisawati menambahkan pengalaman pribadinya saat meneliti tradisi Sedekah Laut di Cilacap. “Saya ikut doa bersama nelayan. Rasanya merinding melihat kebersamaan dan rasa syukur mereka. Itu yang ingin kami sampaikan: budaya bukan sekadar tontonan, tapi juga tuntunan,” ucapnya lirih.
Menurut Dr. Warto, keberhasilan ini memiliki makna lebih dari sekadar medali. “Saya ingin mahasiswa merasakan sendiri bahwa budaya kita menyimpan nilai besar. Tugas mereka adalah membawa nilai itu ke ruang ilmiah agar dunia tahu, Indonesia kaya akan peradaban, khususnya Banyumas,” ujarnya.
Bagi Tubagus Naufal Ramadhan dan tim, pencapaian ini adalah perjalanan berharga. Mereka bukan hanya menulis prosiding, tetapi juga belajar mencintai warisan leluhur. “Kalau bukan kita, generasi muda, siapa lagi yang akan menjaga budaya Banyumasan?” tutup Tubagus dengan bangga.
Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UIN Saizu Purwokerto mampu bersaing di level internasional, sekaligus memperkenalkan budaya lokal ke dunia. (AR)
Kampus Desa Mendunia
#UINSaizu #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!