Implementasi Kurikulum OBE di UIN Saizu, Library Festival Vol. 2 Kenalkan Kekayaan Budaya Nusantara Lewat Pameran Kreatif

UINSAIZU.AC.ID- Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi (Prodi PSI) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto kembali menunjukkan implementasi nyata Kurikulum Outcome-Based Education (OBE) melalui penyelenggaraan Library Festival Vol. 2.
Mengusung tema “Wisata Nusantara: Mengenal Budaya, Menguatkan Karakter Bangsa”, kegiatan ini digelar di Lobi Gedung Sains dan Teknologi Kampus II UIN Saizu di Purbalingga, pada Selasa (23/6/2026). Festival ini diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) PSI.
Library Festival Vol. 2 merupakan luaran pembelajaran mata kuliah Manajemen Lembaga Informasi Non Perpustakaan yang diampu Dosen PSI, Rheza Ega Winastwan. Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan ke dalam bentuk karya nyata berupa pameran budaya Nusantara.
Kegiatan ini melibatkan mahasiswa semester 2 kelas PSI A dan PSI B sebagai bagian dari penerapan konsep pembelajaran berbasis hasil atau Outcome-Based Education (OBE). Melalui festival tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori di ruang kelas, tetapi juga ditantang untuk menghasilkan produk pembelajaran yang dapat dinikmati masyarakat luas.
Rheza Ega Winastwan menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk melatih mahasiswa dalam memahami konsep information repackaging atau kemas ulang informasi, yang menjadi salah satu kompetensi penting dalam bidang perpustakaan dan sains informasi.

“Mahasiswa tidak hanya mengumpulkan informasi mengenai suatu daerah, tetapi juga harus mampu mengemasnya menjadi sajian yang kreatif, menarik, mudah dipahami, dan mudah diakses oleh pengunjung. Kemampuan ini menjadi kompetensi penting bagi calon pengelola lembaga informasi,” ujarnya.
Dalam penyelenggaraan Library Festival Vol. 2, terdapat enam kelompok mahasiswa yang masing-masing mengangkat tema budaya dari berbagai daerah di Indonesia, yakni Tana Toraja, Sumba, Jakarta, Semarang, Bali, dan Yogyakarta.
Setiap kelompok menampilkan beragam informasi mengenai potensi wisata budaya daerah yang mereka angkat. Materi pameran mencakup tradisi lokal, pakaian adat, ikon budaya, hingga kuliner khas yang menjadi identitas masing-masing daerah.
Berbagai inovasi turut ditampilkan untuk menarik perhatian pengunjung. Mulai dari dekorasi stan bertema budaya, media visual interaktif, penyajian informasi kreatif, hingga penyediaan makanan khas daerah yang memungkinkan pengunjung merasakan langsung kekayaan budaya Nusantara.
Wakil Dekan I Fakultas Sains dan Teknologi UIN Saizu, Dr. Fajar Hardoyono memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, Library Festival menjadi contoh konkret bagaimana Kurikulum OBE diterapkan dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi.
Dia menegaskan bahwa implementasi OBE harus menghasilkan dampak nyata dan produk pembelajaran yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. “Implementasi Kurikulum OBE harus berdampak dan menghasilkan sebuah produk. Kegiatan pameran ini menjadi bagian dari penerapan teori yang telah dipelajari mahasiswa di kelas,” katanya.

Library Festival Vol. 2 merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa yang telah sukses dilaksanakan pada tahun 2024. Selain menjadi sarana promosi budaya Nusantara, festival ini juga berfungsi sebagai media pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk mengembangkan berbagai kompetensi penting.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dilatih dalam pengelolaan informasi, kemampuan komunikasi publik, kreativitas, manajemen kegiatan, serta pengelolaan lembaga informasi non perpustakaan.
Kemampuan-kemampuan tersebut dinilai sangat relevan dengan kebutuhan dunia kerja di era digital, di mana pengelolaan dan penyajian informasi menjadi aspek yang semakin penting.
Library Festival Vol. 2 terbuka bagi mahasiswa maupun masyarakat umum. Kehadiran festival ini menjadi ruang edukatif yang mempertemukan pengunjung dengan beragam kekayaan budaya Indonesia dalam satu lokasi.
Melalui pameran tersebut, pengunjung dapat mengenal lebih dekat berbagai tradisi, destinasi wisata budaya, kuliner khas, hingga nilai-nilai lokal yang menjadi bagian dari identitas bangsa.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa lembaga pendidikan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pembelajaran akademik, tetapi juga sebagai ruang pelestarian budaya dan penguatan karakter bangsa melalui inovasi pendidikan berbasis hasil. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!