Details

Komunitas SABUDAYA Resmi Dibentuk, Kebangkitan Gerakan Sastra dan Budaya Mahasiswa di UIN Saizu Dimulai

UINSAIZU.AC.ID - Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto kembali melahirkan ruang kreatif mahasiswa melalui Pelantikan Pengurus Komunitas Sastra, Bahasa, dan Budaya Indonesia (SABUDAYA) di Aula Fakultas Dakwah Kampus 2 di Purbalingga, Rabu (13/5/2026).

Pelantikan Pengurus SABUDAYA menjadi momentum penting kebangkitan gerakan sastra dan budaya mahasiswa di lingkungan kampus. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian Workshop Simfoni Sastra yang dihadiri sekitar 100 peserta dari kalangan mahasiswa lintas jurusan, pegiat literasi, komunitas sastra, hingga masyarakat umum.

Kehadiran SABUDAYA lahir dari kegelisahan mahasiswa terhadap minimnya wadah resmi di bidang sastra, bahasa, dan budaya di lingkungan kampus. Padahal, wilayah Banyumas dikenal memiliki sejarah panjang dalam perkembangan sastra Indonesia melalui tradisi literasi, ruang budaya, dan gerakan kepenulisan alternatif yang tumbuh dari generasi ke generasi.

Sejak siang hari, aula kegiatan dipenuhi peserta dari berbagai program studi Fakultas Dakwah dan Fakultas Sains dan Teknologi Kampus 2 UIN Saizu di Purbalingga. Sejumlah mahasiswa dari Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto juga turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Peserta tampak aktif mencatat materi, berdiskusi, hingga mengikuti sesi tanya jawab bersama para pemateri sampai sore hari. Bahkan, beberapa mahasiswa masih bertahan selepas acara untuk berdialog dan memperlihatkan karya tulis mereka kepada narasumber.

Suasana hangat dan penuh antusiasme semakin terasa saat prosesi pelantikan pengurus SABUDAYA berlangsung. Pelantikan Pengurus SABUDAYA dilakukan oleh Muhammad Fathan Al-Kubro setelah dirinya lebih dulu dilantik sebagai Kepala Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) oleh Prof. Abdul Wachid B.S. selaku Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya atau LK Nura UIN Saizu Purwokerto.

Prosesi pelantikan berlangsung khidmat dengan pembacaan komitmen bersama pengurus SABUDAYA untuk menjadikan komunitas tersebut sebagai ruang kreatif mahasiswa di bidang sastra, bahasa, dan budaya. Tepuk tangan panjang peserta mengiringi pelantikan tersebut sebagai simbol lahirnya ruang literasi baru di lingkungan mahasiswa UIN Saizu.

Dalam sambutannya, Prof. Abdul Wachid B.S. menegaskan pentingnya menghidupkan kembali gerakan literasi mahasiswa agar tradisi kepenulisan yang telah tumbuh di UIN Saizu sejak awal 2000-an tidak terputus.

Menurutnya, banyak penulis dan pegiat sastra Banyumas lahir dari gerakan komunitas mahasiswa yang berkembang secara organik dari bawah, bukan hanya dari ruang kelas formal.

“Mahasiswa jangan hanya menjadi konsumen budaya dan media sosial. Kampus harus melahirkan penulis, penyair, dan pemikir yang mampu merawat kebudayaannya melalui karya,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak hanya berfokus mengejar sertifikat dan kelulusan akademik tanpa meninggalkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat. “Sastra adalah cara mahasiswa menjaga nurani di tengah budaya scrolling dan kehidupan yang serba instan,” tambahnya.

Prof. Abdul Wachid turut menegaskan gagasannya mengenai kampus sebagai “rumah peradaban”, yakni ruang yang tidak hanya mencetak lulusan akademik, tetapi juga menumbuhkan manusia dengan kepekaan budaya, daya kritis, dan tanggung jawab sosial.

Workshop Simfoni Sastra menghadirkan sejumlah pemateri dari latar belakang sastra dan akademik yang berbeda. Bayu Suta Wardianto membawakan materi penulisan cerpen dengan menekankan pentingnya pengalaman hidup, konflik sosial, dan kedekatan dengan realitas masyarakat sebagai sumber penciptaan cerita.

Sementara itu, Tania Rahayu mengajak peserta memahami puisi sebagai ruang pengolahan kepekaan batin dan sublimasi pengalaman estetik. Adapun Ilham Rabbani menyoroti pentingnya penulisan esai sebagai latihan berpikir kritis mahasiswa dalam membaca persoalan sosial dan budaya.

Dalam kesempatan itu, Kepala Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP), Muhammad Fathan Al-Kubro menyampaikan bahwa Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban akan diarahkan menjadi ruang pembinaan kreatif bagi generasi penulis muda di lingkungan mahasiswa.

“Sastra tidak lahir dari teori semata, tetapi dari latihan, pembacaan, pengalaman hidup, dan keberanian menyampaikan gagasan. Karena itu, komunitas dan ruang belajar harus terus dihidupkan,” katanya.

Sementara itu, Ketua SABUDAYA Muhammad Sahal Anifan mengatakan komunitas tersebut dibangun sebagai rumah kreatif mahasiswa lintas disiplin yang ingin berkembang melalui dunia sastra, bahasa, dan budaya.

“Kami ingin SABUDAYA menjadi ruang belajar bersama, tempat mahasiswa bertumbuh melalui diskusi, kepenulisan, dan gerakan literasi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Secara kelembagaan, SABUDAYA telah menyusun draft AD/ART serta rancangan program kerja komunitas. Beberapa program yang akan dijalankan antara lain Literasi Mingguan, One Week One Work, pelatihan jurnalistik dasar, kelas penulisan puisi dan cerpen, reading club, bedah gaya selingkung media, hingga penerbitan karya anggota komunitas.

Kehadiran SABUDAYA juga memperlihatkan kesinambungan sejarah gerakan sastra Banyumas yang selama ini tumbuh melalui komunitas dan ruang literasi alternatif. Tradisi tersebut berkembang melalui berbagai komunitas seperti Komunitas Penyair Institut di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Rumah Kreatif Wadas Kelir, hingga Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban di lingkungan UIN Saizu.

Dari rahim gerakan sastra kampus itu lahir sejumlah penulis dan pegiat budaya Banyumas seperti Dimas Indianto, Wahyu Budiantoro, Dewandaru Ibrahim Senjahaji, dan Bagus Likurnianto yang aktif menulis dan mengembangkan kajian budaya Banyumasan.

Bagi sebagian peserta, workshop ini menjadi pengalaman pertama mengikuti forum sastra kampus. Banyak mahasiswa mengaku tertarik bergabung karena selama ini belum menemukan ruang kreatif yang mewadahi minat kepenulisan dan kebudayaan di lingkungan kampus.

Kehadiran SABUDAYA dipandang sebagai ruang baru untuk membaca, menulis, berdiskusi, sekaligus membangun jejaring kreatif antarmahasiswa. Workshop dan pelantikan pengurus SABUDAYA ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada para pemateri, sesi dokumentasi bersama, dan foto kolektif seluruh peserta.

Di tengah budaya digital yang serba cepat dan instan, lahirnya SABUDAYA menjadi penanda bahwa sastra dan kebudayaan masih menemukan rumahnya di kampus. Dari ruang kecil tersebut, generasi baru penulis Banyumas diharapkan kembali tumbuh dan menjaga denyut kebudayaan Indonesia. (AR)

 

Kampus Desa Mendunia!

 

#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *