Details

Ketua LPM UIN Saizu: Ramadan Harus Melahirkan Ibadah yang Berdampak pada Akhlak

UINSAIZU.AC.ID- Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Supriyanto mengungkapkan, Bulan Ramadan menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk melakukan evaluasi diri terhadap kualitas ibadah yang dijalankan.

Hal itu disampaikan Prof. Supriyanto saat memberikan tausiyah dalam program Lentera Ramadan UIN Saizu Purwokerto. Menurutnya, Ramadan selama ini dikenal sebagai bulan ibadah (syahrul ibadah) karena pada bulan tersebut umat Islam cenderung meningkatkan berbagai amalan keagamaan.

“Secara kuantitatif hampir bisa dipastikan bahwa ibadah kita meningkat di bulan Ramadan. Salat sunnah, tarawih, tadarus Al-Qur’an, hingga sedekah menjadi lebih sering dilakukan,” ujarnya. Ia menjelaskan, peningkatan aktivitas ibadah seperti salat tahajud, dhuha, tarawih, hingga tadarus merupakan fenomena yang umum terjadi setiap Ramadan.

Meski demikian, Prof. Supriyanto mengingatkan bahwa meningkatnya kuantitas ibadah belum tentu selalu diikuti dengan peningkatan kualitas akhlak. Oleh karena itu, ia mengajak umat Islam untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum memperbaiki perilaku sosial.

Menurutnya, ibadah seharusnya memberikan dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. “Ibadah mestinya berdampak pada perilaku sosial kita. Tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga membawa perubahan dalam sikap dan karakter,” jelasnya.

Dia mencontohkan pesan dalam Surah Al-Ma’un yang menyebutkan peringatan bagi orang yang melaksanakan salat tetapi lalai terhadap makna dan dampak dari ibadah tersebut. Ayat tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa ibadah tidak cukup hanya dilaksanakan secara formal, tetapi juga harus melahirkan kepedulian sosial dan etika dalam kehidupan.

Prof. Supriyanto menegaskan bahwa ritual ibadah dapat dilakukan oleh siapa saja, tetapi perubahan diri hanya dapat lahir dari ibadah yang benar-benar hidup dan dihayati. Ia menyebut konsep “ibadah yang hidup” sebagai ibadah yang tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga mengedepankan kualitas.

“Ibadah tanpa dampak etis hanya akan menjadi aktivitas spiritual yang garing dan hampa,” katanya. Dalam konteks puasa Ramadan, ia menjelaskan bahwa puasa seharusnya mampu melembutkan tutur kata, menenangkan emosi, dan menumbuhkan empati kepada sesama.

Menurutnya, jika seseorang tetap mudah marah, gemar menyakiti orang lain, atau merendahkan sesama meski sedang berpuasa, maka perubahan yang terjadi hanya sebatas pada pola makan. “Kalau setelah puasa kita masih emosional, masih mudah menyakiti orang lain, berarti yang berubah hanya jadwal makan, bukan karakter kita,” ujarnya.

Dia mengingatkan bahwa pesan tersebut bukan untuk meremehkan ibadah, tetapi sebagai pengingat agar setiap ibadah dilakukan dengan kesadaran penuh sehingga memberikan dampak positif bagi diri sendiri maupun lingkungan.

Di akhir pesannya, Supriyanto mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum menghadirkan ibadah yang hidup dan produktif, yaitu ibadah yang mampu melahirkan perubahan nyata dalam sikap, perilaku, dan kepedulian sosial.

Dia berharap seluruh umat Islam dapat menjaga kualitas ibadah selama Ramadan sehingga memperoleh keridaan Allah SWT. “Mari kita jadikan Ramadan sebagai bulan ibadah yang hidup, yang benar-benar berdampak dalam kehidupan kita,” pungkasnya. (AR/TA)

Kampus Desa Mendunia!

#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *