Details

Kepala UPT Perpustakaan UIN Saizu Presentasikan Gagasan Museum Penginyongan di Malaysia, Perkuat Diplomasi Budaya Banyumas

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Kepala UPT Perpustakaan UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Indah Wijaya Antasari, mempresentasikan inovasi bertajuk 'Museum dan Perpustakaan Penginyongan: Sebuah Tur Kuratorial Budaya Banyumas' di Perpustakaan Kuala Lumpur, Malaysia pada Selasa, 29 Juli 2026.

Inovasi itu disampaikan dalam forum internasional Literasi Perpustakaan Luar Negeri (LPLN) FPPTI Jawa Tengah di Malaysia. Gagasan tersebut mendapat sambutan hangat dari Persatuan Pustakawan Malaysia (PPM) dan membuka peluang kolaborasi internasional dalam pelestarian budaya, museum, serta pengembangan perpustakaan.

Kegiatan yang berlangsung pada 26-29 Juli 2026 tersebut menjadi wadah strategis bagi para pustakawan, akademisi, serta pengelola perpustakaan dari Indonesia dan Malaysia untuk bertukar gagasan mengenai pengembangan perpustakaan modern, inovasi layanan informasi, hingga pelestarian warisan budaya berbasis institusi perpustakaan.

Dalam presentasinya, Indah memperkenalkan konsep integrasi antara museum, perpustakaan, dan teknologi informasi sebagai media pelestarian budaya Penginyongan yang berkembang di wilayah Banyumas dan sekitarnya.

Melalui pendekatan kuratorial yang edukatif, perpustakaan diposisikan tidak hanya sebagai pusat penyimpanan koleksi, tetapi juga sebagai ruang belajar, ruang budaya, dan pusat dokumentasi sejarah yang mampu menjangkau masyarakat lintas negara.

Dalam paparannya, Indah menjelaskan bahwa keberadaan perpustakaan pada era digital harus mampu menjawab tantangan zaman dengan menghadirkan layanan yang lebih inovatif dan relevan bagi masyarakat. Salah satu langkah yang ditawarkan adalah pengembangan museum berbasis perpustakaan yang mengangkat identitas budaya lokal sebagai bagian dari ekosistem akademik.

Konsep Museum dan Perpustakaan Penginyongan dibangun atas gagasan bahwa warisan budaya tidak cukup hanya disimpan dalam bentuk arsip maupun koleksi buku, tetapi perlu dipresentasikan secara menarik melalui narasi kuratorial, dokumentasi digital, pameran edukatif, serta aktivitas literasi budaya yang mampu menghubungkan masyarakat dengan akar sejarahnya.

Menurut Indah, budaya Penginyongan memiliki kekayaan yang sangat besar mulai dari bahasa, sastra, sejarah, tradisi, seni pertunjukan, kuliner, hingga nilai-nilai kehidupan masyarakat Banyumas yang layak dikenalkan kepada masyarakat internasional.

Melalui perpustakaan, seluruh kekayaan tersebut dapat terdokumentasi secara sistematis sekaligus dipelajari oleh generasi muda maupun peneliti dari berbagai negara. "Warisan budaya akan tetap hidup ketika terus dipelajari, didokumentasikan, dan dibagikan kepada dunia," ungkap Indah.

Dia menambahkan bahwa perpustakaan memiliki posisi strategis sebagai ruang kolaborasi antara ilmu pengetahuan, sejarah, budaya, dan teknologi sehingga mampu menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat lokal dengan komunitas global.

Gagasan yang dipresentasikan tidak hanya berbicara mengenai pengelolaan perpustakaan, tetapi juga bagaimana institusi akademik dapat berperan aktif dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal di tengah derasnya arus globalisasi.

Melalui Museum dan Perpustakaan Penginyongan, budaya Banyumas diperkenalkan kepada peserta forum internasional sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang memiliki nilai historis, akademis, sekaligus edukatif.

Dalam konsep tersebut dijelaskan bahwa perpustakaan dapat menjadi ruang pelestarian: Warisan sejarah Banyumas, Bahasa dan dialek Penginyongan, Naskah serta manuskrip lokal, Tradisi dan kearifan masyarakat, Arsip budaya digital,
Koleksi multimedia berbasis budaya dan Dokumentasi penelitian mengenai Banyumas.

Selain itu, konsep museum berbasis perpustakaan juga diharapkan mampu menjadi destinasi edukasi bagi mahasiswa, peneliti, wisatawan, hingga masyarakat umum yang ingin mengenal lebih dekat budaya Penginyongan. Paparan yang disampaikan Indah memperoleh respons yang sangat positif dari para peserta forum, khususnya jajaran Persatuan Pustakawan Malaysia (PPM).

Sejumlah tokoh PPM seperti Ghozali, Siti, dan Anita memberikan apresiasi terhadap inovasi yang dikembangkan UPT Perpustakaan UIN Saizu. Mereka menilai konsep tersebut memiliki nilai strategis dalam memperluas fungsi perpustakaan sebagai pusat pelestarian budaya sekaligus sarana pendidikan masyarakat.

Menurut para peserta, model pengembangan museum berbasis perpustakaan yang mengangkat identitas budaya lokal merupakan inovasi yang menarik dan dapat menjadi inspirasi bagi berbagai institusi perpustakaan di kawasan Asia Tenggara.

Apresiasi tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan tidak lagi dipandang semata sebagai penyedia layanan informasi, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga memori kolektif masyarakat melalui pelestarian budaya. Setelah sesi presentasi berlangsung, forum dilanjutkan dengan diskusi yang berjalan sangat interaktif.

Berbagai pertanyaan diajukan peserta mengenai strategi digitalisasi koleksi budaya, pengembangan museum akademik, pemanfaatan teknologi informasi, hingga model kolaborasi antarperpustakaan di tingkat internasional.

Diskusi juga membahas peluang kerja sama dalam berbagai bidang, antara lain penelitian bersama mengenai budaya lokal, pengembangan museum berbasis perguruan tinggi, digitalisasi koleksi budaya, pertukaran pustakawan dan akademisi, 
penyelenggaraan seminar internasional dan pertukaran informasi serta publikasi ilmiah.

Forum tersebut menjadi momentum penting dalam membangun jejaring profesional antara pustakawan Indonesia dan Malaysia. Keikutsertaan Kepala UPT Perpustakaan UIN Saizu merupakan bagian dari agenda Literasi Perpustakaan Luar Negeri (LPLN) FPPTI Jawa Tengah yang diselenggarakan untuk memperkuat kapasitas pustakawan Indonesia melalui pengalaman internasional.

Program ini juga menjadi sarana memperluas jejaring kerja sama antara perpustakaan perguruan tinggi Indonesia dengan berbagai institusi perpustakaan di luar negeri.

Selama kegiatan berlangsung, peserta mengunjungi sejumlah institusi pendidikan dan perpustakaan di Malaysia untuk mempelajari praktik terbaik dalam pengelolaan perpustakaan modern, transformasi digital, serta pengembangan layanan berbasis teknologi.

Partisipasi UIN Saizu dalam forum internasional tersebut sekaligus mempertegas komitmen universitas dalam mendukung internasionalisasi perguruan tinggi. Tidak hanya melalui kerja sama akademik dan penelitian, internasionalisasi juga diwujudkan melalui diplomasi budaya yang memperkenalkan kekayaan lokal kepada masyarakat dunia. (AR)

Kampus Desa Mendunia!

#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *