Indonesia, Ibu yang Melahirkan Kita; Ilmu, Cahaya yang Menghidupkan Kita
Pesan K.H. Zawawi Imron untuk Wisudawan UIN Saizu

UINSAIZU.AC.ID- Di hadapan para wisudawan UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto pada Selasa, 25 November 2025, yang duduk dengan wajah-wajah penuh harapan, K.H. Zawawi Imron berdiri dengan kehangatan yang memancar seperti matahari pagi di pesisir kampung halamannya.
Suaranya lembut, namun membawa gelombang makna yang menghentak nurani. Ia tidak sekadar memberi sambutan ia membukakan jendela wawasan, membelai hati, dan mengajak semua yang hadir untuk memaknai Indonesia, ilmu, dan masa depan dengan cara yang lebih dalam.
Dalam sambutannya, K.H. Zawawi memulai dengan sebuah kisah yang ia bawa dari tahun 1964, tahun ketika Presiden Soekarno menggelar Konferensi Islam Asia Afrika. Saat itu, hadir seorang ulama besar dari Mesir, Prof. Mahmud Syaltut, Rektor Universitas Al-Azhar. Ketika menginjak tanah Indonesia, Prof. Syaltut tertegun, terpesona, terpikat.
Apa yang ia lihat?
Gunung-gunung biru yang menjulang tanpa awan. Pagi keemasan yang menghampar bagai permadani langit. Buih-buih putih yang mengejar bibir pantai. Daun-daun nyiur yang melambai seperti sahabat lama yang tak pernah letih menyambut nelayan pulang dari laut.
Lalu Prof. Syaltut berbisik dalam bahasa Arab kepada Soekarno: “Indonesia adalah potongan surga yang diturunkan Allah ke bumi.” K.H. Zawawi menegaskan, itu bukan sekadar pujian. Itu adalah pengakuan seorang alim tentang keindahan yang Allah amanahkan pada bangsa ini.
Dan pada 2023, dunia kembali mengakui Indonesia dinobatkan sebagai salah satu negeri terindah di muka bumi. Maka, karena Indonesia indah, ia hanya dapat dirawat oleh manusia-manusia yang hatinya indah.”
K.H. Zawawi menatap para wisudawan dengan perlahan, seakan ingin menatap satu per satu. “Anakku,” katanya, “hari ini lahir khalifah-khalifah baru yang akan mengurus Indonesia.”
Ia mengingatkan: sebesar apa pun keindahan negeri ini, ia bisa rusak bila diurus oleh hati yang rusak. Namun akan makmur bila dirawat oleh orang-orang beriman, berhati bersih, dan berjiwa indah.
Karena itu, menurutnya, lulusan perguruan tinggi Islam memiliki tugas yang lebih besar daripada sekadar mencari pekerjaan. Mereka adalah penyambung doa para ulama penerus cahaya kebaikan di bumi.
Dengan gaya khas seorang penyair, K.H. Zawawi mengalihkan pembicaraan kepada hubungan sakral antara murid dan guru. “Siapa yang mencerdaskan kalian?” tanya dia. “Dosen,” jawab mahasiswa. “Maka hormatilah mereka.” timpalnya.
Ia menolak menyebut dosen sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, sebab bagi K.H. Zawawi, jasa para dosen justru sangat tampak, sangat wangi, sangat melekat dalam kehidupan mahasiswa-nya.
Pantun pun meluncur dari bibirnya:
Buah mentimun, buah tomat,
Di atas nyiur, jawabannya tepat.
Jika ilmu ingin manfaat,
Hormati dosen sebagai pahlawan yang hebat.
Seketika hadirin pun tersenyum mendengar bait-baitnya.

Dalam sambutannya, K.H. Zawawi kembali ke akar kehidupan: keluarga. “Sembilan bulan ibu mengandungmu,” katanya pelan. “Dan sampai hari ini kita makan dari tangan ayah dan ibu. Maka ada hutang yang tak akan mampu kita bayar kepada mereka.”
Ia lalu membawa makna "ibu" ke tingkat yang lebih luas ibu yang lain, ibu yang melahirkan seluruh bangsa ini: Indonesia. Jika suatu hari para wisudawan menjejakkan kaki di negeri jauh, dan seseorang bertanya, “Siapa ibumu yang pertama?” Jawabnya, menurut K.H. Zawawi, hanyalah satu: Indonesia.
Kita minum airnya.
Kita makan buahnya.
Kita menghirup udaranya.
Kita bersujud di atas tanahnya.
Dan kelak, kita pun akan kembali ke bumi Indonesia.
“Maka,” ujarnya, “tidak ada alasan untuk tidak mencintai Indonesia.”
K.H. Zawawi mengingatkan bahwa kepintaran dapat dipelajari, diajarkan, diturunkan melalui kelas dan buku. Namun kebijaksanaan kemampuan untuk menjadi manusia yang benar, bersyukur, dan taat kepada Allah itu karunia.
Ia menutup bagian ini dengan filosofi Jawa: “Dadi wong pinter kuwi gampang. Nanging dadi wong bener, kuwi durung tentu.” (Jadi orang pintar itu mudah. Tapi menjadi orang benar, belum tentu)
Menjelang akhir esai, ia mengutip ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dari bumi dan diberi tugas untuk memakmurkan bumi.
“Jadi siapa yang wajib memakmurkan Indonesia?” tanya K.H. Zawawi.
“Orang lain?”
“Orang asing?”
“Para malaikat?”
“Tidak,” jawabnya tegas.
“Yang memakmurkan Indonesia adalah kalian putra dan putri Indonesia.” Inilah tanah sajadah kita. Tempat kita menanam dan menuai kebaikan. Tempat kita berbuat yang terbaik sebelum berpindah ke alam kekal.
Pada penutup sambutannya yang puitis, K.H. Zawawi menatap para wisudawan dengan haru. “Purwokerto, terimalah mahasiswa yang kutinggalkan hari ini. Tapi senyum mereka… akan kubawa pergi.”
Ia mengakhiri dengan pantun yang membuat auditorium tersenyum:
Pohon meriama berbuah kedondong,
Sekian dulu, saya pamit dong.
Dan tepuk tangan pun menggema, bukan hanya karena esai itu indah, tetapi karena setiap kalimatnya menghidupkan kembali rasa cinta kepada ilmu, kepada guru, kepada orang tua, dan yang paling utama kepada Indonesia.
Turut menyampaikan sambutan, Wakil Wisudawan UIN Saizu Purwokerto, Wita Azqi Fitria yang merupakan lulusan terbaik Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Dia sebelumnya dikenal melalui kompetisi AKSI Indosiar.
Dalam sambutannya yang disampaikan dalam tiga bahasa yaitu Arab, Inggris, dan Indonesia, Wita menyampaikan pesan reflektif tentang takdir dan perjuangan. “Sekeras apapun kemauan seseorang, ketika berhadap-hadapan dengan takdir ia hanya menyentuh kemungkinan-kemungkinan.
Maka berdoalah teman-teman bersama. Semoga keinginan kita selalu diwujudkan dalam waktu yang tepat. Dan menjadi alumni UIN Saizu yang hebat. UIN Saizu Hebat Bermartabat,” tuturnya. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuPurwokerto #UINSaizuMaju #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!