Details

Jadi Keynote Speaker Forum Internasional: Rektor UIN Saizu Bahas Masa Depan Agama, Humanitas, dan Spiritualitas

UINSAIZU.AC.ID- Rektor UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Ridwan menjadi keynote speaker dalam pembukaan kegiatan The 1st FAITHS FUAH (Annual International Talks on Humanities and Spirituality), Selasa (17/6/2025).

Acara bertaraf internasional ini diselenggarakan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (FUAH). Berlangsung di Hall Perpustakaan UIN Saizu Purwokerto, kegiatan ini mengusung tema "Exploring Southeast Asia: Intersections of Islam, Culture, and Humanities."

Forum ini membahas berbagai persoalan kontemporer seputar peran agama dalam kehidupan sosial, tantangan kemanusiaan, dan pencarian makna spiritualitas di tengah dunia yang semakin kompleks.

Kritik Terhadap Agama dan Pentingnya Reinterpretasi

Prof. Ridwan menyoroti narasi pesimistis terhadap agama seperti yang ditulis AN Wilson dalam bukunya "Against Religion". Wilson memandang agama sebagai sumber kekerasan dan konflik. Namun, menurut Prof. Ridwan, perspektif itu tidak sepenuhnya benar.

Ia menegaskan bahwa setiap agama pada dasarnya membawa pesan humanisme yang universal. “Tidak ada satu pun agama yang mengajarkan kekerasan atau kejahatan kemanusiaan. Yang keliru adalah interpretasi terhadap ajaran agama,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa agama lahir sebagai respons atas ketimpangan sosial. Dalam Islam, misi kenabian hadir untuk mereformasi sistem jahiliyah, seperti ketidakadilan ekonomi (riba), ketimpangan gender, dan penindasan politik.

Humanitas sebagai Titik Temu

Konsep humanity atau kemanusiaan ditegaskan sebagai nilai esensial yang melampaui batas-batas suku, bangsa, dan gender. Prof. Ridwan mengutip Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13, bahwa perbedaan di antara manusia adalah bagian dari kehendak Tuhan.

“Keragaman bukan alasan untuk berseteru, melainkan panggilan untuk saling memahami,” jelasnya. Namun sayangnya, ikatan primordial berbasis simbol sering kali mengaburkan nilai kemanusiaan sejati dalam agama.

Prof. Ridwan menjelaskan bahwa spiritualitas seharusnya menjadi wadah untuk membingkai nilai kemanusiaan, bukan untuk menghakimi. Setiap agama memiliki visi universal tentang kehidupan yang baik, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat.

Jika ada praktik keagamaan yang menindas, menurutnya itu bukan kesalahan agama, melainkan penyelewengan tafsir terhadap ajaran suci.

Sebagai penutup, Rektor UIN Saizu mendorong pentingnya menghidupkan dialog lintas iman (interfaith dialogue) dan merumuskan platform bersama untuk menciptakan harmoni sosial dan keagamaan.

“Kita perlu membangun pemahaman agama yang terbuka, menghindari kacamata kuda, dan tidak terpaku pada klaim kebenaran tunggal,” ungkapnya.

Ia juga mengajak semua elemen untuk mewujudkan aksi nyata dalam membangun kehidupan bersama yang toleran dan damai, melintasi batas agama, etnis, dan budaya. (AR)

UIN Saizu Maju, UIN Saizu Unggul!!!

#UINSaizu #UINSaizuMaju #Internasionalisasi #PTKIN #WorldClassUniversity

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *